Pain

8.8K 911 35
                                        

Para anggota Red Moon Pack sekarang sedang berkumpul riuh di dekat kamar King. Mereka masih tidak percaya bahwa King telah dibunuh. Mark dalam kondisi sangat gusar, tetua Sandara mengamit lengan Mark dan membawa Mark ke tempat yang lebih sepi.

"Mark, kita harus mengejar Haechan. Kurasa ia belum terlalu jauh. Sehebat apapun kedua Elder tersebut, ini tetaplah teritori kita, wilayah kita. Dan hanya anggota Red Moon yang tahu seluk beluk hutan, bukankah hutan Red Moon memiliki banyak sekali rintangan dan jebakan? Aku yakin 40 Alpha bodoh yang menyerang tadi hanyalah sisa-sisa dari banyaknya Alpha yang seharusnya datang."

Mark tertegun. Tetua di hadapannya benar.

"Kau pasti tahu jalan tercepat menuju perbatasan, benar tidak? Jika ya, aku ikut denganmu. Perasaanku tidak pernah salah, dan aku merasakan ganjalan besar jika kita tidak mengejar Haechan sekarang. Biarkan Johnny dan anggota pack yang mengurus jenazah King. Kita masih memiliki hal penting yang harus diselesaikan!"

Mark mengangguk tanpa ragu. Ia segera melakukan shifting menjadi Black, dan tetua Sandara dengan cepat menaiki serigala hitam di depannya, berpegangan dan kemudian melesat keluar mansion dengan lolongan.

"Marcus memutuskan mengejar Haechan, Haechan dibawa mereka...."

Lucas yang mendengar lolongan tersebut cukup paham dengan artinya, Renjun menatap Lucas disampingnya dengan tatapan memelas. Ingin bersuara namun belum mampu. Padahal ada banyak yang harus dia sampaikan. Adanya Renjun di Red Moon tadi sebenarnya seperti surat terbuka yang sengaja diberikan oleh Elder kembar bahwa mereka tahu adanya pembelot si pack, sekaligus pengulur waktu karena Elder yang lebih tua tahu bahwa Renjun memiliki mate di Grey Moon.

--

"Wah kau dengar itu? Itu lolongan Black, serigala kekasihmu sayang. Dia mengejar kita."

Jaehyun mengelus pipi tembam Haechan yang sudah dipenuhi air mata. Tubuh Haechan ada di atas seekor serigala putih, Zero. Serigala dari Jeno.

"Lepaskan aku, Hyung. Kumohon.. kenapa kalian melakukan ini.. hiikss..."

Haechan hampir tersedak liur nya sendiri saking banyaknya menangis sejak pintu kamar Mark didobrak.

Tok..tok....tok

Haechan menatap pintu di depannya. Rasanya baru 5 menit lalu Mark pergi menuju pintu gerbang mansion untuk membantu Packnya melawan segerombolan serigala. Sudah kembali? Cepat sekali.

Haechan berjalan pelan menuju pintu. Tangannya mau membuka kunci, namun suara Mark di kepalanya seakan memperingatinya,

"Jangan membuka pintu jika bukan aku yang datang. "

Haechan beringsut mundur.. ingin memastikan terlebih dahulu siapa yang mengetuk pintu kamar Mark. Suara Haechan sedikit bergetar.

"Si...siapa? Siapa itu? Mark??"

Tok.. tok.. tok...

Ketukan pintu kembali terdengar kali ini lebih keras. Haechan semakin mundur. Mulai merasakan pheromone yang ia yakini milik Alpha dibalik pintu itu menguar menembus kamarnya. Rasanya familiar. Haechan pernah menghirup aroma ini..

"Siapa itu? Pe..pergi!!"

Haechan semakin berteriak histeris saat mendengar suara ketukan berubah semakin keras, menjadi dobrakan kasar di pintu besar kamar Mark. Haechan beringsut mundur, air matanya lolos begitu saja. Netranya berubah keemasan kelam karena ketakutan yang luar biasa. Dobrakan semakin keras, pintu kamar Mark semakin goyah. Siapapun dibalik pintu itu pastilah sangat kuat.

BRAKKKKK

Haechan terkesiap tidak bernafas saat terbukanya pintu, aroma pheromone maskulin yang sangat kuat menyeruak menghantam indra penciuman Haechan. Ditambah sosok tersenyum yang ternyata dikenalnya sedang berdiri di depan pintu kamar Mark membuat Haechan lemas.

SIGMA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang