Haechan berlari menembus hutan. Ia tidak tahu arah, jujur saja. Kaki telanjangnya melangkah tanpa tujuan. Peluh mengucur di tubuhnya tapi Haechan tidak peduli. Pun dengan telapak kakinya yang terluka karena menginjak ranting tajam ataupun bebatuan kasar. Darah mulai mengiringi jejak langkah Haechan yang terus masuk ke hutan.
Haechan bahkan tidak tahu sekarang ia berada di kawasan mana. Mau kembali ke Red Moon juga Haechan tidak bisa. Mark sudah menolaknya. Dan tetap berada di Grey Moon pun rasanya Haechan bisa gila karena tidak dapat mengendalikan tubuh dan pikirannya jika terpengaruh ramuan tetua Jisoo.
Haechan sendirian. Nafasnya tersengal, netranya melihat sekeliling, rimbunnya pepohonan seakan menertawakannya. Air mata Haechan sudah kering. Dadanya sakit sekali, berdenyut-denyut mengingat Mark yang menghindari sentuhannya. Tapi Haechan paham, Alpha manapun pasti tidak akan menerima jika mate-nya mengandung benih Alpha lainnya.
Haechan menyentuh perutnya yang masih rata. Terngiang-ngiang ucapan Jaehyun dan Jeno yang selalu berkata bahwa ini adalah takdir Haechan. Bolehkah Haechan melawan takdirnya? Atau menerima begitu saja? Tangan Haechan mendadak tremor parah. Haechan berusaha mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
Haechan berteriak melengking di tengah heningnya hutan sambil duduk menumpu pada lututnya. Tubuhnya meledakkan ketujuh aroma wewangian yang berasal dari pheromone-nya. Dalam teriakannya yang berulang selama beberapa menit, Haechan terus menguarkan aromanya sampai batas yang bisa Haechan tahan.
"Hahhhhhh,,..... Hahhhh.... Heunggggg.... Huhuhuuuuu...."
Haechan kembali berdiri, bertumpu sebentar pada pohon yang menjulang, kembali melangkahkan kakinya yang meninggalkan jejak darah di hutan. Hutan yang menjadi saksi betapa nyerinya hati Haechan malam ini.
--
Di mansion Red Moon, Mark yang sedang diperiksa leher dan pita suaranya oleh tetua Sandara, mendadak berdiri, berlari tergesa keluar mansion Red Moon.
Mark berhenti tepat di gerbang mansion, menghadap hutan kawasan Red Moon yang nampak gusar karena dedaunan yang tertiup angin menimbulkan suara gemerisik lirih.
Mark menghirup udara di sekelilingnya, netranya seketika berubah menjadi zamrud menyadari bahwa hutan menyalurkan aroma Haechan yang sangat kuat. Dari belakang, tetua Sandara, Jaemin, Renjun dan beberapa anggota Red Moon menyusul. Terkesiap saat mencium aroma wewangian yang begitu beragam di malam yang gelap.
"Njun... Ini...."
"Haechan.. Na, ini aroma Haechan.. tapi.."
Renjun meneteskan air matanya. Tidak hanya Renjun, Jaemin dan yang lainnya juga dapat merasakannya. Aroma-aroma yang tercium sangat manis, wangi dan memikat... Namun entah kenapa menghirup wewangian dari pheromone Haechan yang menguar di udara saat ini seakan menyayat hati.
Harum yang pedih, wangi yang sakit.
Mark jatuh terduduk, iris zamrud-nya beriak air.. dadanya berdenyut nyeri seakan merasakan kesakitan hati dari mate-nya yang sedang pedih.
Marcus, Haechan... Kenapa kau tidak membawanya? Kupikir kau tahu bahwa itu bukan keinginannya. Bukankah telingamu mendengar semua ucapan Haechan saat kau tidak sadar?
Mark terdiam mendengar mindlink dari Black. Berdiri, bergegas menyusuri hutan mencari Haechan.
Aku punya alasan meninggalkannya. Aku punya alasan.
--
Di waktu yang sama, Jeno menghampiri Jaehyun yang berusaha mengendalikan dirinya sendiri dari Sigma Tone Haechan. Johnny mendekati Lucas dan Ten. Ten paling parah, Omega itu benar-benar sesak nafas karena aroma tajam Haechan tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
SIGMA [END]
LobisomemHaechan. Omega yang memiliki aroma aneh yang tidak disukai para Alpha karena ada beberapa aroma yang tidak seharusnya omega miliki. Omega hanya bisa memiliki aroma manis bukan? Ah, karena usia Haechan belum genap 18 tahun sesungguhnya identitas seku...
![SIGMA [END]](https://img.wattpad.com/cover/344885459-64-k247042.jpg)