Genk thirteen sudah berkumpul bersama di parkiran sebelum pulang.
"Guys, gimana kalo hari ini kita kumpul lagi." ucap Arkha.
"Boys time maksudnya?" ucap Setta.
"Yoi, kayanya seru." Hesa menoleh kearah Arkha yang ternyata balik menatapnya, mereka memikirkan strategi berulang yang sama.
"Wah seru nih, kumpul dimana." ucap Satya.
"Rumah gue kosong," ucap Arkha.
"Gue juga, di gue ajalah buat sekarang," Joan.
"Ini buat ntar malem kan, sekalian nginep?" ucap Setta.
"Kalo mau dari sekarang juga boleh kok," ucap Joan.
"Nanti malem aja Jo, kayanya masing2 punya urusan buat siang gini." ucap Satya.
Hesa berfikir sejenak, sebenarnya bila mengawasi temanya mulai sekarang akan lebih aman. Tapi mereka juga sepertinya memang harus pulang terlebih dahulu, untuk membersihkan diri atau mengobrol juga dengan anggota keluarga mereka.
"Iyanih, gue mau pergi ke toko dulu dulu, jadi paling ntar sore ke rumah loe Ji," ucap Setta.
"Pergi sendiri Set?" ucap Arkha.
"Iyalah, siapa yang mau nganter gue, kebetulan kan ada driver online," ucap Setta.
"Sama gue aja Set, gue juga lagi nyari buku," ucap Satya.
Hesa yang hampir angkat bicara itu tak jadi menyela, tadinya dia akan menawarkan diri juga bila Setta benar2 tak ada teman pergi.
"Yaudah Sat, janjian dimana, halte Deket sini aja?" ucap Setta.
"Gak, ntar aja gue yang kerumah loe," ucap Satya.
"Oh oke," ucap Setta.
~~~~~
Hesa baru saja menginjakan kaki dirumahnya, ia segera menaruh makanan yang sebelumnya ia beli di resto.
"Mending gue kasih makanan atau buah ya?"
Hesa menatap bungkus makanan di depannya itu. Ia rencananya akan pergi ke market membeli tambahan bahan makanan untuk nanti di bakar di rumah Joan, karna anak itu memang mengajak membakar daging.
Tapi pulang sekolah tadi kebetulan Hesa tak melewati market, ia hanya lewat restoran saja.
Hesa kepikiran si pemuda bersurai merah, ia berniat untuk menjenguk namun bingung dengan makanan yang ingin dibawanya untuk menjenguk.
"Dahlah yang ada aja,"
Hesa lalu mengambil bungkus makanan itu dan segera bergegas berjalan ke pintu keluar, namun sebelum sampai, bel berbunyi lebih dahulu.
Kriettt.
Pintu terbuka yang lalu menampakan si pemuda di pikiran Hesa.
"K-Kayn,"
"Kak, sorry gue boleh minta bumbu dapur gak dikit aja, soalnya gue lagi masak tapi kurang bumbu," ucap Kayn.
"Kompornya udah dimatiin dulu?" ucap Hesa.
"Udah kak, gue takut kelamaan, ntar malah ada hal buruk," ucap Kayn.
Hesa langsung menarik Kayn masuk kedalam, yang reflek membuat pemuda bersurai merah itu terkejut.
"K-Kenapa kak?"
"Duduk," suruh Hesa sembari menunjuk sofanya.
"I-Iya," Kayn mengikuti perkataan pemuda itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Can't See Mee
FanfictionBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
