"Joanan Xavero, gue dateng buat jemput loe,"
"K-Kak Hesa?"
Joan mulai membuka matanya perlahan, melirik keadaan sekitarnya yang terlihat berantakan.
Jelas sekali sekarang ia berada di sebuah gudang.
"Bisa bisanya gue gak sadar kalo dia bukan kak Hesa," grutunya sembari menggerakan tangannya yang diikat kebelakang, berusaha melepaskan ikatan tali disana.
"Dua pilihan, ditumbalin atau dibunuh? Atau malah keduanya."
Joan menatap ngeri corak aneh yang tergambar diatas semen itu, tepat di sekitar kursi tempatnya terikat.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Rik, foto loe jelek banget, fotonya sambil nunduk gini mana keliatan,"
"Lah dia kan lagi pingsan, mana bisa gue benerin,"
"Bisa, kalo gak bisa ya cari angle lain yang lebih jelas,"
"Aelah Won, mereka kan temenya, pasti hafal lah meskipun agak gak jelas gini,"
"Hm bisa jadi sih,"
Pintu lalu terbuka, menampakan dua sosok yang sebelum nya berbincang.
"Oh udah bangun ternyata," Jungwon lebih dulu menghampiri si kembaran.
"Perlukah gue foto ulang?" sindir Riki.
"Boleh, tapi kayanya lebih bagus kalo gue hajar dia dulu supaya ada sedikit hiasan," ucap Jungwon.
"Wow, lebih dramatis ya," timpal Riki. Ia lalu mengangkat ponselnya.
"Sialan! Ngapain kalian foto gue?!" ucap Joan.
"Ya buat kasih kabar lah ke temen2 loe," Jungwon mengambil ponsel dari Riki lalu menunjukan tampilan chat grup genk thirteen, dimana Riki sudah mengirimkan foto Joan yang sempat diambilnya.
"Kita perlu bunuh satu persatu member thirteen tapi sampai sekarang belum ada satupun yang mati diantara mereka," ucap Riki sambil memperhatikan Joan dengan senyum lebarnya.
Jungwon mengerti apa yang ada dipikiran Riki, mereka sepertinya bisa mengeksekusi dulu mangsa yang sudah di depan mata.
"Jujur sih gue pengen, tapi rencana kak Heeseung, anak ini bakal dipake buat mancing Arkha." Jungwon memasukan tangannya ke saku jaket untuk mengambil sesuatu.
"Dari cerita loe, si merah berusaha ikut campur kan? Dan ini bukan dimensi kita,"
Srettt.
"Akh!" Joan seketika merasakan ngilu ketika Jungwon menyayat lehernya tanpa aba2.
"Bukan dimensi kita, jadi lebih baik kita bikin tambahan proteksi lagi kan,"
Jungwon memindahkan sedikit darah dari leher Joan ke sisi tumpul pisau lipatnya lalu mulai menggoreskan di pipi Joan.
Joan tentu tak tinggal diam, ia menggerakan kepalanya meskipun area lehernya masih sangat ngilu.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Can't See Mee
FanfictionBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
