Udara dingin di malam itu sudah semakin menusuk, Kayn memperhatikan sejenak gerbang kosan yang sudah berada di depannya.
"Udah sih, sesuai rencana,"
Bisikan tersebut membuat Kayn menghela nafas berat.
"Maaf Kal, gue gak jago akting,"
"Bukan karna akting loe doang kok, santai aja Kay,"
Kayn melangkah perlahan memasuki kosan dan berjalan menuju unit yang ditinggalinya.
Ting!
Setelah menekan password yang benar, pintu kosanya pun terbuka. Ia melihat Hesa yang duduk di ruang tamu.
"Kak Hesa, kok loe bisa ada disini? Tadi kan loe pergi ke unitnya kak Jae," ucap Kayn.
"Itu gak penting lagi," ucapnya dingin seraya menujuk beberapa benda yang tertumpuk di atas meja di depannya.
"Buku catatan, figura foto, nametag. Bisa loe jelasin?"
Kayn langsung meraih semua barang(yang sengaja diinggalkan) itu.
"Name tag ini emang nama asli gue," ucap Kayn.
"Terus kenapa loe nyamar jadi orang yang udah mati," ucap Hesa.
"Gue cuma mau bales dendam atas kematian dua temen gue," Kayn menaruh kembali figura foto di meja.
"Jadi, Sakala sama Jihan itu temen loe?" ucap Hesa.
"Ya. Sebelum mati, Jihan sempet cerita semuanya ke gue tentang loe yang kena teror juga kaya dia ataupun Sakala," ucap Kayn.
Hesa lalu mengeluarkan sticky note yang selama ini di dapatnya.
"Ini dari loe," ucap Hesa.
Kayn mengangguk sebagai jawaban.
"Apa loe bermaksud ngajak gue kerja sama?" ucap Hesa.
"Ya," ucap Kayn.
"Kenapa loe gak pake nama asli loe aja, kenapa harus nyamar jadi temen loe," ucap Hesa.
"G-Gak bisa, Jihan bilang mendingan gue jaga2 biar gak kejadian hal buruk," ucap Kayn.
Hesa menghela nafasnya kasar, ia menoleh ke arah si pemilik unit yang masih berdiri menjinjing kantung kresek.
"Ngapain belum duduk?" ucap Hesa.
Kayn yang sedang menunduk itu sedikit tersentak mendengar perkataan Hesa.
"E-Eh iya kak,"
Buru saja ia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Hesa.
Aura pemuda itu sedang sangat dingin dan seram sekarang sampai membuat Kayn selaku pemilik unit ini malah lupa tempat ini miliknya.
"Di notebook itu, loe keliatan komunikasi sama seseorang yang loe panggil 'As'," ucap Hesa.
"Gue udah cerita sama loe kalo gue punya alter ego," ucap Kayn.
"Beneran alter ego loe?" ucap Hesa.
"I-Iya, emang loe pikir apa?" ucap Kayn.
Hesa membuka kembali notebook di tangan Kayn dan menunjukan halaman paling akhir. Ia menunjuk salah satu nama disana.
"Hasta Alkana, Jihan sempet bilang kalo cowok ini biasa di panggil Asta." ucap Hesa.
"Loe ngira gue diikutin kak Asta?" ucap Kayn.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Can't See Mee
FanfictionBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
