"Maaf saya terlambat." Sapa Michael
"Perkenalkan Al ini Michael, Michael ini Alberto. Al ini adalah dosen pengganti yang tadi saya bicarakan. Saya sudah membicarakan semua tentang kamu kepada Michael, silahkan kalian berkenalan satu sama lain. Saya pergi dulu ya." Usai Pak Ammar memperkenalkan mereka satu sama lain, Pak Ammar memberikan ruang kepada keduanya untuk mengenal satu sama lain.
Selepas kepergian pak Ammar, suasana seketika berubah menjadi canggung. Alberto tidak pernah mengajak lawan bicaranya untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu, ia terbiasa mendengarkan orang lain untuk berbicara dan menginterupsi dirinya terlebih dahulu. Michael sendiri merasa canggung karena tidak tau harus mengatakan apa pada gadis di depannya itu. Ia pikir Alberto yang diceritakan Pak Ammar adalah seorang laki-laki, sehingga ia tidak akan kesulitan untuk mencari topik pembicaraan dan dapat langsung membimbingnya. Namun ternyata, yang ada di hadapannya sekarang hanyalah seorang wanita culun kutu buku yang diam saja seperti tak menghiraukan keberadaannya.
Michael berdeham sedikit untuk menghilangkan rasa canggungnya dan mulai menyapa gadis di depannya terlebih dahulu.
"Em... Hai, saya rasa kita sudah bertemu, ketika saya mengajar tadi."
"Ya saya rasa begitu." Jawab Alberto, dengan nada acuh.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Michael Josh, kamu bisa panggil saya El." Michael mengulurkan tangannya. Cukup lama tangan itu menggantung di udara yang menandakan Alberto tidak memiliki niat apapun untuk menyambut uluran tangan milik Michael.
"Ehm... Apakah kamu tidak ingin menyambut uluran tanganku ?" Tanya Michael.
Alberto melirik sedikit pada tangan Michael, kemudian ia mengangkat tangannya untuk menjabat tangan Michael. Pandangan mata mereka berdua bertemu dan beradu, terukir sedikit senyuman pada wajah maskulin Michael, namun lain halnya dengan Alberto yang masih menampakan wajah cueknya.
"Alberto Diego, bapak bisa panggil saya Al. Jadi apakah bimbingan saya bisa dimulai?" Tanya Alberto dengan tegas. Alberto telah lebih dulu melepaskan tangannya dari genggaman tangan Michael, walau terlihat jelas Michael enggan melepaskan tangan milik Alberto.
"Oh..Iya, bisa. Kamu ingin bertanya apa?"
Sesi bimbingan berjalan dengan lancar, untuk masalah yang menyangkut skripsinya Alberto cukup sensitif, ia tidak ingin hanya karena masalah pergantian dosen menimbulkan hal yang signifikan ataupun menggangu jalannya skripsi yang sedang ia lakukan.
Michael sendiri akhirnya menyadari bahwa untuk mendekatkan diri pada Alberto tidak sesusah bayangannya. Pemahaman yang dimiliki Alberto cukup luas dibandingkan anak-anak seusianya. Alberto juga memiliki kecakapan dalam memahami setiap materi yang didapatnya.
"Boleh saya bertanya?" Tanya Michael
"Silahkan." Jawab Alberto tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya.
"Namamu apakah benar Alberto Diego?" Tanya Michael penasaran.
"Memangnya ada apa ?." Jawab Alberto sekenanya.
"Tidak, hanya saja namamu itu seperti laki laki. Apakah orang tuamu tidak salah memberikan nama itu padamu ?" Tanya Michael lagi.
Alberto meletakkan ponsel miliknya dan kemudian berkata, "Kita tidak sedekat itu untuk membahas kedua orang tua ku, lagipula aku menyukainya apa masalahnya ?" Kata Alberto dengan pandangan tajam mengarah pada mata milik Michael.
"Tidak ada masalah apapun juga, aku hanya sedikit penasaran saja." Ucap Michael.
"Penasaran akan apa ?" Tanya Alberto.
"Apakah kita sebelum ini pernah bertemu, wajahmu seakan tidak asing bagiku." Tanya Michael kembali.
"Di kelas pagi tadi." Jawab Alberto seadanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Part of War & Love : Choice
ChickLitAlberto Diego, atau yang kerap disapa Al, merupakan mahasiswa culun Universitas Qwerty. Di balik keculunan Alberto, dirinya menyimpan begitu banyak rasa sakit akibat ulah orang-orang di sekitarnya. Alberto berpikir, mungkin suatu saat nanti ia akan...