Chapter 4 : Obrolan singkat

1 1 0
                                    

Michael tiba di penthousenya usai mengantarkan Alberto dengan selamat. Pembahasan singkat mengenai Alberto ketika di restaurant kembali terlintas dalam benak Michael. Semua tentang Alberto begitu menarik bagi seorang Michael. Wajahnya, kepribadiannya, kecerdasannya, bahkan kemandiriannya terlihat berbeda di mata seorang Michael.

"Haruskah aku menyelidiki mu cantik." Pikir Michael sembari meminum air es yang diambilnya dari kulkas.

Ting....Tongg (Suara bel penthouse Michael)

Michael berjalan ke monitor bel untuk membukakan pintu. Masuklah sekretaris Michael dengan membawa berbagai tumpukan berkas pekerjaan yang harus ditandatangani oleh Michael.

"Haruskah aku tetap bekerja di tengah malam gelap seperti ini ?" Tanya Dean dengan mengangkat sebelah alisnya dan mengangkat berbagai berkas di kedua tangannya.

Dean Diviano merupakan sekretaris sekaligus sahabat dan tangan kanan kepercayaan Michael. Mereka berdua sudah saling mengenal sejak mereka duduk di bangku SD. Saat itu, Dean yang merupakan murid pindahan yang terlihat tidak mudah bergaul dengan teman-teman sebayanya. ia merupakan seorang anak yang pendiam dan lebih memilih membaca komik-komiknya daripada harus berbincang ataupun bermain di luar kelas.

Michael sendiri saat itu juga bukan anak yang mudah bergaul dengan teman sebayanya. Michael terkenal memiliki kecerdasan yang melebihi rata-rata, sehingga semua temannya merasa minder untuk bermain dengannya. Hingga suatu ketika, mereka dipertemukan pada satu kelompok yang sama. kelompok tersebut membuat mereka merasa nyaman satu sama lain, sehingga mereka memilih berteman hingga saat ini.

"Bisakah kau tidak mengomel. Ini akan di hitung lembur. Tenang saja !" Ucap Michael, sembari melemparkan bir kaleng kepada Dean yang telah usai meletakkan berkasnya di meja ruang tamu.

"Jadi, apakah pertemuan mu dengan dedek gemeshh berjalan lancar ?" Wajah Dean tampak tersenyum menggoda sahabatnya itu.

"Naajiss Bodoh !!!" Michael melemparkan bantal sofa yang berada di dekatnya kepada Dean dengan penuh rasa kekesalan. Dan dibalas dengan tawa kencang oleh Dean

"Oke...okee. Biar aku ulang pertanyaannya. Bagaimana bimbingan gadis itu ? Lancar semuanya ?" Tanya Dean setelah ia menyudahi sesi tertawanya.

"Yaaa... Semua tampak lancar. Bahkan perasaanku juga tampak lancar kepadanya." Bayang-bayang perbincangan mereka di restaurant kembali teringat dalam benak Michael. Hal itu tentu saja membuat Michael tersenyum sendirian. Dean yang melihat sikap aneh sahabatnya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Dasar tua bangka, udah kelamaan jomblo sekalinya jatuh cinta jadi gila." Dean berbisik kecil agar Michael tidak mendengar kata-katanya.

"Apa yang kau katakan ?' Tanya Michael.

"Aku tidak mengatakan apa-apa. Kau salah dengar." Elak Dean, yang di balas Michael dengan memutar bola matanya malas.

"Jadi, kau benar-benar tertarik pada gadis itu ?" Tanya Dean memastikan ketertarikan sahabatnya itu.

"Kurasa begitu. Dia tidak terlalu buruk. Wajahnya cantik, sikapnya sopan, pintar, cerdas, dan baik. Apakah ada alasan untuk tidak menyukainya ?" Tanya Michael

"Emmm, tidak salah juga. Tapi kalian baru bertemu beberapa kali. Apa hatimu tidak terlalu cepat dalam memilih ?" Tanya Dean kembali.

"Entahlah. Kita memang baru bertemu, tapi wajahnya tampak tak asing bagiku. Aku merasa seperti mengenalnya dari lama." Ucap Michael

"Bisa jadi dia teman masa kecilmu." Tebak Dean.

"Aku tak punya teman masa kecil selain kau. Aku dibesarkan dengan senjata, dari umur 6 tahun aku sudah mulai memegang senjata. Ketika aku umur 11 tahun, aku sudah mulai ikut berburu musuh-musuh ayahku." Jelas Michael.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 16, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

A Part of War & Love : ChoiceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang