Agendakan Pekan Raya

220 25 9
                                        

•••

Ruangan yang remang-remang, hanya ada lampu tidur dan lampu belajar yang menyala disana, selebihnya kegelapan telah memakan ruangan itu.

Seonghwa duduk di belakang meja belajarnya, dengan perasaan cemas selepas mengerjakan tugas sekolahnya. Nampak pemuda itu mengigiti kuku jempolnya yang memang sudah cukup panjang--ia belum memotong kuku.

Suara bunyi jam memecah keheningan malam itu, entah kenapa malah membuat Seonghwa merasa seperti tengah dikejar oleh sesuatu.

"Gua harus gimana.. " gumamnya cemas.

Perasaan bingung dan cemas ini muncul setelah sesuatu menempel pada dirinya siang ini--gadis itu, dia menempel pada Seonghwa sejak dari kantin. Seonghwa dapat merasakannya, walaupun dia belum memperlihatkan diri untuk kedua kali nya. Tugasnya menjadi sedikit berat kali ini, biasanya Seonghwa hanya harus menuruti hal-hal simple dan sederhana untuk mereka. Namun kali ini berbeda, permintaannya cukup berat--menangkap si pembunuh, itu tidak akan mudah.

"Gua sama sekali ngga punya petunjuk apa-apa, lagi pun gua bukan pihak berwajib yang bertugas ngurusin kek gini,"

"Tapi.. firasat gua juga ngga enak kalo gua ngga ngapa ngapain,"

Seonghwa nampak bimbang dalam kasus ini, di satu sisi ia tidak memiliki wewenang apapun untuk menyelidiki, tapi di sisi lain firasatnya kurang bagus apabila dirinya tidak ikut turun tangan. Namun, apa salahnya mencoba mencari tahu tentang pembunuhan ini? Ya, hanya mencari tahu--dan mungkin memancing pelaku.

Tapi, Seonghwa harus memiliki petunjuk terlebih dahulu.

"Apa gua coba cari-cari info dulu? Semisal gua dapet hidayah, bisa aja gua iseng mancing pelaku," pikir Seonghwa. Lantas jari-jemarinya membuka web pencarian dan mencari berita terbaru tentang penemuan mayat itu.

Grep..

Ketika Seonghwa sedang sibuk mencari tahu, ia dapat merasakan seseorang memeluk lehernya dan tak lama sensasi basah mulai terasa pada punggungnya, menyadari hal itu Seonghwa menghentikan pencarian informasinya sesaat. Seketika tubuhnya menegang merasakan seluruh sensasi skin ship itu.

"Aroma kakak sangat manis.. aku menyukainya,"

Suara halus terdengar, membuat Seonghwa mengulum bibirnya. Ia tidak menjawab ataupun membalas, ia hanya diam mendengarkan apa yang gadis ini ingin sampaikan.

"Seperti bunga, kakak terasa memiliki banyak nektar.. aku seperti lebah yang ingin membuat madu dari nektar bunga itu," ucap gadis itu lagi sembari terkekeh.

"Eum, nona Tzuyu?" panggil Seonghwa pelan.

"Iya kakak? Ada apa?" balas gadis itu dengan nada ceria.

"Apa yang anda ingin lakukan besok?"
Seonghwa melontarkan pertanyaan singkat, tapi cukup menyakitkan apabila ditujukan kepada seseorang yang telah mati.

Gadis itu--Tzuyu nampak berpikir, ia sama sekali belum melepaskan pelukannya padahal cairan merah kental dari luka tusuk pada perutnya telah mengotori baju Seonghwa cukup banyak.

"Hmm.. apa ya? Ada banyak hal yang pengen ku lakuin sih, jalan-jalan ke taman bareng temen, mungkin?" jawabnya polos.

Sial, kenapa Seonghwa yang merasa tertusuk mendengar jawaban dari Tzuyu?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 16, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Flower [Joonghwa]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang