Di belokan tangga sepi pada ujung lorong sekolah, Danisa duduk bersebelahan dengan Samudera. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada tembok seraya menatapi Danisa yang mengeluarkan kotak bekalnya.
"Lo nggak makan?" tanya Danisa cepat saat melihat Samudera hanya diam memangku dagu.
Samudera menggeleng. "Nggak lapar, entar aja."
Biasanya, sudah satu bulan terakhir, mereka makan siang di kantin. Tetapi, kejadian kemarin membuat Danisa urung. Ia lebih memilih duduk di tangga belakang. Makan sendirian.
Tetapi, Samudera tiba-tiba membuntuti. Menyatakan bahwa dirinya takut Danisa bermasalah seperti tadi pagi. Membuat keduanya berada di tangga itu berdua.
Danisa mendesis. Ia membuka kotak bekalnya. "Mau bagi dua?"
Samudera menengok. Ada beberapa lauk dan nasi yang berada dalam kotak bekal Danisa. Tetapi, ia menggeleng kemudian.
"Oke," jawab Danisa lagi. Ia mengambil sendok lalu mulai menyendok makanannya.
Keduanya sama-sama diam. Hening tak bersuara.
"Gue nggak ngerti. Lo punya kakak kayak Daniel. Seharusnya, nggak ada yang macam-macam sama lo, kan?" Samudera bergumam sendiri.
Danisa mengangkat bahu. "Ya, tapi, gue nggak mau terlalu banyak cerita sama Daniel. Gue capek. Daniel selalu ekstensif dan gue tampak kayak cewek lemah. Ujungnya, orang-orang semakin ngatain gue di belakang."
Samudera mengangguk. "We can please everybody. Gue yakin habis ini pasti bakalan banyak yang ngatain lo juga, Sa. Ngatain gue juga. Ya, begitu."
Danisa hanya bisa menghela napas. Ia tahu. Tetapi, lebih baik daripada semua orang bermuka dua di depannya. Jika Samudera, setidaknya, mereka cuma takut tidak mengganggu. Bukan kemudian jadi berpura-pura baik.
"Ngomongin Daniel, gimana? Lo udah cerita soal hubungan kita? Lo bilangnya apa?" tanya Samudera.
"Gue bilang, kita pacaran."
Samudera membuka mulut. "Lo serius?"
Dagu Danisa mengangguk. "Dia langsung, 'Kapan? Kok lo nggak bilang?' dan sederet pertanyaan kepo lainnya." Perempuan itu tertawa. "Dan gue jawab dengan, rahasia."
Samudera terpingkal ke belakang. Padahal, cerita itu tidak lucu. Tetapi, mimik Danisa yang menirukan wajah Daniel dapat sangat mudah membuatnya berimajinatif.
"Is he okay with it? Maksudnya kita, hubungan ini. Biarpun, bohongan sih." Samudera menggaruk belakang lehernya. Bingung mendefinisikan hubungan mereka.
"Ya, kayaknya. Dia bilang, dia kaget. Tapi, ya udah." Danisa berkata ringan.
Ia ingat betul bagaimana kakaknya merespon. Kalau dipikir-pikir, sejak lama, Daniel memang punya praduga salah terkait dengan hubungannya dengan Samudera. Jadi, tidak sulit untuk tiba-tiba mengumumkan hubungannya dengan Samudera.
"Ngomong-ngomong, Sam..." panggil Danisa pelan di sela makannya.
"Hm?"
"Thanks buat yang tadi," ucap Danisa tulus.
Samudera menggeleng. "Lo kan pacar gue." Ia tertawa. "Masa gue diemin?"
Bibir bawah Danisa maju untuk mengejek lelaki di hadapannya. "Pacar pura-pura, Sam."
"Tapi, buat mereka, kita nggak pura-pura." Samudera berkata santai. Ia menghembuskan napas sekeras-kerasnya. Kemudian menatap Danisa yang masih sibuk makan itu dengan lembut.
Dulu, Samudera benci untuk berurusan dengan perempuan seperti Danisa. Perempuan aneh, tidak menarik, terlampau tidak menyenangkan. Malah, beberapa kali, Samudera suka menjahili gadis-gadis dengan tipe seperti ini. Membuat mereka menangis adalah kesukaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFREAKTION
Teen FictionBagaimana rasanya kalau tiba-tiba satu proyek dengan orang yang disukai? Melayang? Kurang lebih, itu yang dirasakan Danisa ketika Kiano mengajaknya bergabung dalam tim Publikasi-Dokumentasi Festival Sekolah. Walaupun Samudera-si anak kepala yayasan...
