40. TRADE THE WORLD FOR YOU

26.9K 1.8K 10
                                        

Samudera menyetir mobilnya keluar dari sekolah. Ada perasaan sesak yang merambat di dada perlahan-lahan.

Ia tidak mengerti sama sekali. Perasaan khawatir dan takut menguasai benaknya. Seharusnya, ia baik-baik saja. Seharusnya, ia tak bersikap kekanakan seperti itu.

Rasa tidak percaya diri menguasai seluruh tubuhnya. Lucu, memang. Ketika dulu, ia bisa bertindak seperti ornag paling berkuasa, paling punya segalanya. Sekarang, berbeda.

Samudera menyetir asal hingga tiba-tiba secara tak sadar, ia menyetir ke arah perumahan tempat Danisa tinggal. lelaki itu diam sejenak ketika mobilnya melewati rumah gadis yang tadi baru saja ia pikirkan.

Lelaki itu mengerem ketika seorang pengendara ojek online tiba-tiba berhenti mendadak tepat di depan rumah Danisa. Tak lama, mata Samudera membelalak melihat Danisa yang benar-benar tampak di depannya. Masih mengenakan seragam, ia seperti terburu-buru akan pergi.

Samudera buru-buru membuka pintu. Matanya bertatapan dengan Danisa.

"Danisa," panggil Samudera lirih.

"Samudera." Wajah Danisa begitu kaget. Ia tampak pucat.

Samudera turun perlahan dengan tongkatnya. Danisa terlihat semakin gugup dan bingung. Ia buru-buru menuju ke arah pengendara motor tersebut. Memberikan beberapa lembar puluhan ribu, si pengemudi ojek online itu kemudian pergi.

"Gu-gue... gue baru mau ke tempat lo," kata gadis itu tergagu.

Samudera tersenyum lembut. Ia berusaha bersikap tenang. "Mau masuk? Kita ngobrol sembari keliling?"

Danisa mengangguk sambil mengikuti Samudera masuk ke mboil. Lelaki itu mulai melajukan mobilnya. Tak ada yang berbicara, keduanya sama-sama diam seraya mobil terus melaju.

"Kita beli kopi dulu, yuk?" ajak Samudera yang tak menunggu perseyujuan Danisa langsung masuk ke drive thru Starbucks yang berada di sisi kiri jalan. 

Danisa masih diam. Sementara, Samudera sudah berjalan membuka jendela mobilnya. 

"Satu Americano, satu Salted Caramel Frappucino," pesan Samudera cepat.

Danisa menengok. Ia membelalakan mata kaget. Bagaimana Samudera tahu?

"That's your usual order, right?" Samudera tersenyum tipis. "Atau lo mau ganti?"

Danisa menggeleng. Samudera hapal, bahkan untuk hal sekecil itu. Setelah membayar dan menerima kopi mereka, Samudera kembali melajukan mobilnya di jalan raya.

Satu tangannya memegang gelas kopi berisi Americano dan menyesapnya sedikit. "I need my sanity back." Ia berkata setelah meneguk cairan kecokelatan itu.

Danisa menyedot minumannya perlahan. Ia menatap ke arah jalan yang lenggang. Samudera terus melajukan mobilnya hingga menuju ke sebuah jembatan yang mengarahkan mereka ke sebuah pulau buatan di utara Jakarta.

Menyeberangi laut, Danisa lagi-lagi malah teringat hal yang tidak-tidak. Ia menahan napas. Meningkahi sesak di dada.

Mobil berhenti di sebuah parkiran yang menhadap ke arah pantai. Di hari kerja seperti ini, obyek wisata itu cukup sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang lari sore santai.

"Gue mau ngomong..." Keduanya berucap bersamaan.

Danisa dan Samudera sama-sama saling tatap sebelum menggeleng.

"Lo dulu," ucap Danisa.

Samudera menatap ke arah jendela sejenak. Ia menarik napas. "Gue rasa, gue harus minta maaf. Sikap gue tadi kekanakan banget, ya?" Samudera terkekeh pelan. "Gue seharusnya nggak kayak gitu."

Danisa membiarkan Samudera terus berbicara.

"Gue nggak tahu kenapa, Sa... Rasanya, kepercayaan diri gue turun jauh banget pas denger Kiano bilang dia suka lo. Gue jadi ngerasa insecure. Apa gue layak buat lo? Apa gue bisa jadi lebih baik dari Kiano? Padahal, dulu gue yang menjanjikan itu sama lo. Gue bilang, gue lebih baik dari dia, bisa bahagiain lo lebih dari dia, bisa bikin lo merasa dicintai. Tapi, kenapa sekarang gue khawatir? Apa karena sekarang, Kiano juga ternyata suka sama lo?" 

Samudera terlihat begitu rapuh. Ia yang biasanya berdiri tegap dan tinggi malah tampak begitu lemah.

"Samudera," panggil Danisa lembut.

Samudera diam. Matanya masih memandang ke arah lain. Ia tak ingin Danisa melihat wajah lemahnya.

"Samudera, boleh nengok sini?" tanya Danisa lebih lembut.

Samudera masih bergeming. Ia mengatur napasnya. Mencoba mengatur mimiknya.

"Sam..." Danisa menarik Samudera menengok ke arahnya.

Tak butuh kekuatan terlalu banyak, Samudera menengok. Memperlihatkan semuanya. Pandangannya yang tampak begitu menderita dan lemah. Wajahnya yang tampak begitu menyedihkan.

Samudera sudah siap dengan kalimat yang dikeluarkan dari bibir Danisa. Tetapi, bukan itu yang terjadi.

Bibir yang selalu membuatnya candu itu tiba-tiba mengarah ke bibirnya sendiri. Mencium Samudera perlahan dengan begitu kikuk.

You silly! Samudera ingin tertawa namun tertahan. Ia mengambil tengkuk Danisa, membalas ciuman itu. Untuk sesaat, ia kembali membalik keadaan, memimpin permainan yang Danisa mulai.

Samudera menatap Danisa tak mengerti begitu ciuman itu berakhir. Sementara, wajah Danisa kembali memerah walaupun gadis itu mencoba bersikap biasa saja.

"You are enough, Samudera." Danisa berujar. Kalimat yang sama dengan pernyataan yang dahulu pernah diucapkan Samudera dulu.

"Sa..."

"Just you, only you. Orang yang gue butuhin saat ini, cuma lo," kata Danisa lagi. "Lo yang selalu ada buat gue. Lo yang nggak pernah ninggalin gue dalam keadaan apapun. Lo bisa aja mengabaikan gue saat rekaman itu tersebar, tapi, yang lo lakuin malah membuat cara biar malu gue nggak berlipat kali ganda. Lo nyelamatin gue pas di-bully Julie, dengan konsekuensi lo akan semakin dibenci semua orang, lo bantuin gue ini dan itu, semua hal yang seharusnya nggak perlu lo lakuin di saat orang lain tutup mata soal gue."

Suara desahan Danisa terdengar pelan.

"Lo tahu kan, kalau lo nolongin gue itu, sama aja lo bunuh diri dalam hirarki sosial? Lo tahu kan, lo nggak seimun itu lagi. Semua orang akan ngejauhin lo karena dianggap terus sama gue? Tapi lo tetap ngelakuin itu? Bikin hal ekstrim bilang kalau kita pacaran padahal lo tahu, lo akan kena getahnya juga, ya, kan?" Nada Danisa naik. "Lo tahu semua itu, kenapa lo masih lakuin?"

Samudera menggeleng. Ia tahu segala konsekuensinya. Ia tahu bahwa dirinya sudah berada dalam hirarki sosial terbawah. Yang seharusnya ia lakukan adalah memanjat ke atas, bukannya semakin melempar dirinya ke jurang. 

Tetapi, itu yang Samudera lakukan. Samudera melempar dirinya semakin dalam. Ia tidak peduli dengan panjatannya. Buat Samudera, Danisa lebih penting. Mari jatuh bersama, mari tenggelam bersama, Samudera tak ingin ambil pusing. ia tak butuh kedudukan tertinggi, ia hanya butuh Danisa.

"You took all the bullets for me." Danisa berkata serak. "Gimana gue bisa ninggalin orang yang udah menukar semua hal di dunia ini buat gue?"

Samudera menahan napas. Selama ini, ia yang selalu mengutarakan perasaannya pada Danisa. Kali ini, ia mendengarnya langsung dari bibir Danisa.

"I choose you, I love you, I will not let you go, Samudera." Danisa berbisik di telinga Samudera.

Samudera menarik tangan Danisa menggenggamnya erat. "Sa..." Ia masih tak bisa berkata-kata.

Mereka berdua orang-orang aneh. Orang-orang terbuang yang tak pernah dianggap ada. Orang-orang yang berada pada tingkat hirarki sosial paling bawah. Kalangan yang selalu terbuang. 

Samudera dan Danisa adalah dua orang yang tak pernah diingat dalam reuni. Dua orang yang mungkin akan selalu terlupakan. Dua orang tak kasat mata.

Tetapi, apa peduli mereka? Mereka punya satu sama lain. Itu cukup, itu lebih dari cukup.

"Let's go to the finish line together, hand by hand, Danisa." Samudera tersenyum tipis sebelum sekali lagi mengecup bibir Danisa dengan lembut dan hangat.

PERFREAKTIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang