Danisa menahan napas ketika melihat Samudera di ruang terapi. Hari ini, lelaki itu sudah mampu melangkahkan kaki kirinya hingga sejajar dengan kaki kanan bahkan tanpa berpegangan sama sekali. Gadis itu menutup mulut dengan tangan, tak sanggup berkata-kata.
"Kemajuan Samudera pesat banget loh!" Riza memuji. "Kalau begini, akhir tahun, dia bisa jalan, kali. Biarpun pelan banget kayak siput."
Danisa tertawa. "Jangan terlalu dipaksa. Pelan-pelan aja, nggak apa-apa." Ia berucap sambil menatap Samudera yang berjalan di antara parallel bar.
Riza ikut-ikutan memandangi Samudera. "Padahal, dia hampir mau nyerah dan nggak mau terapi lagi. Kayaknya, habis pacaran sama lo, dia jadi punya semangat hidup."
Danisa meringis. Ia tak bisa berargumen untuk yang satu itu.
Riza menepuk tangannya begitu Samudera sampai ke ujung. Ia beranjak dari sisi Danisa untuk menghampiri Samudera. "Good job, Sam! You did it! Tuh, cewek lo bangga banget sama lo!"
Danisa memutar bola mata sambil langsung memalingkan wajah. Kontras dengan Samudera yang malah nyengir-nyengir kuda.
"Kapan gue bisa gendong dia, Mas?" tanya Samudera bercanda. Ia sengaja membesarkan suaranya agar Danisa bisa mendengar.
"Gendang gendong! Mau digendong ke mana? Masih kecil juga!" Riza menjitak Samudera sambil ikut tertawa.
Danisa yang menonton ikut geli melihat tingkah mereka. Ia melipat lengan di dada sambil menatap ke arah Samudera yang kembali berjalan ke arahnya.
Sesi terapi kali itu selesai dengan kemajuan yang cukup pesat. Samudera ikut tersenyum puas merasakan apa yang baru saja ia alami. Lelaki itu mengambil tongkatnya. Menatap lembut Danisa yang menungguinya.
"Lo bosan, nggak?"
"Nggak kok," jawab Danisa sambil menggelengkan kepalanya. "Seru lihatin lo jatuh mulu!"
"Dih!" Samudera berdecak kecil seraya mengambil tasnya. "Lebih lucu entar lihat anak kalau lagi belajar jalan terus jatuh."
Danisa melongo. "Hah?"
Samudera tampak tak terlalu mengindahkan Danisa. Ia memiringkan kepala sejenak seperti berpikir. "Tapi, nggak jadi lucu kalau jatuh terus nangis, sih. Ribet malah, iya. Ya, nggak?"
Danisa mengerjapkan mata. Isi pikirannya jadi ke mana-mana. Anak? Hah?
Tetapi, belum sempat Danisa memproses seutuhnya, badan Samudera sudah berbalik pada Riza. "Ketemu lagi lusa ya, Mas?"
Riza mengangguk sebelum Samudera dan Danisa keluar dari ruangan. Keduanya berjalan bersisian di lorong rumah sakit yang sepi. Enggan bicara karena takut mengganggu orang lain di sana.
"Kantin, kan?" tanya Danisa mengonfirmasi.
Samudera mengangguk. Ia selalu langganan makan di kantin. "Kalau mau yang lain, boleh." Lelaki itu merasa tidak enak karena cukup sering mengajak Danisa ke kantin rumah sakit. "Perayaan nih karena gue udah bisa jalan."
"Halah! Masih tongkatan juga!" ejek Danisa sambil tersenyum jahil.
"Ya, kan biar bisa jalan lebih cepet, Sa. Lo mau nungguin gue kalau nggak jalan pakai tongkat?" balas Samudera memajukan bibir.
Danisa terkekeh pelan. Ia tahu, Samudera masih harus menggunakan tongkatnya agar bisa berjalan lebih cepat, juga untuk menjaga keseimbangannya kalau-kalau terjatuh lagi. Danisa hanya suka mengejek Samudera. Walaupun, ejekan itu tak tahu akan berlangsung sampai kapan.
Nanti, kalau Samudera sudah bisa berjalan, mungkinkah mereka masih membahas masalah yang sama?
"Jadi, ke mana?" tanya Samudera lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFREAKTION
Novela JuvenilBagaimana rasanya kalau tiba-tiba satu proyek dengan orang yang disukai? Melayang? Kurang lebih, itu yang dirasakan Danisa ketika Kiano mengajaknya bergabung dalam tim Publikasi-Dokumentasi Festival Sekolah. Walaupun Samudera-si anak kepala yayasan...
