"Kenapa kemarin nggak datang ke rapat?" Samudera sudah bertanya tiga kali pada Danisa tetapi gadis itu hanya menggeleng.
Kantin pada saat makan siang cukup ramai dan keduanya kembali menempati meja pojok di sana. Tidak ada yang peduli pada kehadiran mereka. Lebih tepatnya, tak tahu apakah memang tidak peduli atau takut dengan Samudera. Mungkin juga, keduanya.
Danisa duduk berhadapan dengan Samudera. Ia menatap Daniel yang melihatinya. Sudah satu atau dua minggu terakhir Danisa memang setiap hari duduk bersama Samudera. Gadis itu sudah kebas dengan pertanyaan Daniel yang terus menanyakan terkait hubungannya dengan Samudera.
Lagipula, apa yang mau dijelaskan? Mereka berdua hanya dua orang yang dibuang dalam sebuah kelompok sosial dan terpaksa berteman satu sama lain. Sebuah definisi yang menyedihkan.
Danisa melirik ke arah binder Samudera. Ada sebuah kartu warna merah muda yang terselip di sana. Danisa yakin, itu merupakan undangan pesta.
Sesaat, Danisa mencelos. Yang dibuang dalam komunitas sosial hanya dirinya seorang. Samudera sepertinya masih punya teman.
"Undangan?" Danisa mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk kartu di binder Samudera.
Samudera mendelik. Melirik ke arah telunjuk Danisa mengarah. "Huuh, ulang tahunnya Gwen. Um, Gwyneth, maksudnya."
Gwyneth. Gwyneth. Gwyneth. Ah! Danisa menjentikan jari dalam diam. Kakak kelas perempuan blasteran Belanda-Manado yang saat ini tengah menjajal dunia akting.
"Wow," ucap Danisa sedikit terkejut dan kagum. Sesaat, seperti ada lubang kecil di dadanya. Samudera masih mendapatkan undangan dari anak populer. Sepertinya, Danisa memang berada di level yang lebih jauh dari lelaki itu.
Bukan. Bukannya Danisa ingin mendapatkan undangan yang sama. Ia sering mendapatkan beberapa undangan sebagai formalitas status sebagai 'adik dari Daniel'. Mungkin, kini, Samudera juga diundang sebagai 'anak kepala yayasan' atau 'bekas anak populer'.
Tetapi, kenapa rasanya, Danisa seolah menjadi sangat kecil? Sepertinya, Samudera masih berada tinggi di atasnya.
"Oh," angguk Danisa cepat. "Kapan? Lo datang?"
"Weekend. Minggu depan." Bahu Samudera terangkat. "Nggak tahu. Gue suka party tapi, belum tahu. Gue nggak bisa joget di dance floor atau cari cewek lagi, kan? Dia mungkin ngundang gue karena kasihan, karena orangtua kita dekat, atau karena pengen ngatain gue."
Danisa mengerutkan kening. "Hah?" Ia tidak bisa mencerna kalimat terakhir.
"Come on, berapa banyak yang udah ngatain gue? Let me guess! Kayaknya seisi sekolah." Samudera tertawa. "Gue bahkan udah nggak bisa marah. Selama mereka nggak ngerjain gue kayak si bajingan kemarin, gue bakalan nyoba kalem."
Danisa menyunggingkan senyum simpul. "Lagian setelah kejadian Andrew kemarin, nggak ada yang berani macam-macam sama lo," tukas Danisa tertawa.
Samudera tertawa kecil. Tetapi sesaat kemudian, ia mengalihkan pandangan menjadi lebih serius. "Oke, stop ngalihin topik."
"Um?"
"Serius deh! Lo bilang kemarin sakit. Sakit apaan? Lo dihubungin juga nggak diangkat sama sekali." Samudera masih ngotot.
Danisa menggeleng.
"Lo jangan geleng-geleng mulu. Itu kepala putus entar!" Samudera berkelakar.
Tetapi, Danisa malah buru-buru memegangi lehernya. Seolah, takut kepalanya benar-benar putus dari lehernya.
"Kiano khawatir banget," kata Samudera lagi. Ia mengangkat bahu pelan.
Danisa menelan ludah. Ia bingung harus bersikap bagaimana.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFREAKTION
Novela JuvenilBagaimana rasanya kalau tiba-tiba satu proyek dengan orang yang disukai? Melayang? Kurang lebih, itu yang dirasakan Danisa ketika Kiano mengajaknya bergabung dalam tim Publikasi-Dokumentasi Festival Sekolah. Walaupun Samudera-si anak kepala yayasan...
