Nggak tau ini neutral apa hawt but well.. enjoy wkwk
***
Danisa menarik napas. Melirik ke sekeliling. Ia bingung. Samudera berbicara dengan kalimat mengambang.
Danisa selalu penasaran akan sosok kakak dari Samudera itu. Siapa dia? Apa yang terjadi? Kenapa ia tak pernah muncul?
Lagi-lagi ketika menengok, mata Danisa menaruh perhatian ke arah lain. Seberapa kuat Danisa mencoba mengabaikan adegan itu, ia tetap tak bisa memalingkan wajahnya. Napasnya memburu, rasa sesak memenuhi dadanya.
"Sa?" panggil Samudera saat menyadari Danisa terlihat membeku.
Samudera menaikan alis saat matanya menatap arah pandangan Danisa. Di pojokan, ia mendapati tangan Isabella melingkar di belakang leher Kiano. Keduanya berciuman tanpa peduli pandangan sekitar.
"Sa!" Kali ini, panggilan Samudera lebih keras.
Danisa menengok kaget. Menatap Samudera yang cuma bisa menggeleng pelan. "Hm?"
"Muka lo... bener-bener kayak orang yang nggak pernah lihat orang lain ciuman." Samudera mengejek.
Bola mata Danisa berputar. "Bukan itu! Lo lihat sendiri lah! Itu ciumannya kayak nggak tahu tempat. Belum kelar-kelar lagi!" Gadis itu protes.
Samudera kembali terkekeh. Ia menangkap rona marah dan kesal di wajah Danisa. Lelaki itu memangku dagu. "Cemburu? Iri?" Samudera mengejek lagi.
Danisa membuang muka. Siapa yang tidak panas melihat orang yang ia sukai berciuman dengan perempuan lain?
"Cemburu bilang!" goda Samudera lagi.
"Nggak!" Danisa berkilah. "Cuma risih aja."
"Ini pesta anak muda, Sa. What do you expect? Bahkan di pesta-pesta orangtua aja, banyak kok!" Samudera mengangkat bahu.
"Perlu ya, dijelasin kayak gitu?" balas Danisa kesal.
Samudera menengok ke sekelilingnya. Ia menatap ke arah Kiano dan Isabella lagi lalu ke arah Danisa yang memandang pasangan itu dengan penuh amarah.
Samudera tahu, Isabella sengaja mencium Kiano di depan umum. Ciuman itu hanya agenda kecil. Ia kenal Isabella, dan gadis itu akan menggunakan segala cara agar perhatian semua orang tertuju padanya. Besok pagi, ia yakin, media sosial akan ramai dengan foto ciuman mereka di pesta ini.
What a thirsty bitch! Samudera mendesis. Dan kenapa Kiano mau-mau saja diperalat?
Sejenak, Samudera berpikir sebelum berdecak. Kiano terlalu baik, atau polos, atau memang terlalu lama berada di bawah batu. Sama seperti gadis di sebelahnya itu. Gadis yang cuma bisa menggigit bibir dengan sebal. Gadis yang walaupun kakaknya sangat populer, tetap saja tertinggal terlalu jauh.
"Mau coba ngebales?" tawar Samudera tiba-tiba.
"Bales pakai apa? Granat?"
Samudera tertawa. "Ya, nggak dong!"
Danisa mengerutkan dahi. "Terus?"
"Let's make something hotter." Samudera mengulurkan minumannya pada Danisa. "Nih, dikit aja. Cobain."
Danisa bingung. Ia mengerenyitkan hidung, tetapi, pada akhirnya ia meneguknya. Ketika Samudera bilang sedikit, ia tahu, Danisa akan meneguk sebanyak yang gadis itu bisa. Minuman yang tinggal sepertiga gelas itu habis tak bersisa.
Pada akhirnya naluri manusia selalu melawan apa yang dilarang, bukan?
"Pahit!" pekik Danisa cepat. Rasanya aneh. Pahit dan panas menjalar di leher. Ia belum pernah minum alkohol sama sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFREAKTION
Roman pour AdolescentsBagaimana rasanya kalau tiba-tiba satu proyek dengan orang yang disukai? Melayang? Kurang lebih, itu yang dirasakan Danisa ketika Kiano mengajaknya bergabung dalam tim Publikasi-Dokumentasi Festival Sekolah. Walaupun Samudera-si anak kepala yayasan...
