Takdir 1 (Awal Luka)

91 15 6
                                        

Hai👋
Kalian pembaca baru or lama?
Kali ini nulisnyaa akan diusahakan sampai end, tidak menghilang selama 2 tahun
emot mahasiswa (🙏)


Happy Reading kalian 🥰🥰🥰

"Waktu itu seperti angan halusinasi. Kembali ke masa lampau, mengubahnya, dan hidup damai."

Dan yaa itu angan-angan setiap manusia. Nyatanya setiap detik, menit, dan jam berlalu sesuai apa yang ditulis Sang Pena, si Penulis Takdir. Kita hanya perlu melewati setiap takdir itu dengan sabar dan penuh rasa syukur.

Seminggu yang terasa seperti setahun bagi Lara, tepat setelah Ijab Qabul diucapakan dan perjamuan selesai, Arka meninggalkan tempat yang seharusnya itu, adalah awal kebahagian bagi dia dan Lara. Dengan perasaan campur aduk yang tidak dapat dimengerti dirinya sendiri, dia pergi tanpa pamit dan tidak kembali yang membuat Lara menangis dalam seminggu.

Di rumah mertuanya Lara terus berharap agar sang suami pulang, dan berdiri di hadapannya. Bukan untuk meminta maaf, namun agar rasa khawatir Lara bisa hilang dan rasa bersalah yang merutuki dirinya sendiri tidak membuatnya segera gila.

"Nak Lara jangan terlalu larut seperti ini, Arka pasti pulang. Dia cuman butuh waktu untuk nerima semuanya, kasian matamu sudah sesembab ini." Kata Kinan sambil memeluk menantunya.

Ucapan yang selalu Lara dengar dari Ibu mertuanya agar dia merasa tenang, tidak membuatnya tenang tapi membuatnya semakin khawatir.

Saat ini Kinan lebih khawatir kepada Lara dibanding dengan anaknya sendiri. Karena dia tahu betul karakter Arka, yang akan menghilang saat ada masalah. Dia akan menghilang tanpa kabar jika permasalahan yang dihadapinya begitu berat menurut dirinya dan tidak sesuai dengan keinginannya. Apalagi sekarang ia menghilang karena pernikahan yang terjadi atas keinginan orang tuanya, sangat sulit untuk Arka bersikap baik-baik saja.

________
"Manusia adalah tempat dimana sebuah kesalahan bernaung. Termasuk Oktalion Arka Alfariz salah satu pewaris keluarga Alfariz Radentama..."

Saat ini jarum panjang berdiri tegak pas di jam 12 malam. Penghuni kamar yang sudah seminggu jam tidurnya di renggut oleh rasa khawatir, malam ini dengan hal yang sama berdiam diri sambil menatap bintang gemintang di balkon kamar, berharap ada dia di sana bersama ayahnya.

~falshback on~

"Ingat gue nikahin lo karena paksaan dari orang tua gue. Kalau bukan karena mereka pernikahan ini tidak akan terjadi." Kata Arka pelan namun penuh penekanan, yang masih memasang senyumnya dihadapan para tamu yang satu persatu pergi meninggalkan tempat acara.

"Maksud kakak apa?" Kata Lara melirik Arka saat mendengar perkataan tak mengenakkan itu

"Ingat gue nikahin lo hanya untuk ngebales utang budi orang tua gue. Dan jangan harap gue perlakuiin dan anggap lo sebagai istri, karena gue ga pernah ada niatan sama sekali buat nikahin lo!" Tekan Arka

Sakit hati, itu yang Lara rasa. Arka menikahi Lara hanya berdasarkan utang balas budi kepada kedua orangtuanya.

Setelah mengatakan itu kepada Lara, mereka kembali saling diam. Tak ada dari mereka yang mengeluarkan suara satu sama lain. Sampai tak ada lagi tamu dari luar, yang terisisa hanyalah keluarga inti.

Tiba-tiba Arka berdiri, segera beranjak dari pelaminan yang sama sekali dirinya tidak ingin berada di tempat itu.

"Kak Arka?" Tahan Lara saat Arka hendak beranjak pergi begitu saja, namun segera Arka tepis tangan itu dengan kasar.

ARKALARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang