Setelah menguatkan diri sendiri, Lara pun memutar hendel pintu, Lara terkejut dengan pemandangan yang sedang ia lihat....
"Astaghfirullah" Reflek Lara saat beberapa detik menahan nafas, karena melihat vas bunga yang sudah berserakan dilantai, dan tangan Arka yang menggantung di udara, dia berhenti memukul lantai saat Lara membuka pintu.
"Kak Arka?" Panggil Lara saat melihat Arka yang baru saja menonjok lantai dengan tangannya, dengan Arka yang terduduk bersandar di sisi ranjang sambil mendongak kek langit-langit ruangan, tanpa memperdulikan panggilan dari Lara.
"Kak, tangan kakak luka" Lara dengan nada khawatir berjalan mendekati Arka dan hendak memeriksa tangan si suami, namun Arka menipis tangan Lara yang ingin memeriksa luka ditangannya.
"Bukan urusan lo" Ketus Arka
"Tapi kak itu tangan kakak luka, kalau gak diobatin bisa infeksi" Paksa Lara ingin melihat tangan suaminya yang jelas terluka dan mengeluarkan darah.
"Kalau gw bilang bukan urusan lo ya bukan urusan lo, gak usah LO NYENTUH-NYENTUH GW!!" Bentak Arka ke Lara yang bersikeras ingin mengecek tangannya dan berkahir Lara tersungkur dilantai. Dorongan yang Arka buat membuat tangan Lara ikut terluka.
'awww' Lara meringis tangannya terkena pecahan. Menggores luka di telapak tangannya, hatinya pun ikut meringis, dan itu semua lagi-lagi karena suaminya sendiri
"Chh, nyusahin lo" Sarkas Arka langsung beranjak menuju kamar mandi dan meninggalkan Lara yang masih meringis kesakitan karena luka yang ia dapat dari pecahan kaca.
Akhirnya setelah di hari pernikahannya Lara kembali mengeluarkan air matanya, Lara kembali menangisi takdir yang dituliskan untuknya.
Niat ingin mengobati tangan suaminya itu, tapi Arka menolaknya mentah-mentah dan berakhir ia terluka karena dorongan Arka baik secara fisik maupun mental.
"It's okay Raa, jangan cengeng!" Susah payah dia menyemangati dirinya sendiri, ia berusaha kuat dengan semua sikap Arka kepadanya.
Helaan nafas panjang dia tarik dan hembuskan, segera dia mengukir senyum untuk dirinya dan menghapus air mata yang masih ingin tumpah ruah.
Lara berusaha sekuat mungkin untuk menahan tangisannya agar tidak dilihat dan di dengar siapapun termasuk suaminya.
Dia beranjak dari duduknya, sekuat mungkin menahan sakit yang ada di telapak tangannya dan mulai membereskan pecahan vas bunga, tanpa mengobati tangannya terlebih dahulu.
Arka keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap menggunakan baju kaos hitam polos dengan badan yang lumayan berotot itu terlihat sangat pas, dengan celana training. Pakaian santai yang dia pakai sama sekali tidak menghilangkan kegantengannya
Ia berjalan menuju lemari dan melewati Lara yang sedang menyapu vas bunga yang berserakan karena ulah Arka.
"Sini lo duduk" Panggil Arka dengan nada dingin.
"Kakak panggil aku?" Tanya Lara polos.
"Lo bego atau gimana? yang ada di kamar ini cuman lo sama gw gak ada oramg lain" Arka sangat geram dengan pertanyaan-pertanyaan polos istrinya ini.
"I-iya kak maaf" Lara menunduk, takut kalau Arka suaminya itu akan marah lagi karena pertanyaanya.
"Ngapain masih diam disitu?" Saat ini Arka sedang menahan emosinya agar tidak meledak lagi, Lara yang mendengar itu segera menghampiri Arka dan meletakkan sapu di pojok kamar, ia pun duduk disamping Arka.
Arka menarik tangan Lara yang luka 'aaww shh' Ringis Lara karena tangannya ditarik paksa oleh Arka.
"Gak usah lebay!" Kata Arka kemudian membersihkan luka Lara dengan kapas kering terlebih dahulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKALARA
RomansaLara Syahriza Ardenasta gadis cantik yang masih berusia 19 tahun ini dengan terpaksa tidak melanjutkan pendidikannya, karena harus menikah dengan Oktalion Arka Alfariz, pewaris pertama keluarga Alfariz Radentama. Pernikahan yang ia jalani diusia mud...
