Happy reading ❤️
***
Beberapa tahun yang lalu
"Lo harus janji sama gue, kalaun... nggak akan ada salah satu dari kita yang nyimpan perasaan satu sama lain," ucap Annovra serius, menatap Axel yang duduk di sampingnya.
Matanya tajam, bibirnya cemberut khas Annovra yang sok galak padahal hatinya lembek seperti tahu bulat yang baru saja digoreng.
Axel seketika terdiam, memikirkan ucapan Annovra. Ada jeda beberapa detik di mana ia hanya memandang langit sore yang mulai jingga, seolah berharap angin membisikkan jawaban. Tapi pada akhirnya, dia mengangguk.
"Gue janji," katanya pelan tapi pasti.
"Oke, good." Annovra kembali menatap ke arah depan, pura-pura cuek, padahal hatinya sedikit mencelos.
Annovra dan Axel memang sudah lama sekali bersahabatan. Dari mereka masih anak SD yang sama-sama tukang menyontek, sampai sekarang sudah menjadi anak SMA yang tetap... tukang contek juga, tapi dengan cara lebih profesional. Mereka berdua bagaikan paket hemat McD, tidak bisa dipisah.
Saking lengketnya, sampai ada yang bilang mereka seperti saudara kembar beda gender, bahkan ada juga yang iseng menyebut mereka pasangan tidak resmi. Satu hal yang selalu terdengar di mana-mana: Di mana ada Annovra, di situ pasti ada Axel.
***
"WOII ANNOVRA TURUN BEGO! LO MAU MATI HAH?!" teriak Axel, menatap jengah ke arah Annovra yang sedang duduk anteng di atas pohon mangga, seperti Tarzan lokal yang kelebihan gaya.
"Ck, berisik banget. Gue sumpal juga nih mulut lo pakai kaos kaki gue!" delik Annovra dari atas, matanya melotot ke arah Axel yang sudah seperti orang kesurupan.
Ekspresi Axel sekarang sudah seperti es campur, penuh rasa. Ada kesal, marah, khawatir, dan sedikit panik.
Keluar sudah sifat gila dari dua manusia absurd ini. Axel terus menyuruh Annovra untuk turun. Tapi gadis itu malah duduk santuy sambil goyang-goyang kaki.
"Turun Ra! Nanti lo ketahuan sama Buk Jamilah! Mau lo dihukum?! Ini masih di sekolah bego! Gak usah keluarin sikap kayak monyet lo itu di sini!!!" frustasi Axel sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Huh? I don't care, wleee, " ejek Annovra sambil menjulurkan lidahnya seperti anak TK yang gagal diajarkan sopan santun.
"Anjing kata gue mah," Axel sudah pasrah. Tapi masih sempat-sempatnya mencoba untuk mengguncang pohon itu dengan tenaga badak.
"Turun lo monyet! Turun!!" Axel terus mengguncang pohon itu hingga daunnya berjatuhan layaknya cinta bertepuk sebelah tangan.
"Woy anjing! Berhenti bego! Nanti gue jatuh, BABI!!!" pekik Annovra memeluk dahan pohon seperti hidupnya bergantung pada ranting rapuh itu. Yah, memang bener sih.
"Biarin lo jatuh, mati aja sekalian lo!" kesal Axel, setengah ngambek.
"Waah besti anjing lo Axel!" Annovra mencoba menjangkau buah mangga yang masih muda untuk dilempar ke kepala sahabatnya yang ngeselin itu.
Brukkk!
"AKHHH ANJINGGG!!!"
Sebelum sempat dapat mangga, Annovra lebih dulu terjatuh, dengan posisi telungkup yang sangat tidak elit, wajahnya nemplok ke tanah seperti pancake gagal matang.
Axel yang melihat itu langsung tertawa terbahak-bahak. Inilah persahabatan sejati. Pertolongan pertama? Tertawa dulu, baru panik.
"HAHAHA anjing Ra, kenapa lo kayak gitu? HAHAHA-" tawa Axel terhenti. Seketika wajahnya berubah saat menyadari... Annovra tidak bergerak sama sekali.
Tegang.
Dia mendekati Annovra dengan cepat, mengguncang-guncang lengannya. "Ra, bangun Ra! Ngapain lo tiduran di sana bego? Kotor tau!!" Axel terus mencoba membangunkannya.
Tapi tidak ada respon.
Seketika perasaan cemas menyelimuti dirinya. Ada rasa aneh di dadanya, seperti ditusuk ribuan jarum rasa bersalah. Dia semakin panik.
Axel membalik tubuh Annovra. Saat melihat wajah gadis itu berlumuran tanah, dia nyaris tertawa lagi, tapi rasa takutnya lebih besar dari lucunya. Wajah itu... diam. Tanpa ekspresi. Tanpa respon.
"Ra... bangun please," ucapnya lirih. Dia mendekatkan telinganya ke dada Annovra, mencoba mendengar denyut jantung atau napas. Tapi yang ada... hening.
Setetes air mata jatuh begitu saja dari matanya. Axel tak percaya. Sahabatnya, sekaligus orang yang secara diam-diam dia cintai, tergeletak diam tak bernyawa.
"Ra... jangan tinggalin gue plis..." isaknya, menempatkan kepala Annovra di pangkuannya. Dunia serasa runtuh.
"Ra... g-gue... maaf. Gue gak nepatin janji yang kita buat dulu. Gue... gue cinta sama lo, Ra..." ucap Axel dengan suara bergetar. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Ia menatap mata Annovra yang kini tertutup, tak lagi menyimpan sinar semangat khas gadis itu.
Sakit. Sungguh sakit.
Hatinya seperti dihancurkan dari dalam. Ia ingin kembali ke masa itu, ke waktu saat mereka tertawa bersama tanpa beban. Tapi kini, waktu seperti menertawakannya kembali.
Dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. Dengan suara nyaris tak terdengar, ia berbisik, "I love you, Annovra..."
Ia berharap Annovra tidak mendengarnya. Bukan karena malu... tapi karena dia takut. Takut dimarahi dari alam sana. Takut disemprot pakai kaus kaki bekas lagi.
Tapi lebih dari itu... dia hanya ingin gadis itu kembali. Hanya ingin tertawa lagi bersama.
***
- 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Annovra (Tahap Revisi)
Teen FictionBagaimana jadinya? jika Annovra, seorang gadis yang tengil, pecinta cogan, bobrok, jelmaan buaya betina, dan memiliki otak mines, mendadak mengalami nasib tak terduga: bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis pendiam, kalem, dan anggun? Dunia seakan j...
