2. transmigator? (revisi)

28.4K 993 10
                                        

Annovra sedang tidur nyenyak, mendengkur keras tanpa rasa bersalah. Matahari sudah bersinar cerah dari balik jendela, sinarnya menyelinap masuk dan mengenai wajahnya.

Burung-burung berkicauan meriah di balkon kamar, seperti sedang konser pagi. Tapi tidak ada satu pun dari itu yang mampu mengusik tidurnya.

Justru, dengkurannya semakin menggema, menandakan tidurnya semakin nyenyak seperti tak ada beban hidup.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang super keras membuyarkan semua kedamaian dunia mimpi Annovra. Dengan malas, ia membuka matanya sedikit, lalu menguceknya pelan sambil menguap lebar.

"Hahh…" gumamnya sambil menyandarkan tubuh ke kepala kasur, menatap langit-langit kamar dan melamun sebentar, mencoba menyadari kenyataan.

"BANGUN WOI BANGUN!! ANNOVRA BANGUNNNNN!!!" suara pekikan dari luar pintu membuat tubuh Annovra terlonjak kaget seperti habis terkena setrum.

"ANJING! GA USAH TERIAK JUGA, BABI! KAGET GUE!" teriak Annovra, sambil memeluk bantal erat-erat.

"Ehh?...." Hening.

Tiba-tiba, dahi Annovra mengernyit.

"S-suara gue... SUARA GUE KENAPA LEMBUT BANGET ANZENG?!" Ia melompat dari kasur, panik, lalu langsung menatap dirinya ke cermin besar di sudut kamar.

"ANZENGGG!!!!!" jeritnya. Kaget, sungguh kaget, Annovra dibuat terkaget-kaget dengan apa yang ia lihat.

Wajah itu... terlalu sempurna.

Itu bukan dirinya.

Itu terlalu cantik untuk jadi dia.

Annovra menyentuh pipinya yang lembut dan halus layaknya marshmallow premium.

"INI PIPI APA KAPAS? KENAPA LEMBUT BANGET?!" teriaknya histeris. Ia mencubit-cubit pipinya sendiri, berharap ini hanya mimpi, tapi nyatanya sakit.

"I-IINI SIAPA? INI BUKAN GUE!" Annovra mundur perlahan, seperti melihat hantu, hingga akhirnya ia jatuh terduduk di lantai, wajahnya masih melongo.

"ATAU... ATAU JANGAN-JANGAN.... GUE TRANSMIGATOR?!!!!!! EH.... TRANSMIGRASI?!!!!" jeritnya penuh semangat, lalu tersenyum selebar candi borobudur.

"Akhirnya! Impian gue selama ini terkabul! HAHAHAHAHA" Tawa jahatnya meledak seperti penjahat di anime.

BRAKK!

Pintu kamar Annovra tiba-tiba terlepas begitu saja dari engselnya akibat tendangan seorang laki-laki.

"Asu—eh?"

"Asu lama suka dia…" ucap Annovra berbinar menunjuk laki-laki yang baru saja masuk dengan gaya dramatis.

Laki-laki itu sangat tampan, bahkan nurul pun tidak cukup untuk mendeskripsikannya.

Annovra ini memang pecinta cogan garis keras, dan kalau Axel ada di sini, sudah dipastikan laki-laki itu akan menjadi samsak emosinya.

Laki-laki itu mendekat, sedangkan Annovra masih tersenyum-senyum bodoh seperti baru mendapatkan hadiah undian.

"Lo masih sehat kan, Ra?" tanya si laki-laki yang ternyata adalah Bara, abang kandung Annovra.

Annovra mengangguk cepat, menatap Bara penuh kekaguman, mulut terbuka lebar sampai iler menetes di dagunya.

"ANJING JWIIJIK, KENAPA LO RA? KOK JADI ANEH GINI DEH?" Bara melotot bingung melihat adiknya.

"Babyyyy," panggil Annovra manja.

Detik berikutnya, PLAK! dahi Annovra langsung digebuk tangan Bara.

"BABY PALA BAPAK KAU! BUKA MATA LEBAAARR! GUE ABANG LO! BUKAN BABI LO!" Bara kesal setengah hidup.

"ANJENG KAU, KU KIRA BAEK, TERNYATA TAEK!" cibir Annovra sambil melempar bantal ke arah Bara.

"Ya salah lo sendiri lah, ketipu sama ketampanan gue," Bara balas dengan gaya sok narsis.

"Huweek! Narsis amat. Jijay kebangetan," geli Annovra, seluruh rasa kagumnya langsung lenyap seperti duit tanggal tua. Pupus sudah harapan yang tadi sempat berbunga.

Annovra mendengus kesal, begitu juga dengan Bara. Mereka saling tatap penuh emosi, lalu hening sejenak.

Bara bingung, sementara Annovra... pikirannya sudah seperti jalan tol bercabang lima belas, berputar sendiri.

"Annovra."

"Baby."

Mereka berbicara bersamaan. Annovra langsung senyum-senyum geli sendiri, sedangkan Bara memicingkan mata.

"Cieeeee barengan ni yeee~ jodoh nih jodoh~ kiw kiw cukuruk!" goda Annovra, menaik-turunkan alisnya seperti cacing kepanasan.

"Apa salah hamba ya Tuhan? Kenapa manusia di depan saya tiba-tiba berubah jadi Ultraman?" keluh Bara dramatis, sementara Annovra melongo.

Mereka berdua, bisa dipastikan... prik! Tidak waras.

***

"Ekhem woho wesowoeieo ekhem ekhem!" Annovra berdehem lebay, tapi tetap diacuhkan oleh Bara yang sudah kebal.

Entah kenapa sekarang hobi Annovra adalah mengusili Bara tiap ada kesempatan. Rasanya kepuasan batin sekali.

"Bisa nggak—"

"Gak bisa," potong Annovra cepat, membuat Bara hampir menangis sejadi-jadinya.

Bayangkan, Annovra yang dulunya lemah lembut, anggun, berkelas. Sekarang? Menjadi makhluk bar-bar, gila, tengil, dan semena-mena.

"Gue jadi kepikiran, jangan-jangan ni orang anak pungut, ya?" gumam Bara pelan, tapi sayangnya masih terdengar jelas oleh Annovra.

"EH EH? MULUTNYA, MULUT! MAU DIGOSOK PAKAI GPU?!" ancam Annovra sambil ngejar Bara yang sudah udah mulai mengumpet di balik sofa.

Tiba-tiba, suasana jadi hening.

"Oh iya... Mama sama Papa mana?" tanya Annovra, nadanya mulai serius. Bara mendadak mematung, lalu menatap Annovra dengan pandangan sulit dijelaskan.

"Lo nggak ingat? Kalau Mama sama Papa ninggalin kita... demi selingkuhan mereka masing-masing?" Bara menaikkan sebelah alis.

Annovra terdiam. "Eh iya kah...? Aduh jadi nggak enak nih... haha. Maaf, kayaknya... gue anemia deh, gara-gara kejedot pintu."

"Amnesia, GOBLOK!" Bara kesal, langsung melempar bantal sofa ke wajah Annovra.

"YAKK?? SHIBAL SEKKIYA!!" Annovra melotot, lalu meloncat ke arah Bara dan memukulinya menggunakan bantal dengan penuh semangat.

Dan begitulah pagi yang indah... berubah menjadi gulat bantal dua saudara yang sama-sama kehilangan akal.

***


Jangan lupa tinggalkan jejak 🐾
Komen 💬
Dan vote ⭐

👇⭐

Transmigrasi Annovra (Tahap Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang