Annovra sudah siap dengan seragam SMA yang melekat sempurna di tubuh rampingnya. Rok sebatas lutut dengan kemeja putih yang diselipkan rapi, ditambah dasi panjang yang terikat malas-malasan di leher.
Rambut panjangnya ia biarkan terurai bebas, sedikit berombak, menambah aura.
Dia berdiri di depan kaca full body yang menempel di pintu lemari, menatap pantulan dirinya sendiri dengan penuh kagum, bahkan bisa dibilang terlalu kagum.
"CK! Ini mah bukan manusia, bidadari ini woe!" serunya sambil berpose ala-ala model catwalk.
Annovra terus memuji dirinya, memutar-mutarkan badan sambil senyum-senyum sendiri seperti habis menang undian.
"Perfect banget ni manusia! Gila sih, ini fix banyak yang bakal kepelet di sekolah nanti," katanya sambil mengedipkan matanya ke arah cermin dan melempar ciuman ke dirinya sendiri. Percaya diri? Lewat.
Setelah puas dengan sesi muji-diri sendiri-nya, Annovra mengambil tas ransel pink kesayangannya dan keluar dari kamar dengan langkah mantap seperti bintang sinetron.
"PAGI BABYY" teriak Annovra lantang sambil melambaikan tangan lebay ke arah Bara yang sudah duduk manis di meja makan, sarapan roti dan telur.
"Masih pagi jangan teriak-teriak," Bara memperingatkan dengan nada malas, matanya masih setengah terbuka saking ngantuknya.
"Pagi itu waktunya menyebarkan cinta dan energi positif, beb," jawab Annovra, lalu duduk di kursi sebelah Bara sambil menatapnya dengan pandangan genit ala sinetron.
"Bab beb bab beb… lo pikir gue apaan?" kesal Bara sambil mengernyit, tapi Annovra malah terkikik geli menatap wajah Bara yang terlihat ingin pingsan.
"Au ah, roti buat gue mana?" Annovra mencondongkan tubuh ke meja, matanya mengincar roti yang masih tersisa satu.
"Cari aja sendiri, dasar ratu ongkang-ongkang," gumam Bara tanpa menoleh.
Annovra mendengus kesal, tapi matanya masih terkunci pada roti terakhir itu.
Saat Bara ingin memasukkan roti itu ke mulutnya, tangan Annovra dengan cepat menyambar dan merebutnya.
"Makasih bro rotinya," katanya santai, lalu dengan tanpa dosa mengunyah roti hasil rampasan itu sambil tersenyum puas.
"Terserah, sumpah terserahhh..." Bara ingin menangis sekarang. Dia sudah tidak tahan dengan kelakuan Annovra yang makin hari makin absurd. Tapi di balik itu semua... dia merasa lebih hangat. Lebih hidup.
Annovra yang dulu terlalu kalem, pendiam, dan anggun, sekarang berubah jadi manusia super ceplas-ceplos seperti pantat ayam yang terkena cabe. Tapi justru itu yang membuat rumah ini menjadi tak sepi.
***
Beberapa menit kemudian, Bara dan Annovra sudah sampai di depan gerbang sekolah mereka. Murid-murid terlihat sibuk berlalu-lalang, ada yang lari-lari karena takut terlambat, ada juga yang sibuk main HP padahal sudah tinggal lima menit bel masuk.
Annovra berdiri kagum di depan gerbang, menatap megahnya bangunan sekolah dengan mata membelalak.
"Ini sekolah? Gede banget, anjirr... Ini mah kaya istana Hogwarts versi lokal. Kira-kira berapa lama ya bikinnya? Seratus tahun? Atau jangan-jangan ini warisan nenek moyang?" gumamnya, melamun panjang.
Namun, lamunan indah itu terhenti ketika kerah belakang bajunya ditarik kasar oleh Bara.
"Hik! Anjing lo Bara, lepasin WOI!" jerit Annovra, berusaha memberontak, tapi tetap saja gagal. Bara terlalu kuat.
Padahal Annovra sudah merancang strategi jalan elegan dari rumah, jalannya pelan, anggun, leher tegak, pandangan ke depan, agar murid-murid langsung klepek-klepek.
Tapi semua itu hancur karena ulah abang tengil satu ini.
Belum cukup, Bara malah mengepit kepala Annovra di ketiaknya.
"LEPAAAS WOIIII!" teriak Annovra, nekat menepak-nepak lengan Bara.
"BAU KETEK LO BANGKE! INI MAH KETEK AROMA JENGKOL CAMPUR BAU ROKOK WARUNG!" umpatnya sambil megap-megap.
"Wangi gini dibilang jengkol. Lo emang ga punya standar hidup," sinis Bara sambil melepaskan kepitannya.
Annovra langsung menghirup udara dengan rakus seperti baru keluar dari kulkas. Rambutnya acak-acakan, pipinya merah, penampilan hancur total.
Dia segera memperbaiki rambutnya dengan wajah panik. "Astagfirullah, nanti kalo gak ada cogan yang kepelet gimana? Kan gawat ini," gumamnya sambil mencolek poni.
Lalu…
"Bara."
Suara berat dan dingin itu mengalihkan perhatian Annovra. Ia menoleh... dan seketika jantungnya serasa hendak copot.
Mata tajam. Dagu tegas. Senyum tipis. Postur tegak dan aura dominan yang bikin orang otomatis diam. Cowok itu... Sangat tampan.
"Siapa tuh?" batin Annovra langsung panik kagum.
"Tutup mulut lo," Bara langsung menutup mulut Annovra menggunakan telapak tangannya, karena mulut adiknya sudah menganga seperti ingin menangkep lalat.
"HMPHH BAU KAOS KAKI!" teriak Annovra sambil melepaskan tangan Bara dengan jijik.
"Kenapa, Gar?" tanya Bara pada cowok itu, Algara.
Tapi Algara tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Annovra dengan bingung. Kemarin dia sempat melihat Annovra saat baru pindah sekolah. Gadis yang anggun, sopan, dan kalem. Tapi yang ini?
Sengklek.
Annovra yang ngerasa ditatap terus, malah makin halu. Dia nekat menepuk lengan Algara pelan-pelan sambil menyengir malu.
"Aaa~ Oppa dedek jadi maloee~" katanya dengan suara sok imut, menutup mulutnya sambil cekikikan.
Seluruh murid di lapangan langsung kaget.
"Eh? Berani banget dia nyentuh Algara woi!"
"Jangan kan nyentuh, natap aja gue takut dosa."
"Beri dia penghargaan. A+ buat keberanian tingkat gaban."
Bara langsung membelalak. Tanpa pikir panjang, dia menarik kembali kepala Annovra dan mengepitnya di ketiaknya yang sudah berkeringat akibat jalan kaki dari parkiran.
"Hehe, sorry bro, ini anak emang agak-agak dikit," kata Bara ke Algara sambil menjitak kepala Annovra.
"Aduh, sakit baby!" Annovra meringis sambil memegang dahinya.
Bara sebenarnya malu setengah mati, tapi anehnya, Algara hanya... diam. Bahkan saat Annovra mencoleknya tadi, laki-laki itu tidak marah. Sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terganggu. Hanya... diam. Itu justru makin membuat Bara bingung.
"Hmm," Algara hanya berdehem lalu pergi meninggalkan mereka.
"LO YA!" Bara langsung menjitak kepala Annovra lagi.
"ADUHHH BATU BARA! SAKIT GOBLOK!" Annovra kesal lalu menginjak kaki Bara sekencang mungkin.
"AWW!!" Bara langsung melepas Annovra, wajahnya menahan sakit.
Annovra tidak membuang waktu, ia langsung kabur dari sana, lari sekencang-kencangnya tanpa menoleh lagi.
Dia tak peduli dengan tatapan murid lain. Terserah mereka ingin mengatakan apa. Karena Annovra hanya membutuhkan tatapan cogan.
Eh, tapi… bukannya cogan juga manusia? Ah, entahlah. Otaknya juga sudah mulai konslet seperti kipas angin terbakar.
***
Tinggalkan jejak 🐾
Komen 💬
Dan
Vote ⭐
Tandai typo 📌
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Annovra (Tahap Revisi)
Teen FictionBagaimana jadinya? jika Annovra, seorang gadis yang tengil, pecinta cogan, bobrok, jelmaan buaya betina, dan memiliki otak mines, mendadak mengalami nasib tak terduga: bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis pendiam, kalem, dan anggun? Dunia seakan j...
