9. algara? (revisi)

17.2K 672 6
                                        

Malam harinya, Annovra keluar sendiri, dia berjalan kaki ingin pergi ke toko makanan terdekat.

Dinginnya hawa malam, mengharuskannya memakai hoodie oversize dan celana panjang.

"Behh, dinginnya cuyy. Gue butuh pelukan cogan," dia memeluk dirinya sendiri.

Sepanjang jalan, napasnya terlihat seperti asap putih tipis, keluar setiap kali ia menghela napas. Jalanan tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa motor yang sesekali lewat, sisanya hening. Lampu jalan menyinari langkah kakinya yang malas-malasan, sesekali ia menggesekkan tangannya untuk sedikit menghangatkan diri.

Sesampainya di toko, Annovra langsung teralihkan perhatiannya oleh tumpukan makanan. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru masuk ke toko mainan. Dia mulai membelai-belai banyak sekali makanan, bahkan sambil bersuara pelan.

"Lo bakal masuk kulkas gue, lo juga, lo juga..." katanya, seakan-akan makanan-makanan itu mengerti. Sekalian buat persediaan isi kulkas yang belakangan sering kosong gara-gara dia terlalu mager untuk belanja.

Annovra ingin mencapai sebuah cokelat, yang sialnya ditaruh di rak paling atas. Tangannya menjulur, jinjit-jinjit, tapi tetap saja tidak sampai.

"Gila, ini yang nyusun rak tinggi banget apa gimana sih," rutuknya kesal.

Di saat itulah, pangeran tanpa kuda menolongnya. Seseorang tiba-tiba mengangkat tubuh Annovra dari belakang, menggendongnya dengan enteng seakan dia tidak berbobot.

Dengan sekali raih, Annovra berhasil mengambil cokelat itu. Saat menoleh untuk melihat siapa orang yang menolongnya, matanya membelalak. Ternyata itu adalah Algara. Lagi?!

"Makasih," Annovra tersenyum kikuk, sementara Algara hanya balas mengangguk dingin tanpa suara.

Setelah itu, Annovra berjalan ke kasir untuk membayar. Ia merogoh saku hoodie-nya, tapi tiba-tiba rasa panik melanda.

Dia tidak menemukan apa pun di dalam hoodie-nya.

"Um... itu, Mba, sabar ya," ucapnya sambil cengengesan, masih berusaha mencari. Tangannya bolak-balik masuk ke saku, berharap dompetnya muncul secara ajaib.

Padahal tadi ia jelas sudah menaruhnya di dalam hoodie, tapi kenapa bisa hilang?

"Mampus gue..." gumamnya panik, sampai menggigit bibir bawahnya.

Tiba-tiba, uang merah dua lembar disodorkan di meja kasir. Annovra tertegun, lalu menoleh. Lagi-lagi, Algara.

Mbak kasir yang paham maksud Algara langsung menghitung belanjaan Annovra.

Padahal belanjaannya tidak banyak, hanya beberapa plastik kecil. Tapi kenapa Algara memberi uang banyak?

Apa dia nggak bisa ngitung? Atau dompetnya cuma isinya uang merah semua?! batin Annovra.

Setelah semuanya selesai, Annovra menenteng dua plastik belanjaannya. Dia menatap Algara sambil mengangkat tangan dengan gaya lebay.

"Wahai oppa Algara yang tampan, terima kasih sudah membantu gadis cantik yang malang ini," ucapnya penuh drama.

Algara hanya mengangguk singkat, lalu langsung pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.

"Lah? Dasar tembok jalan, es batu, kaku kayak kayu," rutuknya kesal sambil mulai berjalan pulang.

Sementara itu, di dalam mobilnya, Algara tak henti-hentinya memegang dada yang terus berdetak kencang.

***

"Annovra cantik pulang!" seru Annovra begitu masuk rumah. Hening. Tidak ada yang menjawab.

"Babi? Babi? Babi bara? Batu bara?" Annovra kebingungan. Bukannya tadi Bara masih duduk di sofa sambil main game?

"Au ah bodo amat," katanya akhirnya, lalu membawa plastik ke dapur. Ia mulai menata barang belanjaan, satu per satu dimasukkan ke kulkas dan lemari.

Saat menoleh ke wastafel, beberapa piring kotor sudah menumpuk di sana. Ia menghela napas panjang.

"Tugas pembantu emang nggak pernah ada habisnya," gerutunya, tapi tetap saja ia mulai mencuci piring sambil bersenandung.

Baru saja ia asyik-asyiknya menyanyi, tiba-tiba belakang lehernya terasa dingin. Seperti ada yang meniup pelan.

Tubuhnya bergidik, tangannya refleks mengusap belakang leher. Perlahan, dia membalikkan tubuhnya, dan—

"AAAAAAA HANTUUUUU!!"

"AHAHAHAHAHAHA!"

Ternyata Bara, yang langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah ketakutan Annovra.

"BATU BARA! BABI!" Annovra menjerit kesal, lalu memukul lengan kekar abangnya berkali-kali.

"Aw sakit, Nov! Udah, woi!" Bara meringis, tapi tetap saja tertawa.

"Maksud lo ngapain, ha?! Lo mau gue mati muda?!" Annovra mendelik kesal. "Asal lo tau, gue belum nikah sama lima puluh cogan gue!"

"Lima puluh~," ucap Bara sambil nyanyi-nyanyi meledek.

"Akh terserah," Annovra mendengus lalu melanjutkan cuci piring.

Bara masih ngakak. "Cuci yang bersih ya, pembantu," katanya sambil mengacak-acak rambut adiknya, lalu langsung kabur sebelum Annovra ngamuk beneran.

"BARAAAA!!!"

***

Malam itu, setelah suasana kembali tenang, Annovra dan Bara duduk di sofa ruang tamu. Mereka menonton film kartun-si botak kembar yang jadi favorit Annovra sejak kecil.

Namun di tengah tawa kecilnya, Annovra tiba-tiba teringat kembali pada sesuatu. Permintaan arwah Annovra... tentang bagaimana dia akan menemukan mamanya.

Wajahnya saja dia tak tahu. Lalu bagaimana dia bisa mencarinya?

"Annovra," panggil Bara tiba-tiba.

"Hm?" Annovra menoleh, berdehem kecil.

"Lo... pengen ketemu mama?" pertanyaan itu membuat mata Annovra membulat. Seakan Bara bisa membaca isi kepalanya.

"Enggak," jawabnya pelan, lalu menunduk. "Tapi... gue mau liat wajah mama kayak gimana."

Bara terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Tunggu sini. Ada sesuatu yang mungkin bisa sedikit bikin kerinduan lo terbayar."

Ia berdiri, melangkah pergi ke kamar. Tak lama kemudian, Bara kembali dengan sebuah foto tua di tangannya. Foto itu sudah agak kusam, tapi masih terlihat jelas.

Bara menyodorkannya. "Ini, lihat."

Annovra mengambil foto itu dengan ragu. Matanya langsung berkaca-kaca.

Seorang wanita paruh baya, cantik, berdiri sendiri dalam foto.

"Ini... mama?" suaranya bergetar.

Air matanya menetes begitu saja, jatuh ke foto itu. Rasa sakit yang entah datang dari mana menusuk hatinya.

Dia tidak tahu kenapa dirinya menangis sekeras ini. Atau mungkin... ini adalah perasaan asli Annovra, yang selama ini tersimpan?

Bara menatap sendu, lalu berkata pelan, "Maaf... gue nggak bisa bantu lo buat ketemu mama."

Annovra hanya mengangguk kecil. "Gapapa... mungkin lain kali, gue bisa... ketemu mama."

Bara menarik tubuh adiknya ke dalam pelukan. "Udah, jangan nangis. Lo kalau nangis jelek," katanya sambil mengusap rambutnya.

Annovra membalas pelukan itu, membenamkan wajah ke dada Bara. Ia merasa sedikit hangat.

Bara menepuk-nepuk punggung adiknya, dagunya bertumpu di atas kepala Annovra. Lama-kelamaan, dengkuran kecil terdengar.

Bara terkekeh melihat Annovra yang dengan mudahnya tertidur. Wajah gadis itu terlihat damai sekali, jauh berbeda dari biasanya.

Dalam hati, Bara berbisik lirih, "Lo nggak sendirian, Nov. Gue ada di sini..."

***

Tinggalkan jejak 🐾
Komen 💬
Dan
Vote ⭐

Tandai typo 📌

Transmigrasi Annovra (Tahap Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang