11. pertemuan singkat (Revisi)

15.2K 595 1
                                        

Annovra berjalan seorang diri di trotoar, ditemani kesunyian yang menusuk telinga, hanya suara jangkrik yang bersahutan jadi pengiring langkahnya. Malam itu begitu lengang, seolah dunia menolak ikut campur dengan kesedihan yang dipeluk gadis itu.

Dia merapatkan hoodie oversize yang dipakainya, menarik tudungnya lebih dalam agar tak langsung terkena hembusan angin malam yang dingin. Tangannya diselipkan ke dalam kantong hoodie, berjalan pelan tapi pasti, seperti ada beban tak terlihat yang menekan pundaknya.

Sampai di taman, Annovra berhenti sejenak. Matanya menatap hamparan bunga yang masih terlihat segar dan indah meski malam mulai larut. Kelopak bunga-bunga itu berkilau terkena pantulan lampu jalan, seolah menghibur siapa pun yang memandang.

Dia mendudukkan dirinya di bangku taman, menarik napas panjang sambil memejamkan mata. "Hahh…" hembusan napasnya terdengar berat.

Gimana caranya gue bisa bantu pemilik tubuh ini? pikirnya.

Apa ada sesuatu yang tertinggal di memori tubuh ini? Atau alamat rumah mamanya? Atau… apapun yang bisa jadi petunjuk?

Keningnya berkerut, jemarinya mengetuk pelan lututnya seiring pikirannya yang berputar. Hingga… matanya tiba-tiba menyipit, menangkap siluet seseorang yang sangat ia kenali di kejauhan.

"...Axel?" gumamnya pelan, nyaris tercekat di tenggorokan. Tatapannya melebar tak percaya.

"Gak mungkin… kan? Axel? Di sini? Buat apa dia jauh-jauh ke tempat asing begini?"

Annovra berdiri buru-buru, matanya tak berkedip menatap sosok itu. Degup jantungnya kian kencang, seperti genderang perang yang ditabuh tanpa irama. Dia melangkah maju, semakin dekat, semakin yakin.

Pukk!

Tangannya refleks menepuk bahu pemuda itu. Sang empu sontak terlonjak kaget, menoleh dengan wajah penuh tanda tanya. "Eh? Maaf, lo siapa ya?" tanyanya dengan alis berkerut.

Mata Annovra membelalak. Jantungnya nyaris copot. Wajah itu—ya Tuhan—itu memang Axel. Tidak salah lagi.

"Axel? L-lo… Axel?" tanyanya lagi terbata, suaranya serak menahan emosi.

Axel menatapnya makin bingung. "Hah? Dari mana lo tahu nama gue?" Nada suaranya waspada, seolah sedang berhadapan dengan orang asing yang terlalu tahu banyak.

Annovra tercekat, lidahnya kelu. Jemarinya gemetar lalu buru-buru menarik tangannya.

"Maaf… kayaknya gue salah orang," ucapnya cepat, suaranya gugup. Kepalanya menunduk rendah, menutupi wajahnya dengan tudung hoodie.

Tanpa berani menatap lebih lama, Annovra segera berbalik, meninggalkan Axel yang masih terpaku di tempat.

Axel mengernyit, menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh, lalu menghilang ditelan gelap.

"Dia siapa…?" gumamnya pelan, masih berusaha mencerna kejadian barusan.

Annovra terus menghela napas sejak pertemuan singkat itu. Hatinya seperti diremas.

"Hah… brengsek," umpatnya sambil menendang kerikil kecil di trotoar. Ada rasa gak rela, ada perasaan hampa.

"Ngeliat wajah Axel… jadi keinget ODGJ yang sendalnya hilang. Kasian, sumpah. Kayak… 'eh sendal gue mana, bro?'" lirihnya sendu, meski sudut bibirnya tersenyum kecut.

Dia menunduk, matanya menjadi berkaca-kaca. "Jadi kangen Axel… huwaaa…" raungnya meledak tanpa aba-aba. Suaranya pecah, tangisnya meraung tak jelas.

Kenangan mereka berdua memutar seperti kaset rusak di kepalanya. Tawa, marah, ejekan, sumpah serapah, semua menari liar dalam pikirannya.

"Axel… gue kangen lo… anjing…" isaknya pecah lagi. Ingusnya meleleh, disekanya ke lengan hoodie tanpa peduli.

Dia menghirup dalam, lalu membuang napas berat. "Yang penting hidung gue lega…" gumamnya asal.

Air matanya belum berhenti. "Awas aja lo, Axel! Kalo ketemu lagi, sumpah gue tonjok muka tengil lo itu sampe bonyok! Biar puas!" ancamnya parau, tapi wajahnya tetap berlinang air mata.

Dia berhenti berjalan, memilih duduk di trotoar, menatap kosong kendaraan yang lewat kencang. Lampu-lampu mobil memantul di matanya yang sembab.

Wajahnya ditopang kedua tangan, lalu menguap lebar. "Huahh…" gumamnya sambil mengusap mata. Kelopaknya berat, nyaris terpejam, tapi suara kendaraan terus membangunkannya.

"Anjrit, gue udah kayak pengemis begini," desisnya. "Coba gue taro kaleng depan gue, pasti ada yang ngasih duit receh. Minimal seribu buat beli gorengan…" Dia menyengir getir, lalu bangkit kembali.

Kakinya melangkah ragu, matanya melirik ke kanan-kiri. "Jangan sampe ada begal… gue kagak bawa dompet, duit pun kagak ada. Cuma modal hoodie sama ingus. Kan gak lucu kalo di-begal," gerutunya sambil melipat tangan di dada.

***

Sesampainya di rumah, suara Bara langsung menyambar. "Lo dari mana, Ra?" tanyanya sambil menatap curiga.

Annovra menghela napas, masih menunduk. "Tadi… gue ketemu orang. Mukanya mirip ODGJ yang sendalnya hilang… kasian banget gue liatnya," ucapnya dengan wajah sedih setengah pura-pura.

Bara mendengus pasrah. "Ya Ampun, Ra…" gumamnya sambil memijat pelipis. Kapan sih lo bisa sedih beneran? Bisakah sekali aja serius? batin Bara.

"Iya-iya, terserah lo aja. Yang penting gue gak ikut campur," ujarnya lagi, mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi, tanda ogah ribut.

Dalam hati, Bara nyaris ketawa miris. Kalau kayak gini terus, jangan-jangan gue ikutan sengklek juga.

Eh? Kalau dipikir-pikir, Bara baru tersadar, sepertinya virus sengklek Annovra udah menular ke dirinya. Buktinya waktu di kantin, dia tertawa terbahak-bahak hanya karena wajah konyol Annovra.

Annovra mendongak sedikit, menatap Bara. Senyum tipis mengembang, tapi matanya tetap sembab. Lalu dia mengangguk sedih, melangkah gontai ke kamar.

Duggg!

"Aduh…" Annovra meringis, baru aja nabrak tembok. Tangannya mengusap jidatnya yang merah.

Bara ikutan meringis, tangannya refleks menyentuh kepalanya sendiri. "Astaga, Ra…" gumamnya lirih. Dia menatap punggung Annovra yang menjauh, tubuhnya goyah bagai daun diterpa angin.

"Kasian banget…" pikir Bara dalam hati, perasaan iba menyelimuti.

***

Kasian sekali Annovra 😔, aku jadi ikutan sedih, pasti kalian sedih juga kan? Sampai nangis 3 mangkuk besar? Enggak sama dong kita.

Tinggalkan jejak 🐾
Komen 💬
Dan
Vote ⭐

Tandai typo 📌

Transmigrasi Annovra (Tahap Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang