Aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan punya cerita yang bisa dibilang panjang ini, saat itu kamu datang menawarkanku pelukan dan genggaman yang hangat.
Siapa yang tidak tersentuh dengan itu, kamu memutuskan untuk masuk kerumahku, padahal kamu tau rumahku penuh lubang dan rusak. Kamu bilang tidak apa-apa nanti kita akan perbaiki bersama, kamu berjanji akan selalu menemaniku.
Aku pernah sebahagia itu, aku belum pernah di peluk dan di sayang sebesar ini seperti saat bersama kamu. Kamu mengenalkanku pada banyak warna meskipun dulu yang kutahu hanya abu-abu.
Terimakasihku tidak sampai disitu, karenamu aku sangat bersemangat setiap kali menunggumu pulang dan kita menghabiskan waktu bersama setiap minggu.
Tapi, entah apa yang salah di perjalanan kita aku merasakan kamu berbeda. Tidak ada lagi sapaan setiap pagi dan obrolan hangat setiap malam, kesibukanmu sekarang menjadi alasan bahwa ternyata aku tidak semenarik dulu lagi untuk kamu utamakan.
Aku kehilangan momen manis itu sekarang, dan kunikmati sendirian setiap kali aku merindukan kamu. Perlahan ku biarkan diriku menangis setiap malam berharap kamu pulang lagi kerumahku. Tapi harapanku pupus setelah aku tahu bahwa kamu masih ingin bersama masa lalumu, dia masih jadi pemenangnya ternyata.
Ah, ternyata aku bodoh sekali ya. Aku tidak menyadari situasi dari awal bahwa aku hanya teman saat masa sepimu, aku tidak pernah benar-benar jadi rumah untukmu.
Sekarang aku mengerti, akan aku lepaskan kamu perlahan dan kunikmati lukanya sendirian, lagi. Meski cerita panjang ini tidak sampai pada bab akhir yang aku ingin, tapi Senang pernah menemukanmu diantara banyak manusia, kamu salah satunya, yang paling membekas dan aku setengah mati menghapusmu.
Cinta kita padam, tapi aku tetap keras kepala menahanmu di hatiku. Kamu tetap menjadi bagian yang akan aku hirup setiap harinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sembuh & Tumbuh
Ficção GeralKita adalah rapuh namun kita tidak boleh runtuh. Tolong, biarkan jiwa kita tetap utuh
