BAGIAN 14 | Pikiran Yang Terjadi

867 8 0
                                        

Sebelum kalian membaca pastikan sudah menekan bintang

﹆🦋╌╌ Sienna ✧ David ╌╌🦋﹆

﹆🦋╌╌ Sienna ✧ David ╌╌🦋﹆

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

・。.・゜✭・.・✫・゜・。.

Langit sore Jakarta yang terlihat akan muram, sama seperti seorang pria yang sedang melangkahkan kakinya memasuki lobby hotel miliknya sendiri

Baru dua hari setelah kegiatannya di Malaysia, pikirannya belum juga tenang, bayangan sienna yang menangis di bawah hujan masih melintas di benaknya namun bersamaan dengan ingatannya pada sienna ia malah dihadiri seorang Perempuan yang ia kenal betul Gerak-geriknya

Empat tahun bukan waktu singkat, tapi wajah itu masih sama — hanya lebih matang, lebih bahagia.

Kiara.

Dengan memegang tangan pria itu dengan erat membuat David terpaku di tempatnya, bukan karena masih cinta tapi karena kenangan lama yang ia kubur seperti bangkit Kembali tanpa peringatan

Apa dia ingat dengan anaknya?

Apa dia lupa kalau punya anak?

Batin david saat melihat kiara yang berjalan santai tanpa melihat david yang melihat dirinya

David menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya.

"Empat tahun, ya..." gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Ia lalu berjalan pelan menuju area parkir basement, menyalakan mesin mobilnya, tapi matanya masih kosong menatap jalan.

"Vio... kalau kamu tahu, mungkin kamu gak akan mengerti kenapa papa masih diam."

Dan untuk pertama kalinya setelah lama, David merasa benar-benar sendiri — bukan karena ditinggalkan, tapi karena akhirnya sadar.

beberapa pertemuan hanya ditakdirkan untuk mengingatkan, bukan untuk mengulang.

David menyalakan mesin mobilnya dan dengan cepat ia menyusuri jalanan ibu kota untuk menuju kantornya, sore hari ini Dimana orang-orang akan pulang dari kantor namun berbeda dengan David yang akan pergi ke kantornya, karna seharian ini ia berada di luar kantor untuk meeting dan visit di hotel barunya.

Begitu sampai di gedung kantor pusat, David langsung masuk lewat pintu utama tanpa banyak bicara. Karyawan yang berpapasan hanya menunduk sopan, tahu bahwa atasannya baru saja kembali dari perjalanan luar negeri.

Pintu ruangannya terbuka otomatis begitu ia menempelkan kartu akses. Ruang kerja itu luas dan modern — meja kayu gelap, rak berisi berkas yang tersusun rapi, dan dinding kaca besar yang menampilkan langit Jakarta yang mulai gelap.

David menjatuhkan diri ke kursi kebesarannya, memutar sedikit tubuhnya menghadap jendela.Tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme pelan, kebiasaan lamanya setiap kali berpikir.

For My DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang