BAGIAN 30 | Pertemuan Yang Tidak Dinginkan

902 12 0
                                        

Sebelum kalian membaca pastikan sudah menekan bintang

﹆🦋╌╌ Sienna ✧ David ╌╌🦋﹆

﹆🦋╌╌ Sienna ✧ David ╌╌🦋﹆

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


・。.・゜✭・.・✫・゜・。.


*satu hari sebelum ulang tahun vio

Malam ini david menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya, ia benar-benar gila kerja hingga lupa membeli kado untuk anaknya yang besok berulang tahun

Sebuah ketukan terdengar di pintu kaca ruangannya, riki, asisten pribadinya, masuk dengan setumpuk dokumen di tangan.

"Pak David, ini beberapa berkas yang harus ditandatangani" ucap riki memberi beberapa dokumen tersebut, David mengangguk singkat tanpa menoleh. Tangannya langsung bergerak, menandatangani halaman demi halaman dengan cepat namun tetap presisi.

"rik.. kosongin jadwal saya besok, karna saya gak ke kantor, pindahkan jadwal meeting yang untuk besok ke hari setelahnya" suara khas david memenuhi pendengaran asistennya membuat riki mengangguk

"baik pak, besok hanya 2 kali meeting akan saya ganti ke hari senin" ucap riki sedikit terkejut namun dengan cepat ia menutupi ekspresinya
Tidak ada jawaban dari david.

David sudah kembali menandatangani halaman terakhir, tidak memberi waktu untuk basa-basi.
Begitu selesai, ia menyerahkan kembali dokumen-dokumen itu tanpa menatap.

Riki menangkapnya dan segera keluar, menutup pintu pelan.

Ruangan itu kembali hening... hanya terdengar suara AC dan napas David yang berat.

Tanpa membuang waktu lagi, David mengambil ponselnya, jasnya, dan berjalan keluar dari ruangannya. Langkahnya panjang, cepat, namun tetap terukur.

Begitu pintu lift terbuka, hawa basement yang lembap menyambutnya.
Aroma bensin samar, suara langkah sepatu pantulannya bergema di ruangan luas itu.
David menuju mobilnya—SUV hitam yang terparkir rapi di spot pribadinya.

Tanpa pikir panjang ia masuk, menstarter mesin, dan menarik napas panjang sebelum melaju.

Mobilnya berhenti di basement mall, mesin mati, dan David turun sambil menarik napas panjang—semacam persiapan kecil sebelum masuk ke keramaian mall yang penuh lampu.

Sejak di perjalanan ia sudah memikirkan kado apa yang cocok. Dan ketika melihat toko sepatu anak-anak, langkahnya langsung mengarah ke sana.
Di dalam toko, ia berkeliling sambil memandangi deretan sandal dan sepatu kecil yang tersusun rapih. Jari-jarinya menyentuh beberapa model, membayangkan mana yang paling cocok dipakai Violetta.

For My DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang