[4] Perhatiannya

1 0 0
                                    

"Salahkah jika aku ada rasa melebihi pertemanan hanya karena dia perhatian? Jika aku salah, tolong ingatkan aku. Sebelum rasa ini terlalu dalam padanya."

___


"Punya siapa ini?" tanyaku menanyai seisi kelas.

Baru datang setelah istirahat, aku dikejutkan dengan cokelat batang di atas mejaku. Aku ga merasa memiliki maupun membeli. Lagipula aku ga suka cokelat batangan seperti ini.

"Punya siapa?"

Sialnya pertanyaanku tidak ada yang menjawab. Mereka membisu.

"Ambil aja lah. Daripada ribet."

Ambil aja? Semudah itu? Oh jelas tidak.

Aku menatap cokelat itu lama. Sangat menyayangkan jika cokelat mahal itu dibuang. Tapi apa benar cokelat itu diberikan padaku? Tapi dari siapa?

"Siapa sih? Anak kelas ini bukan?"

Aku bertanya pada salah satu teman perempuanku. Karena kemungkinan besar perempuan itu jarang berbohong.

"Bukan," jawabnya disertai gelengan kepala.

"Tapi emang diberikan ke aku? Atau gimana?" tanyaku lagi. Ini bukan pertama kalinya seperti ini. Tapi tak ada satupun yang kuterima. Baik itu cokelat atau setangkai bunga sekalipun.

Tapi cokelat ini sangat disayangkan jika dibuang. Tapi aku juga ga suka cokelat.

"Dari siapa sih?"

"Aku bisa dihabisi kalo kasih tau kamu itu dari dia."

Kok semakin mencurigakan? Apa jangan-jangan ini dikasih racun? Ah rasanya ga mungkin, bungkusnya saja masih aman.

"Terima aja lah, Lintang. Udah diberi juga."

Tapi ini bukan masalah diberi atau ga. Aku ga suka cokelat. Dan yang ngasih pun ga jelas. Andaipun yang ngasih jelas, ya akan kuterima. Meskipun bukan aku yang makan.

"Aiza," bisik temanku yang lainnya berjalan melewatiku.

Huh! Ternyata anak itu.

Apa iya aku harus menerimanya?

"Leci!" teriakku memanggil sahabatku Leci.

Kebetulan banget dia lewat di depan kelasku. Aku ga menyakiti hati yang ngasih cokelat kan semisal aku kasih cokelat ini ke Leci? Ga lah, yang ngasih aja ga tau siapa. Kalo yang ngasih orangnya jelas ya beda cerita lagi.

"Ada apa, Tang?" tanya Leci sewaktu aku datang menghampirinya.

Tatang adalah panggilan Leci untukku. Sedikit menggelikan, tapi gapapa. Khusus Leci aku izinkan memanggil seperti itu. Tidak untuk yang lain.

"Nih cokelat," tuturku memberikan sebatang cokelat.

Mungkin kalo ini aku kasihkan ke orang lain akan menimbulkan salah rasa. Dikiranya aku ada rasa, tapi tidak untuk Leci.

"Kamu sehat, Tang?"

Nah kan!? Pertanyaan yang muncul dari Leci aja malah kayak gitu.

"Alhamdulillah masih waras jasmani dan rohani."

Leci mengambil cokelat yang kuberikan. Dia mengamati cokelat tersebut dalam waktu yang cukup lama. Sampai-sampai matanya hampir keluar dari tempatnya.

"Dalam rangka apa nih? Perasaan ga lagi ulang tahun deh, Tang? Menang lomba ya? Kok ga denger info apapun?"

Ucapan Leci seakan-akan aku ga pernah ngasih apapun kalo ga ada acara tertentu atau reward tertentu. Meskipun kenyataannya seperti itu sih.

"Ga dalam rangka apapun."

"Bukan suap kan?"

"Engga ada."

Pada akhirnya Leci menerima cokelat itu. Meskipun sedikit adu mulut. Andai yang kuberi bukan Leci. Pasti langsung kegirangan. Ya bukannya kepedean. Tapi emang gitu kenyataannya.

***

Jum'at ini kegiatanku lumayan longgar. Iya longgar karena ga ada bimbel dan ekstra matematika. Jum'at itu waktunya have fun berpramuka. Ya have fun. Meskipun orang lain menganggapnya panas-panasan, bosenin atau apalah itu. Tapi menurutku ini waktu santaiku. Ini waktu have fun yang aku miliki.

Pernah dengar kata-kata kalo kita bahagia, rasa capek pun ga kerasa. Maka dari itu aku jarang banget mengeluh capek karena berpramuka. Justru sering merasa capek karena bolak-balik bimbel. Sebenarnya ga bolak-balik juga, tapi lebih ke capek dari bimbel satu ke bimbel lainnya. Dan itu empat hari dalam seminggu.

"Lintang, kalo capek kamu istirahat aja. Pucet banget loh," tutur Faiza padaku.

Faiza adalah pratama putri. Bisa dibilang partnerku satu tahun jabatan ini sih. Dia baik, minesnya cerewet.

Aku tersenyum menanggapi. Memang, perutku sejak tadi memang teriak kesakitan. Tapi aku abaikan. Udah tau punya asam lambung, masih aja sering nelat makan.

"Gapapa, kok. Aman."

"Udah lah, kamu istirahat aja. Pingsan nyusahin yang lain lho!"

Kali ini bukan Faiza, tapi Alsha. Wanita yang punya seribu cara agar dituruti, salah satu caranya dengan berbicara kasar. Tapi aku tidak marah, karena aku tau dia sebenarnya baik banget.

"Nanti aja, Sha."

"Kamu ke tepi dulu aja, aku punya roti. Aku ambil kan dulu. Asam lambung kan? Belum sarapan kan?"

Aku tersenyum sekilas. Kalo dah kayak gini sepertinya aku harus nutut. Kalo lawan Alsha, telingaku yang kalah. Karena dia akan mengeluarkan seribu kata hanya agar aku menuruti perkataannya.

Kalau tentang menyuruh menjaga pola makan, ini bukan kali pertama Alsha menyuruh hal demikian. Bahkan kalau untuk hal menjaga pola makan dia lebih cerewet dibandingkan bunda. Kalau bunda mungkin hanya sepatah dua patah. Itu pun aku bersyukur sekali jika bunda masih ingat pola makanku. Meskipun itu hanya beliau lakukan seminggu sekali, bahkan bisa sebulan sekali.

Tapi aku menyadari hal itu. Karena beliau juga sibuk bekerja. Aku pun juga sibuk dengan tugasku sendiri. Apapun itu perlu ku syukuri.

"Kalo udah tau punya penyakit lambung, kenapa ga dijaga sih pola makannya? Tau aktivitas padet ya harusnya gimana tau kan."

Dia memberiku dua buah roti, tapi nasihatnya lebih dari itu."

Dia pernah bercerita alasannya. Katanya kakaknya meninggal karena penyakit lambung. Sebab itu ibunya Alsha sangat menjaga pola makan Alsha, karena ibunya tak mau kehilangan Alsha seperti kehilangan kakaknya dulu.

Itu juga yang dijadikan Alsha ketika kerap kali memintaku menjaga makan. Tapi apa iya, Alsha tidak mau kehilangan aku?

"Iya, Sha. Udah ya, ceramahnya."

"Kalo ga mau diceramahin ya harus dijaga pola makannya. Aku tau kamu ada masalah keluarga. Aku tau masalahmu ga mudah. Tapi ya jangan ke pola makan imbasnya. Ga mood, ya ga mood aja. Tapi jangan sampai ga makan."

Salahkah jika aku ada rasa melebihi pertemanan hanya karena dia perhatian?

Jika aku salah, tolong ingatkan aku. Sebelum rasa ini terlalu dalam padanya.

Lintang MalamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang