Minggu, 4 Juli 1993

37 0 0
                                    

Ini kali pertama ia menyusup keluar dari rumahnya. Ia panjat jendela kamarnya lalu mendarat tepat di halaman depan rumahnya dengan kedua kaki yang hampir patah. Naresha Komalasari langsung bangun dari tanah untuk berlari pelan menyeberangi pekarangan rumahnya, mengejar sorotan lampu mobil yang sengaja dikedip - kedipkan baginya untuk menandakan bahwa jemputannya sudah tiba.

Kakinya ia ayunkan ke atas pagar rumahnya lalu dengan lincah, ia belokkan tubuhnya sehingga ia bisa bergerak dengan lebih leluasa untuk memanjat lewat tembok yang membatasi pekarangannya dengan trotoar jalanan komplek.

Setelah berhasil menapakkan kakinya pada pematang jalan, Naresha langsung berlari ke arah mobil yang terparkir di ujung jalan. Sambil ia berjalan, mobil itu pun mati lampunya dan berangsur mendekati dirinya. Jendela mobil dibuka dan kunci pada tiap pintunya terbuka. Di kursi setir, ada gadis yang hampir tak ia kenali tampangnya. 

Dengan riasannya, rambutnya yang seperti baru saja ditata dari salon, serta kaus tutung hitamnya yang memeluk tiap lekuk tubuhnya--ketika ia tersenyum penuh pada dirinya, ia sadar bahwa Syanala masih saja Syanala yang ia kenal. Gadis itu turun dari mobil lalu membukakan pintu kursi depan untuknya seakan ia sedang menyambut seorang putri.

"Good evening, your majesty," kelakar Nala, "you look gorgeous."

"Makasih... kamu juga. Aku suka... style kamu." 

Naresha tersipu dan kecewa terhadap dirinya sendiri karena rasa gugupnya. Maka, demi menutupi rona wajahnya, ia memalingkan kepalanya sambil naik ke dalam mobil Nala. Setelah masuk, ia tutup pintu mobilnya sendiri sementara Nala berjalan memutari kendaraannya untuk duduk kembali di kursi sopir.

Ia terdiam sebentar lalu mulai menyalakan mesinnya. Naresha yang merasa aneh dengan perilaku Nala langsung menanyakan keadaannya namun Nala tidak menjawab. Ia hanya menarik nafas yang dalam sebelum menghelakannya dengan pelan.

"Kita bakal pergi ke club malam ini."

Naresha langsung ikut membisu untuk meredam ledakkan yang sedang terjadi di balik rusuknya.

"Apa?" ia akhirnya bersuara.

"We are going to party." Syanala ungkap dengan senyum yang konyol di wajahnya, tidak gusar dengan ekspresi pada wajah Naresha yang menyampaikan kegelisahannya pada informasi yang baru saja Syanala sampaikan.

"Nals, we were supposed to go watch a movie tonight. You promised." Naresha terdengar sangat terkhianati karena merasa sudah dikibuli temannya namun ia masih berusaha untuk berbicara dengan halus dan sopan padanya.

"Boleh tapi setelah itu, kita ke SE, oke? I brought another dress in the trunk. You can borrow it." Syanala menunjukkan ibu jarinya ke bagasi tapi Naresha menolak untuk mengikuti arahannya. Ia menggelengkan kepalanya lalu tertawa kecil, tidak mempercayai kenyataan yang ada di depan matanya.

"Aku tahu... aku sering bilang kalau aku mau pergi ke SE tapi ya nggak tiba - tiba gini juga."

Syanala mendesau tapi ia mengerti alasan Naresha untuk menolak tawarannya. Setelah beberapa saat, ia mulai memundurkan mobilnya lalu memutar setirnya untuk belok ke jalan raya di penghujung komplek perumahan. Sambil melihat kiri kanan untuk memastikan bahwa tidak ada kendaraan lain yang lewat, ia mengucap: "Resha, you have the option to say no. Just say the word and we can just stick with the movies."

Resha tanpa pikir panjang langsung menjawab dengan gesit, "Bioskop. Kita ke bioskop malam ini. Nggak kemana - mana lagi."

Nala dengan ikhlas menganggukkan kepalanya tapi tidak sebelum ia memetik lidahnya dengan kecewa.

SemejaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang