-Happy Reading-
"Ayah..."
Cleo menatap tubuh pucat ayahnya yang sedang dimasukkan ke dalam ambulance. Anak perempuan itu begitu shock sampai tidak bisa mengatakan apapun selain kata 'Ayah'.
Tiba-tiba tangan Cleo digenggam Edward. Edward mengajaknya masuk ke dalam mobil ambulance bersama dengan May.
Sepanjang perjalanan Cleo hanya diam. Pikirannya masih berusaha mencerna semua kejadian yang dirasa sangat tiba-tiba ini. Pagi tadi ayahnya masih baik-baik saja. Bahkan ayahnya masih membangunkannya dan mengucapkan selamat ulang tahun.
Selama 15 menit di dalam ambulance Cleo masih tidak mengatakan apapun. Anak itu bahkan tidak panik apalagi menangis.
Ambulance sudah sampai di rumah sakit terdekat, para tenaga medis mengeluarkan brankar Fred dengan cekatan namun tetap hati-hati. Mereka mendorong brankar itu ke Unit Gawat Darurat agar Fred segera mendapatkan penanganan dari dokter.
Edward berlari lebih dulu menyusul para tenaga medis dan menjelaskan sesuatu kepada dokter yang sedang menangani Fred.
"Bawa dia ke ruang ICU, Cepat!"
ICU?
Kenyataan apalagi ini? Sebenarnya ayahnya sakit apa? Cleo masih bertanya-tanya apa yang terjadi pada ayahnya. Mengapa mereka harus memindahkannya ke ruang ICU, harusnya mereka hanya merawatnya di UGD saja. Ayahnya hanya pingsan.
Butuh waktu 30 menit untuk dokter memeriksa keadaan Fred. Cleo, Edward, dan May hanya mampu menatap tubuh Fred yang sedang dipasang banyak alat medis dari kaca yang menjadi pembatas.
Cleo masih tidak mengerti, sakit apa ayahnya sehingga alat-alat medis sebanyak itu harus dipasang di tubuh sang ayah, seolah ayahnya sedang sekarat. Dokter yang memeriksa Fred pun keluar. Mereka bertiga langsung berdiri hendak menanyakan kondisi Fred.
"Keluarga tuan Wilson?"
"Saya kerabatnya, ini putrinya" kata Edward.
Cleo masih diam tanpa suara, menunggu apa yang akan dokter katakan mengenai kesehatan ayahnya.
"Tubuh pasien sangat lemah, dia harus mendapatkan penanganan intensif sel kanker ditubuhnya menyebar dengan sangat cepat bahkan sudah menyebar hingga paru-paru nya. Sepertinya kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan"
Cleo diam. Anak itu mundur beberapa langkah lalu terjatuh. Ia merasakan lantai rumah sakit yang terasa begitu dingin. May tidak sempat menangkapnya.
Anak itu shock!
Kanker? Dan ayahnya? Bagaimana bisa?
Semua pernyataan dokter itu berputar di kepalanya. May mendekap tubuh rapuh Cleo. Istri Edward itu sudah menangis tersedu-sedu mendengar kabar mengenai kesehatan Fred.
"Paman bohong" gumamnya
"Paman sudah berbohong padaku, bibi paman berbohong padaku!!" Cleo menatap Edward dengan penuh kekecewaan.
"Nak--.
Belum sempat Edward berucap Cleo sudah berdiri dan menarik kerah kemejanya.
"PAMAN BOHONG!!!!! KENAPAA?!!! KENAPA PAMAN BERBOHONG?!!" Cleo berteriak histeris, ia memukul dada Edward melampiaskan kemarahannya, membuat seluruh orang yang sedang berada di koridor ICU terkejut akan teriakan anak itu. Edward tidak melawan, ia membiarkan anak itu melampiaskan emosinya.
Pecah sudah tangisan anak itu. Cleo menangis sejadi-jadinya. Cengkraman di kerah Edward mulai terlepas. Cleo kehabisan tenaganya. Ia terduduk sambil menangis. May mendekap tubuh anak itu dan membisikkan kata-kata penenang, berharap anak itu akan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Should be Happy But
AcakCleopatra Wilson hanya ingin bahagia untuk waktu yang lama.
