Versi wattpad belum di revisi, tunggu versi cetaknya yang akan segera terbit dengan judul '13 Maret Rumah Tanpa Jendela' di Teori kata publishing🫶🏻
"Untukmu Haikal Mahendra, lelaki hebat yang tertawa tanpa harus merasa bahagia." - Rumah Tanpa Jend...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Katanya Allah nggak pernah ngambil sesuatu kecuali di gantikan dengan yang lebih baik, lantas apa yang lebih baik dari kasih sayang seorang nenek?"
- Haikal Mahendra.
Kaki jenjang itu melangkah memasuki bangunan tinggi berlantai dua. Satu tangannya menenteng jaket kulit berwarna hitam yang sudah menjadi kebanggaannya dari beberapa tahun yang lalu. Kedatangannya di sambut dengan main setengah baya yang sudah bekerja dengan keluarganya dari dirinya masih kecil.
Wanita setengah baya itu mengambil alih jaket kulit serta kunci motor yang menggantung di jari telunjuknya. Membawa kedua benda berharga itu kedalam kamarnya. Sementara pemiliknya melangkah menuju ruang tamu berada.
"Mommy's child has come home?" teriakan melengking Mommy Leen menggelegar di ruang tamu luas di mansion itu.
'Anak mama sudah pulang?'
Cakra mengangguk pelan, kakinya melangkah duduk di samping Mommy nya menyandarkan kepalanya di pundak wanita setengah baya itu.
Wanita setengah baya dengan balutan dress panjangnya itu mengusap surai rambut putranya lembut, "you look very tired, son."
'kau terlihat sangat lelah, nak.'
Cakra tak menjawab, tapi kedua tangannya memeluk pinggang ramping wanita cantik itu erat, sedikit mendongakkan kepalanya guna mengecup pipi Mommy nya singkat. Kemudian dia kembali menyandarkan kepalanya di pundak sang Mommy.
"Cakra hungry mom." lirihnya pelan, sambil kembali mengeratkan pelukannya pada pinggang Mommy nya.
'Cakra lapar mom.'
Jari-jemari lentik itu menyisir rambut putranya lembut, "what do you want to eat, son?"