[FOLLOW SEBELUM BACA]
Ini, tentang seorang anak yang masa depannya direnggut oleh orang tuanya sendiri.
Bukan itu saja, Zera Lulisa Alexzandri juga selalu dituntut sempurna.
Padahal keinginan Zera hanya satu: dia ingin menjadi seorang penulis.
Zer...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Teman sejati adalah harta yang tak ternilai, maka hargai dan janganlah persahabatanmu Garden korenzo
*****
Suara kicauan burung terdengar mendayu-dayu dari luar jendela, gemercik air hujan terdengar merdu serta menyejukkan suasana pagi itu. Kenyamanan yang tercipta membuat seseorang menarik selimut putihnya hingga menutupi sebagian tubuh, hingga pada akhirnya sebuah tangan lembut dengan suara halus menyapa Nathan.
"Nathan. Lekas bangun dari tidurmu." Rina beranjak dari sisi ranjang menuju jendela, jemari lentiknya menyingkap tirai berwarna hitam.
"Bangun, lihat burung-burung di luar sana. Mereka sudah beraktivitas dan mengepakan sayap indah mereka."
"Lihat jam, sekarang sudah jam berapa, apa kamu ingin datang terlambat? wahay putraku." Rina, membuka perlahan pintu lemari, mengambil seragam yang seharusnya hari ini Nathan kenakan. Diletakkannya tepat di samping sang putra.
Nathan menggeliat. Tubuhnya yang hanya terbalut dengan celana pendek tanpa atasan. Menampakan bagian perut, berbetuk seperti roti sobek yang sangat nikmat jika disantap saat cuaca dingin seperti saat ini.
"Maaf, Mi..," gumam, Nathan dengan suara berat khas bangun tidur. Dengan gerakan malas, ia berusaha bangkit dari kasur seraya mengucek mata yang masih terasa berat. Sesekali disela langkahnya ia merapikan rambut yang berantakan.
"Kalau sudah siap langsung ke bawah, Mami sama Papi tunggu dimeja makan," ucap Rina yang diangguki oleh Nathan. Melihat respon dari sang anak, ia melenggang menuju pintu.
Tak perlu menunggu lama, saat ini Nathan terlihat muncul dari sudut ruangan. Dengan langkah ringan, ia sedikit berlari menuruni anak tangga sembari merapikan dasi yang terlihat miring, memberikan kesan santai. Namun, tetap stylish.
Dengan tatapan tajam dan sikap yang tenang, Nathan mampu mengisi setiap penjuru ruangan dengan kehadiran dirinya yang memancarkan keberanian dan ketegasan. Ruang tersebut dipenuhi dengan atmosfer yang penuh dengan aura keberanian dan kekuatan. Sikap tenang itu dirinya warisi dari sang Papi.
Saat putranya tiba di ruang makan, Johan tersenyum hangat. Melirik ke arah kursi kosong yang berada di sampingnya—mempersilahkan Nathan duduk di sebelah dirinya. "Good morning, boy."
Lengan seragam yang sengaja dirinya limat menampakkan otot-otot pada lengannya. Ia mengambil sepotong roti yang tersusun rapi dalam sebuah piring. "Good morning too."
Rina datang dengan membawakan segelas air susu hangat, ia melatakkannya tepat di samping sang putra. Sebelum ia menjauh dan duduk di kursinya. Rina membisikkan sesuatu kepada sang anak, yang mampu membuat Nathan tersedak air susu.
🥀🥀🥀🥀🥀
Suara riuh yang selalu mengisi kelas saat menunggu kedatangan guru. Tidak mampu mengusik seorang pria muda duduk dengan tenang di kursi barisan belakang, netra hitamnya bersinar di tengah ruangan yang redup.