Rembulan telah sirna. Kini matahari memancarkan sinarnya. Sinarnya indah, seindah senyuman sosok perempuan yang saat ini berada di toko buku. Ia terlihat cantik dengan hodie hitam, celana jeans hitam, serta topi hitam yang melekat padanya. Ya! serba hitam memang.
Lebih cantik lagi kalau pakai hijab sih .. ya ga?
Dia adalah Alkheleena Azzila Queenza. Gadis bar-bar dengan tingkah absurdnya. Gadis yang begitu kuat topengnya sehingga orang lain meng-klaim bahwa dirinya hidup tanpa beban dan masalah.
Ia mengedarkan pandangan ke kanan ke kiri guna mencari buku yang sudah lama di incarnya. Tak berselang lama ia menemukan keberadaan buku itu. Oh tidak! buku itu terletak di rak paling atas. Ia memang tinggi namun sangat tidak memungkinkan untuk menggapai buku itu.
Dengan segala upaya ia lakukan namun nihil buku itu belum bisa ia gapai. Alih alih meminta bantuan, ia justru duduk memeluk kedua lututnya dengan pandangan lurus kedepan.
"Susah banget dapetin tuh novel, mana tinggi banget lagi. Susah digapai kayak cowo fiksi gue. Udah ga nyata, ga bisa digapai pula. Nih novel cosplay cowo fiksi kali ya?" Ucapnya menggerutu kesal.
Gadis itu bangkit dari duduknya. Ia melihat seorang laki laki dengan hodie hitam serta sarung hitam dan juga masker hitam-tengah memegang novel yang di incar olehnya. Tanpa ada rasa malu sedikit pun, ia merebut buku yang ada di genggaman lelaki yang tak dikenalnya.
"Buat gue aja ya, lo ambil lagi. Makasih!" ia bersorak kegirangan lalu melenggang pergi.
Lelaki itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah-si gadis bar bar. "So cute, gadis kecil! Dia ga berubah. Selalu seperti itu, gadis titisan Nu'aiman," Lelaki itu tersenyum tipis penuh arti.
Eleena telah berhasil memeluk novel yang selama ini ia incar. Setelah membayar tadi ia duduk di luar toko yang tersedia kursi panjang disana.
"Arrgh mimpi apa gue, akhirnya bisa peluk lo!" Eleena mengangkat novel itu keatas.
Dengan perasaan yang luar biasa senangnya, dia membuka novel itu dan membacanya dengan lengkungan bulan sabit yang tak pudar di bibir mungilnya.
Kurang lebih 10 menit ia menyelesaikan 3 bab dibuku itu.
Setelah dirasa puas, ia memutuskan untuk lanjut membacanya dirumah.
Ia bangkit dari duduknya dan melenggang pergi menuju tempat dimana motornya ia parkirkan.
Saat ia hendak menaiki motornya, tiba-tiba netranya menangkap anak kecil yang berlari ditengah jalan. Eleena membulatkan matanya terkejut. Karena dari ujung ada mobil yang melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Sepertinya sopir tersebut sedang mabuk.
Grepp
Eleena mendekap tubuh anak itu agar menjauh dari tengah jalan. Sikunya sedikit tergores akibat bergesekan dengan trotoar jalan. Sedangkan anak kecil tersebut sudah dibanjiri air mata yang meluruh.
"Kamu gapapa, dek?" tanya Eleena seraya mengelus pucuk kepalanya.
Anak kecil itu hanya mengangguk dengan derai air mata.
"Mutiara!!" Anak kecil itu menoleh ke arah samping dan Eleena yang juga ikut menoleh.
"Lo?"
"Kamu kok bisa ada disini?"
"Bisalah! Kan ini jalan umum" jawab Eleena jengkel.
"Mutia, kamu gapapa?" Laki laki itu menyamakan tingginya dengan anak kecil yang di tolong oleh Eleena.
"Aku ngga apa-apa kak. Kakak cantik ini menolongku," jawab anak kecil itu seraya menunjuk Eleena dengan mata sembabnya.
"Kamu menolong adekku? Kejadiannya bagaimana?" tanya lelaki itu dengan menundukkan pandangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ending With Him; {ON GOING}
De Todo⚠️ CERITA INI MURNI DARI PEMIKIRAN SAYA SENDIRI ⚠️ --Jika ada kesamaan tokoh atau alur itu suatu ketidaksengajaan-- ••• "Kakak janji akan kembali. Di masa depan nanti, kamu akan jadi milik kakak seutuhnya. Untuk sekarang, kita sama-sama berjuang, ya...
