Hari senin menuju minggu memang terasa sangat jauh dan lama. Sejauh aku dengan dia, dan selama penantianku menunggu hadirnya.
Hari ini adalah hari Senin. Hari yang paling di benci oleh para siswa-siswi SMA Cempaka Putih. Kecuali Eleena. Entahlah, ia merasa begitu bersemangat saat menjalani upacara di bawah sinar matahari yang terpancar dengan terangnya.
Disaat murid pada umumnya merasa kepanasan dengan tertik matahari saat upacara, berbeda dengan Eleena. Ia justru menikmatinya.
Aneh.
Saat ini ia bangun lebih pagi dari biasanya. Efek sangking semangatnya menyapa hari Senin. Raut wajah Eleena terlihat berseri-seri---tak sabar menjalankan upacara pagi ini.
Ia segera menuju kamar mandi dengan setengah berlari. Hingga menubruk pintu kamar mandi.
"Haish! Ini pintu ngapain disini? Ngerusak pagi indah gue aja!"
Tak mempedulikan itu lagi. Ia segera masuk kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat lebih pagi dari hari biasanya. Lebih tepatnya---hari selain Senin.
Tak membutuhkan waktu lama Eleena keluar dari kamar mandi dengan handuk yang bertengger di kepalanya.
Senyum tak pudar dari bibir tipisnya. Entahlah, ia begitu senang dan bersemangat hari ini. Apalagi setelah upacara nanti ada mata pelajaran Matematika.
Jika kalian mengira bahwa Eleena menguasai bidang Matematika---kalian salah! Ia hanya senang mendengar penjelasan dari sang guru. Paham tidaknya urusan belakang. Yang penting ia benar-benar ada niat dan tekad untuk bisa memahami serta menguasai materi yang menurutnya sulit di cerna otaknya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. "Oh cantik sekali anaknya Bunda dan Ayah." Ia memuji dirinya sekilas dan langsung menyampirkan tas ransel ke pundaknya.
Dengan langkah yang terlihat anggun---ia menuruni anak tangga tanpa memudarkan senyumannya sedari tadi.
Setibanya di meja makan, Eleena disuguhi dengan tatapan menyelidik dari Bunda dan Ayahnya. "Kenapa nih, senyum-senyum sendiri?" tanya lelaki paruh baya yang tak lain adalah Ayah Eleena.
"Iya nih. Ada apa, Na? senyam-senyum sendiri kaya orang gila?" Eleena mengerucutkan bibirnya kedepan mendengar penuturan dari sang Bunda.
"Ishh! Bundaa!!"
"Bercanda, sayang. Yaudah ayo sarapan dulu. Bentar-bentar, tumben kamu berangkat pagi, Na? biasanya berangkat mepet satu menit sebelum gerbang di tutup." tawa Nira pecah saat mengingat muka putrinya saat gerbang sekolah waktu itu hampir ditutup. Awalnya, satpam bersikukuh tetap menutup gerbang dan menghukum Eleena. Namun satpam tersebut luluh dengan ucapan ngawur Eleena yang dipercayai satpam tersebut.
Flashback On
"Aduh Bunda! Gerbangnya mau di tutup tuh. Eleena duluan, ya, Bunda!" Dengan cekatan, Eleena mengecup punggung tangan Bundanya.
Nira geleng kepala melihat aksi Eleena yang tengah berusaha membujuk satpam yang bersikukuh menutup gerbang.
"Hai pak satpam!" Sapa Eleena basa-basi dengan satpam di sekolahnya. Eleena melambaikan tangannya serta menyengir.
"Tidak bisa, Neng! Neng sudah terlambat!" Sepertinya Satpam dihadapan Eleena ini mengerti maksud akan basa-basi nya yang menjadi awalan membujuk satpam dihadapannya.
"Pak, tau gasih? Katanya nih, Bi Rati itu udah lama suka sama bapak tau. Semenjak bapak jadi duda-eh" Eleena menutup mulutnya dengan telapak tangan, disaat kata yang tak seharusnya terlontar malah ia katakan secara blak-blakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ending With Him; {ON GOING}
Acak⚠️ CERITA INI MURNI DARI PEMIKIRAN SAYA SENDIRI ⚠️ --Jika ada kesamaan tokoh atau alur itu suatu ketidaksengajaan-- ••• "Kakak janji akan kembali. Di masa depan nanti, kamu akan jadi milik kakak seutuhnya. Untuk sekarang, kita sama-sama berjuang, ya...
