"Seharusnya kamu ceritain dari awal dong Dis. Tadi aku kaget banget, pas dia kenal aku sedangkan aku ga kenal dia"
Disinilah kedua gadis itu berada. Di toko bunga. Sesuai perkataan Lea sebelumnya, ia akan ke toko bunga setelah dari cafe.
"Serius Lea, awalnya gue juga pengen ngomongin ke lo langsung. Tapi ga ada waktu yang tepat hehe" Adista berbicara dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Topik pembicaraan mereka saat ini adalah, Gavin yang ternyata adalah sepupu Adista, dan juga ternyata suka dengannya.
Lea terus mengajukan pertanyaan tentang Gavin aka katingnya itu. Bahkan pada saat mereka turun dari mobil.
Bukan kepo atau ke Gr-an. Lea hanya bingung dan sedikit ragu tentang Katingnya itu.
Flashback on...
"Dista"
Adista menoleh ke arah Lea. Hanya sekejap, karena saat ini ia sedang menyetir. Bisa-bisa mereka tertabrak kalau ia tidak fokus. "Kenapa nih?" Ia menanggapinya singkat.
"Tadi kan, pas di cafe. Aku nganterin minum ke salah satu meja. Ada orang yang kenal aku, tapi aku ga kenal dia"
"Lo ga kenal dia, tapi dia kenal lo"
Lea mendengus tipis. Oh ayolah, ia kan memang berpikiran seperti itu awalnya. Ia hanya ber basa-basi terlebih dahulu.
"Iya juga. Katanya sih, dia kating kita di kampus. Namanya Gavin, ka—"
Ctittt
Untung saja Lea tidak terhantuk kaca mobil karena Adista yang tiba-tiba me-rem mendadak. "Dista!!" Suara Lea meninggi sambil menatap sinis perempuan itu.
Sesaat, Adista membeo mendengar nama yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Mendengar itu lah ia refleks me-rem mobilnya mendadak.
"Gavin?"
"Iya, katanya dia juga kenal kamu. Kamu kenal dia Dis?" Tanyanya lagi.
Adista tampak menimang-nimang pikirannya untuk buka suara atau tidak. Ia malas sekali harus menceritakannya sekarang. Yah walaupun ia berjanji akan menceritakannya juga pada Lea. Tapi tidak sekarang!.
"Emmm itu anu, i-itu. Gimana ya nyeritain nya. Bingung hehe"
Lea menepuk jidatnya sendiri. Ia bingung kenapa Adista gugup untuk membuka suara setelah mendengar ia mengucapkan nama katingnya.
"Kamu kenal ga Dis?" Sekali lagi, ia bertanya serius.
Jangan lupa bahwa keduanya masih berhenti di jalanan pasal rem an mendadak tadi. Alhasil, mereka masih berada di tempat yang sama. Untung saja jalanan ini tidak cukup ramai. Jadi tidak terlalu beresiko untuk berhenti sebentar.
"Gini Lea, seharusnya gue ngomongin ini ke lo udah lama. Tapi ga sempat hehe. Si Gavin yang lo omongin itu emang kating kita, dan lebih tepatnya dia tuh—
—sepupu gue"
Adista menggantung ucapannya sejenak sebelum mengatakan yang sebenarnya. "Kok kamu ga pernah cerita Dis?" Selidiknya.
"Nah itu, gue kurang akur sama dia. Jadi untuk apa di ceritain?" Iya juga. Kenapa juga ia harus sekepo itu?.
Jika Adista kurang akur dengan Gavin. Kenapa Gavin katingnya itu bisa begitu kenal dengannya?. Tidak mungkin kan karena perihal sekampus?. Hey, ia tidak sepopuler itu sehingga banyak dikenali. "Kenapa dia kenal aku?" Kali ini Adista harus benar-benar mengatakannya.
"G-gavin suka sama lo"
Oke, kali ini Lea bungkam mendengar penuturan dari Adista tentang Gavin. "Gavin s-suka aku?" Selanjutnya ia membeo seperti Adista tadi.
Kenapa bisa?, Kenapa bisa katingnya itu suka padanya?. Dari ucapan Adista tadi, banyak terlontar pertanyaan di dalam benaknya. "Kamu serius Dis?" Ia akan yakinkan sekali lagi.
"Iya. Itu awalnya pas kita di dekat pagar kampus waktu itu, lo ingat ga?. Ternyata dia ga jauh dari tempat kita sambil ngelihatin lo. Semenjak itu, dia maksa gue buat ceritain tentang lo. Lebih tepatnya dia suka sama lo" Lea hanya mengangguk kecil menanggapi penjelasan Adista.
"Maafin gue ya Lea. Gue baru omongin"
"Iya, gapapa"
"Kita berangkat?" Adista bertanya guna mengalihkan topik agar tidak terlalu canggung. Ia tahu bahwa sahabatnya itu pasti masih ragu tentang penjelasannya tadi.
"Iya Dista"
Setelahnya keduanya melanjutkan perjalanannya ke tempat yang seharusnya daritadi mereka datangi.
Flashback off...
Keduanya sempat duduk melamun setelah memperbincangkan masalah tadi. Ya sejujurnya, sambil menunggu pelanggan juga.
"Ehm permisi, mawar merah ini ada yang buketnya ga?" Satu pelanggan akhirnya datang, itu wanita paruh baya. Wanita itu langsung menunjuk dan menanyakan buketan bunga mawar merah.
Ia tersenyum ramah lalu segera beranjak untuk mengambilkan. "Bentar ya Bu, saya ambilkan" wanita paruh baya itu mengangguk.
"Duduk dulu Bu" Adista mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan. Pelanggan itu bagai raja bukan?.
Tidak lama untuk Lea mencarikan buket bunga mawar tersebut. Ia kembali menghampiri Adista dan pelanggannya. "Ini Bu, buket mawarnya" ia memberikan buket tersebut dengan ramah.
"Berapaan ya kira-kira?"
"Umm 65 ribu aja Bu"
"Ini uangnya. Makasih ya" wanita itu memberikan pembayarannya. "Sama-sama Bu, hati-hati di jalan" ia tersenyum dan dibalas senyuman juga oleh wanita itu.
Melihatnya, tidak sadar bahwa Adista juga ikut tersenyum. Sungguh, ia sangat kagum pada sahabatnya itu yang serba bisa dan juga ramah.
• • •
"Andai hari itu, kami yang kamu pilih. Pasti Lea tidak akan selelah ini"
Baru saja, ia keluar dari toko. Ia langsung melihat sang mantan suami dengan keluarga dan anak-anak barunya.
Deana, Ibu Lea. Wanita itu baru selesai mengantar pesanan kue ke salah satu toko. Tapi setelah keluar dari toko, ia langsung disuguhkan pemandangan yang sangat membuatnya terluka.
Tanpa sadar, air matanya jatuh begitu saja saat pikiran tentang Lea terlintas dibenaknya. "Kamu bahkan gatau seberapa mandirinya Lea sekarang tanpa kamu" ia mengusap air matanya.
Lea, anaknya itu sangat mandiri semenjak ia dan suaminya berpisah. Bahkan pada saat sekolah menengah dulu, Lea sering di-bully hanya karena dikatakan tidak memiliki seorang ayah. Sampai-sampai beberapa minggu ia tidak masuk sekolah karena sedih mendengar ucapan yang dilontarkan teman-temannya.
Tapi Deana sadar, bahwa sekeras apapun ia membela anaknya itu. Kenyataannya memang seperti itu, ia tidak akan bisa mengelak.
Dunia tidak adil bukan?. Ia dan sang anak mati-matian menafkahi diri, sedangkan mantan suaminya itu berbahagia dengan keluarga barunya tanpa pernah memikirkan mereka berdua.
Ia tahu anaknya itu sangat terluka semenjak hari itu. Tapi apa boleh ia buat?, Ia juga terluka dari hari itu.
Ia lelah, sungguh lelah. Tapi ia sadar bahwa Lea masih membutuhkan dirinya. Ia adalah seorang ibu, ia harus selalu ada disamping anaknya. Meski hidup serba kekurangan, setidaknya ia masih memiliki anak yang hebat dan kuat seperti Lea.
- To be continued -
KAMU SEDANG MEMBACA
ASHARA [ON GOING]
Teen Fiction❝Biar aku jelaskan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang dibenci. Dan biar aku ceritakan bagaimana rasanya berjalan di atas luka❞ - Lea
![ASHARA [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/357127019-64-k732577.jpg)