Shimai - 07

6.7K 564 66
                                        

.
.
.
.
.




Saat ini Chika tengah berada di salah satu gazebo yang ada di taman sekolah, ia duduk termenung sendirian sambil menatap kosong ke arah lapangan dimana banyak teman temannya yang sedang berolahraga disana.

Jam pertama pelajaran di SMA 48 pagi ini memang terlihat kosong semuanya, karena para guru sedang ada rapat untuk persiapan acara ulang tahun sekolah.

"Pagi pagi udah ngelamun aja mbaknya, awas kesambet"

Chika sedikit terkejut mendengar suara yang tiba tiba ada di belakangnya, ia menoleh, ternyata itu sahabatnya alias Jinan.

"Bikin kaget aja lo" Ucap Chika

Jinan pun duduk disamping Chika, "kenapa sih? ada masalah?" Tanya Jinan,

"Enggak" Jawab Chika singkat

"Hadeh, kita temenan udah bertahun tahun met! Gue tau lo lagi kenapa kenapa, cerita dong"

"Gue cuman lagi kepikiran adek gue aja Jinan"

"Soal dia yang belum maafin lo?"

Chika mengangguk, tanpa mengalihkan pandangannya.

"Gue bingung harus gimana lagi, harus ngelakuin apa lagi biar dia bisa maafin gue, gue kira setelah belakangan ini kita banyak moment berdua dia bakal luluh, ternyata enggak juga, apa gue se gak pantes itu buat dapet maaf dari adek gue sendiri?"

"Chik, gue mungkin gak tau apa yang lo rasain, tapi gue pasti yakin Azizi bakal maafin lo kok, ini cuman soal waktu aja" Kata Jinan sambil mengelus bahu Chika,

"Tapi ini udah berbulan bulan semenjak dia bangun dari koma Ji"

"Ya sabar, namanya kecewa kan gak bisa langsung ilang gitu aja, terus yang gue liat sekarang dia gak pernah nolak perhatian dari lo gak sih? Terus kemarin buktinya pas lagi butuh sesuatu dia mintanya ke lo, pas lo suapin juga dia gak nolak kan? itu hal hal kecil yang harus lo syukurin chik, karena seenggaknya Azizi gak se dingin dan se judes dulu"

"Iya sih, gue bersyukur banget akan hal itu, tapi ngeliat dia manja banget ke ci gre atau ci shani jujur aja hati gue sakit banget Ji, sangat berbanding terbalik dengan sikap dia ke gue, rasanya pengen nyerah aja" Kata Chika yang tanpa disadari air mata sudah turun membasahi pipinya,

"Lo mau nyerah? Perjuangan lo buat Azizi setelah sepuluh tahun cuman segini doang? Come on lah chik, lo cuman perlu sabar dan banyakin perhatian perhatian ke dia, gue sangat amat yakin dia bakal berubah cepat atau lambat"

Chika menoleh ke arah Jinan, dengan mata yang kembali berkaca kaca.

"Lo pasti bisa, gue yakin itu!" Ucap Jinan lagi sambil menatap mata Chika dalam dalam.

Chika pun berhambur ke pelukan Jinan, ntah kenapa air matanya justru bertambah deras, Jinan mengusap usap punggung Chika berulang kali untuk menenangkan sahabatnya itu.

"Gue pasti bakal bantu lo chik, gue bakal mikirin gimana caranya" Ucap Jinan dalam hati.

***

Dilain tempat, Azizi saat ini sedang berjalan bersama Ashel, mereka berdua baru saja membeli sarapan di kantin karena Ashel belum sempat sarapan dirumah jadi ia meminta Azizi untuk menemaninya.

"Azizi, Ashel"

Mereka berdua yang merasa namanya dipanggil pun menoleh, ternyata itu adalah sang guru killer siapa lagi kalau bukan bu Kinal.

"Bu Kinal manggil kita, kenapa tuh zoy?" Bisik Ashel,

"Gatau, udah samperin aja"

Dengan sedikit takut, Azizi dan Ashel berjalan mendekat ke arah Bu Kinal.

Shimai (END) | Segera TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang