𝕱𝖔𝖚𝖗

762 83 0
                                        

Malam musim gugur di Kerajaan Valeron terasa begitu sunyi dan dingin. Kalea melangkah perlahan menyusuri koridor belakang istana hingga kakinya menapak di rerumputan lembut taman raksasa. Setelah seharian penuh bergelut dengan tumpukan dokumen kerajaan yang memusingkan kepala, tempat ini adalah pelarian terbaik yang bisa ia temukan.

Di hadapannya, terhampar lautan mawar merah yang mekar dengan anggun di bawah siraman cahaya bulan perak. Kelopak mawar itu tampak berkilau, memancarkan aroma harum yang menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Taman megah ini didominasi oleh dekorasi batu obsidian hitam gelap yang berkilau di bawah sinar rembulan, menambah kesan mewah sekaligus misterius.

Kalea duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari batuan kristal hitam, mengembuskan napas panjang sembari memandangi langit malam. Untuk sejenak, ia bisa melupakan kalau ia adalah jiwa asing yang terjebak di dalam tubuh seorang ratu tiran yang dibenci.

"Menikmati pemandangan malam sendirian tanpa pengawal, My Queen? Tindakan yang sangat ceroboh untuk seseorang yang baru saja lolos dari maut."

Sebuah suara berat yang sarat akan nada sinis memecah keheningan. Kalea tidak tersentak. Ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran para predator ini yang selalu muncul tanpa suara.

Kalea menoleh dan mendapati Nathaniel sedang berdiri beberapa langkah di sampingnya. Pria berambut perak itu mengenakan kemeja hitam longgar dengan beberapa kancing atas yang terbuka, memamerkan kulit pucatnya yang kontras di bawah sinar bulan. Ia menyilangkan dada, menatap Kalea dengan senyum meremehkan yang khas.

"Jika aku ingin mati, aku tidak akan bersusah payah bangun dari ranjangku, Nathaniel," sahut Kalea tenang, meniru nada bicara Charlotte yang angkuh namun santai. "Ada apa? Apa kau ke sini hanya untuk mengacaukan ketenanganku?"

Nathaniel berjalan mendekat, lalu memetik sekuntum mawar merah dengan jarinya yang lentik. Ia memutar-mutar tangkai berduri itu tanpa rasa sakit sedikit pun.

"Aku hanya penasaran," ujar Nathaniel, matanya yang sehitam malam mengunci pandangan Kalea. "Kemarin Xantheus membawakanmu makan malam ke ruang kerja. Hari ini kau duduk di taman sendirian seperti wanita kesepian. Apa taktik barumu untuk menjinakkan kami adalah dengan bersikap menyedihkan, Charlotte?"

Nathaniel mendengus sinis, melemparkan mawar yang dipetiknya tadi ke pangkuan Kalea. "Jika iya, maka urungkan niatmu. Xantheus mungkin bisa kau kelabui dengan tanggung jawab kerajaannya, tapi tidak denganku. Jangan pernah berharap kami akan benar-benar patuh atau berlutut dengan sukarela di hadapanmu."

Kalea menatap mawar di pangkuannya, lalu kembali menatap wajah Nathaniel. Alih-alih marah karena sindiran tajam itu, Kalea justru menangkap sesuatu yang menarik. Nada bicara Nathaniel terdengar terlalu sinis, bahkan terkesan kesal. Mengapa pria ini repot-repot membahas perhatian kecil Xantheus kemarin?

Sebuah pemikiran nakal tiba-tiba terlintas di benak Kalea.

'Tunggu... apa dia sedang cemburu?'

Kalea tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak begitu memikat sekaligus misterius di bawah temaram rembulan. Ia bangkit dari duduknya, membiarkan mawar tadi terjatuh ke tanah, lalu melangkah perlahan mendekati Nathaniel.

"Kau membicarakan Xantheus dengan nada yang sangat tidak menyenangkan, Nathaniel," pancing Kalea, suaranya merendah, sengaja dibuat sehalus sutra. "Apakah kau kesal karena kemarin bukan kau yang mengantarkan sup itu ke ruang kerjaku?"

Nathaniel seketika menegang. Alisnya menukik tajam. "Apa? Jangan konyol. Untuk apa aku melakukan hal tidak berguna seperti itu-"

"Atau..." Kalea memotong kalimat Nathaniel sembari mengambil satu langkah maju lagi. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Kalea bisa merasakan aura dingin yang menguar dari tubuh sang vampir. Kalea mendongak, menatap lurus ke dalam mata Nathaniel yang mulai gelisah. "...kau merasa cemburu karena kupuji di depan Xantheus kemarin?"

"Cemburu?!" Nathaniel mendengus sepele, mencoba tertawa palsu untuk menutupi keterkejutannya. "Leluconmu semakin buruk, Charlotte."

Kalea tidak menyerah. Menggunakan insting kewanitaannya, ia mengangkat tangan kirinya secara perlahan. Dengan gerakan yang sangat halus, ujung jarinya menyentuh dada bidang Nathaniel, lalu merayap naik ke atas, melewati rahang tegas pria itu, dan berhenti untuk menyelipkan beberapa helai rambut perak Nathaniel ke belakang telinganya.

Sentuhan lembut Kalea yang tidak biasa itu seperti sengatan listrik bagi Nathaniel. Tubuh sang vampir kasta tertinggi itu membeku total.

Kalea mendekatkan wajahnya ke telinga Nathaniel, membisikkan kalimat dengan nada menggoda yang mematikan. "Jika kau menginginkan perhatianku, kau hanya perlu mengatakannya, Nathaniel. Tidak perlu menyindir saudaramu sendiri untuk menarik pandanganku."

Saat Kalea menjauhkan wajahnya untuk melihat reaksi Nathaniel, ia hampir saja kelepasan tertawa.

Di bawah sinar bulan yang terang, Kalea bisa melihat dengan jelas kalau telinga dan pipi pucat Nathaniel perlahan merona kemerahan. Semburat merah muda yang kontras itu menjalar hingga ke lehernya. Napas pria itu mendadak menjadi sedikit tidak teratur.

Menyadari kalau dirinya baru saja terpengaruh oleh godaan wanita di hadapannya, Nathaniel langsung menepis tangan Kalea dengan kasar, meskipun ia sengaja menahan kekuatannya agar tidak melukai pergelangan tangan gadis itu. Pria itu mundur dua langkah dengan wajah yang semakin memanas karena malu dan murka pada dirinya sendiri.

"Hentikan omong kosongmu!" seru Nathaniel, suaranya naik satu oktav karena panik. Ia memalingkan wajahnya yang memerah, mencoba mengembalikan harga dirinya yang runtuh.

Ia menatap Kalea dengan pandangan sengit, meski taring kecilnya mencuat karena emosi yang campur aduk.

"Aku ini vampir dari ras atas, mana mungkin tergoda dengan rayuanmu!" ketus Nathaniel dengan dada yang naik turun. Ia mencoba meyakinkan Kalea, atau mungkin meyakinkan dirinya sendiri kalau pertahanannya tidak sekacau itu.

Kalea hanya melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum kemenangan yang membuat Nathaniel semakin salah tingkah. Sang Ratu villain yang biasanya mereka takuti dengan cambuk, malam ini justru berhasil mengacak-acak hati sang vampir angkuh hanya dengan sebuah bisikan.

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤㅤㅤ₍ 𝕿𝖔 𝖇𝖊 𝖈𝖔𝖓𝖙𝖎𝖓𝖚𝖊...... ₎

Destiny After DeathCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang