Apakah cinta masih sama jika kau tahu ujungnya?
Mamaku bilang jodoh gak akan kemana. Aku percaya itu dari sekolah dasar sampai saat ini aku sudah duduk di sekolah menengah kejuruan. Mangkanya aku masih jomblo. Aku sih selalu pegang omongan mama, soalnya mama selalu punya omongan ajaib. Misalnya ketika barangku hilang, mama selalu bilang kalau diingat-ingat taruh di mana, pasti barangnya ketemu. Tapi ketemunya selalu pas beliau cari.
Aku selalu percaya mama, aku percaya kalau omongan ibu itu doa. Doa yang baik-baik aja sih, soalnya mamaku bilang aku pendek! Padahal ini gen punya mama! Lagian aku lebih tinggi dari Ying.
Aku nggak tau jodohku yang "nggak kemana-mana" itu doa baik atau buruk, soalnya sampai sekarang jodohku belum kelihatan hilalnya.
Kegiatanku cuman makan, tidur, belajar, menonton film, menggambar, bersih-bersih kalau disuruh mama, atau cuman bengong. Eh, sibuk juga aku mikirin mau nonton apa nanti.
Hidup berwarnaku cuman study tour atau hangout bareng Ying sama Yaya. Cerita dari Ying yang sering ketemuan sama pacarnya koko koko cina itu, atau juga cerita Yaya baru jadian sama Halilintar si paling Cyber Security, huh. Aku juga mau punya cerita romantis! Kalo slice of life mah baiklah oke. Ini masa angst?!
Daritadi aku cuman ngelamun sambil dengerin Yaya sama Ying ngoceh nggak jelas di cafe langganan kami. Aku bosan!
"Woi, (Name). Jangan ngelamun!" Dari gebrakannya sih suara Ying. Cewek keturunan Tionghoa berkacamata itu melambai-lambai tangannya di depan wajahku. "Apa sih Ying, cerita ya cerita aja".
Yaya dan Ying bersitatap. "Kamu kenapa deh? Lagi dapet kah?" Tanya Yaya. Aku mengangguk. Mereka kembali menatap satu sama lain sambil ber'oh' panjang.
"Kamu daripada ngebet pengen punya pacar mending fokus buat branding diri kamu. Kalo udah bisa dikenal sama orang, kamu bakalan lebih mudah bangun relasi. Pilih dah tuh mau jodoh yang mana." Aku menguap, lagi lagi ocehan Yaya. Aku malas.
Kenapa sih memangnya kalo aku nggak punya ambisi? Lagipula branding apalah itu juga belum kelihatan pucuknya sama sekali. Pengen ngehabisin waktu muda senang-senang aja, soalnya kalau udah di dunia kerja bakalan susah banget. Aku nggak mau stress. Kataku.
Aku menggunakan kedua tanganku untuk menopang dagu di atas meja, aku bosan. Yaya dan Ying terus berceloteh tentang dunia mereka, aku merasa kalau akhir-akhir ini aku nggak' cocok sama Yaya dan Ying.
Aku melihat seorang anak kecil yang hendak keluar bersama ibunya dari cafe, anak itu lihat aku. Sontak aku menaikkan salah satu alis tanda kebingungan. Anak itu menangis. Aku kaget. Anaknya nangis, ibunya bingung, aku juga bingung, kasirnya tambah bingung! Lihat! Anak kecil saja lihat aku langsung menangis. Dia pikir cuman dia aja yang bisa nangis. Anak itu digendong oleh ibunya yang kemudian segera keluar dari cafe menuju mobil. Kalau dilihat dari sini, ayahnya kelihatan bingung juga. Aku mendengus sebal.
"(Name), hari ini aku sama Ying mau ke Gramedoi, kamu mau ikut nggak?"
Selalu aja kayak gitu. (Name), aku sama Ying mau blablabla, kamu ikut nggak. Atau, (Name), aku sama Yaya tadi ketemu ini lalalala, mau tau nggak. Kenapa nggak ajak aku buat lihat juga? Maksudnya, kenapa kalian nggak bilang '(Name), ayo ikut ke sini.' Nggak usah pakai embel-embel kamu sama dia nemu hal "ini" terus baru ajak aku. Ajak aku juga buat ikut prosesnya! Huee ngerti nggak sih?? Mamaaa
"(Name)?!! Kamu kenapa nangis?! Astaga!" Ying memekik
"(Name)? (Name)?? Halo? Heii, jangan nangiss." Itu suara Yaya. Bodoamat, aku capek ngalah. "Mama...." Aku beneran nangis.
"Lihat, mbaknya nangis"
"Kenapa kenapa?"
"Temennya panik tuh, tolongin"
KAMU SEDANG MEMBACA
Boboiboy x Reader || with elemental
HumorKumpulan cerita dongeng (fiksi) perihal kamu dan Boboiboy(s) . . . . . Warning! Menggunakan bahasa Indonesia non-formal dan latar belakang Indonesia karakter dari © Monsta //© Boboiboy Boboiboy x Reader, with elemental
