"Masuk" Ucapnya.
Perlahan Jack membuka pintu itu, Agares dapat melihat seorang pria paruh baya sedang duduk dengan tegap di sofa singlenya. Meski sudah tua tetapi dia masih terlihat gagah dan sangat berwibawa.
Agares berjalan mendekati pria paruh baya itu, "duduklah" Ucapnya. Agares duduk didepan pria paruh baya itu
Kini hanya ada mereka berdua didalam ruangan itu, entah mengapa Agares dapat merasakan aura yang mendominasi dari pria paruh baya itu, dia tidak pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya.
•
•
•
Ruangan menjadi hening tidak ada satupun yang memulai pembicaraan, sampai pria paruh baya itu memulai pembicaraan.
"Namamu Agares bukan? Kau akan tinggal disini selama beberapa hari dan mendapatkan perawatan" Ucap pria paruh baya itu.
"Tidak perlu tuan, saya bisa merawat diri saya sendiri" Tolak Agares.
"Lagi pula saya harus pergi sekolah" Lanjutnya.
Apa? bocah sepertinya berani menolaknya? Pikir pria paruh baya itu. Lagi pula dari mana keberaniannya itu berasal, tidak ada yang pernah berani menatapnya secara langsung sebelumnya. Tapi lihatlah anak ini dia jelas dengan terang-terangan menatapnya, dia bahkan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir tentang sekolah, kau bersekolah di Dirga High School bukan? Sekolah itu milikku" Ucap pria paruh baya itu. Bagaimana ia mengetahui Agares bersekolah disana? tentu saja itu karena informasi yang Jack berikan waktu itu. Dan yang mengejutkannya lagi adalah ternyata sekolah itu milik keluarga Dirgantara.
Pria paruh baya itu juga tidak pernah menyangka, orang yang mendapatkan beasiswa full itu adalah Agares.
"Baik, kau bisa keluar, akan ada seorang pelayan yang akan mengantarmu kekamar" Ujar pria paruh baya itu.
Sedangkan disuatu tempat lain.
"I-ini, ini tidak mungkin, bagaimana bisa ini..." Ucap gugup seorang pemuda disana, saat ini dia sedang memegang sebuah dokumen.
"Alister apa yang terjadi?" Tanya seorang pemuda lainnya sepertinya dia 3 tahun lebih tua darinya.
Benar, orang itu adalah Alister, saat ini dia sedang melihat sebuah kertas yang bertuliskan tes DNA.
"Kakak cepat, cepat lihat ini" Ucap Alister pada kakaknya Sean.
Sean yang membaca itu sangat kaget, dia tidak percaya dangan apa yang dia baca, dikertas itu bertuliskan:
'Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas Andera Critopher Alpheorus sebagai ayah biologis dari Agares Markslin adalah 99,9%.'
Yap, kalian tidak salah baca, itu adalah Agares, Agares Markslin sang tokoh utama kita.
"Ini, apa ini? Alister apa ini?" Tanya Sean, dengan tangan yang bergetar. Alister tidak menjawab, sepertinya dia juga masih syok dengan apa yang terjadi.
"Alister, jawab kakak! Ada apa ini? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Ujar Sean, dia tidak sengaja membentak Alister.
"Hei, ada apa ini? Mengapa begitu ribut?" Seorang pemuda datang dan menghampiri mereka.
"Abang..." Ucap lirih Alister. Saat ini perasaannya sedang campur aduk.
"Kenapa? Apa yang terjadi? " Ucapnya lagi.
"Bang, coba lihat ini" Ucap Sean sambil menyodorkan kertas itu.
Dion tanpa ragu mengambilnya dan membacanya, sama seperti kedua orang itu, dia tidak bisa percaya dengan apa yang dia baca.
"Haruskah kita memberitahu papah?" Tanya Sean.
"Ya, kita harus segera memberitahunya, cepet telpon papah suruh dia segera pulang" Jawab Dion.
(Catatan:Alister memanggil kakak pertamanya dengan sebutan abang, sedangkan kakak keduanya dengan sebutan kakak)
"Aku, aku akan menelponnya" Ucap Alister.
Tuuuttt
Tuuuttt
Tuuuttt
[Halo, Alister ada apa?] ucap seorang pria dari sebrang telepon.
"Pah, apa kau sedang sibuk?" Tanya Alister.
[Tidak, apa ada yang terjadi?] ucap seseorang yang di sebut papah itu.
"Ada hal penting yang harus kita bicarakan, bisakah kau segera pulang?" Ujar Alister.
[Ada apa sebenarnya? Baiklah papah akan segera kembali] ujarnya, lalu dia mematikan telpon itu, dia agak bingung dengan situasi saat ini.
Beberapa saat kemudian.
Terdengar suara derap kaki yang menghampiri mereka dengan cepat.
Brak
Seorang pria membuka pintu dengan sedikit kasar, "ada apa? Apa yang terjadi?" Ujarnya begitu sampai.
"Pah, tenang lah dulu dan duduk lah" Ucap Sean.
Pria itu duduk di sofa singlenya, "jadi ada apa?" Tanya nya lagi.
"Ini, bacalah" Dion memberikan kertas itu kepada papahnya.
Dia dengan cepat mengambil kertas itu dan "ini, apa ini? Darimana kalian mendapatkan nya" Ucapnya, ia menatap anak-anaknya dengan sangat tajam.
Dion dan Sean menatap Alister, papah yang melihat kedua anaknya itu menatap Alister dia juga jadi ikut menatap Alister. "Alister apa ini?" Ucap pria itu tegas.
Alister yang ditatap pun tertegun sejenak, "itu... Ini... " Gugupnya, lalu ia menjelaskannya dari awal mereka bertemu saat Agares menyelamatkannya, saat ia tidak sengaja menabrak nya disekolah dan saat ia mengajaknya pergi di malam hari, lalu cara dia mendapatkan sampel rambut dari Agares. Alister menceritakannya dari awal hingga akhir.
-----------------------------------------------------------
Apa kalian penasaran bagaimana Alister mendapatkan sampel rambut dari Agares?
Itu saat di bianglala, saat Alister menyentuh kepala Agares,
ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil beberapa helai rambutnya.
Mengapa ia bisa melakukan itu?
Alister tidak bodoh, ia tahu jika mungkin saja ada seseorang yang mirip dengannya dibelahan dunia ini, tapi itu pasti tidak akan semirip itu dengannya, berbeda dengan Agares. Dan lagi dia merasakan perasaan yang aneh saat didekat Agares yang membuatnya semakin yakin melakukan hal ini.
Papahnya juga pernah bercerita bahwa dulu ia terlahir kembar, tetapi sayangnya kembarannya itu meninggal bersamaan dengan ibunya saat melahirkanya.
-----------------------------------------------------------
"Begitu ya, aku mengerti, jadi anak itu masih hidup, anakku masih hidup" Ucap pria itu lirih, ia menahan air matanya yang akan mengalir.
"Jadi, kau keluar diam-diam di malam hari?" Ucap Dion.
"Ugh... a-abang, kita... kita bahas itu lain kali ya" Ucap Alister gugup, ia takut jika abangnya akan menghukumnya.
"Hah... baiklah, kau selamat kali ini" Ujar Dion.
"Pah, apa kita akan membawanya kembali?" Ucap Sean.
"Tentu, kita akan membawanya pulang, dia adalah anakku, bagian dari keluarga Alpheorus" Jawab sang papah.
"Benarkah? Apa sekarang aku akan menjadi seorang kakak?" Ujar Alister bersemangat, ia sangat senang sekarang, dari dulu ia ingin sekali memiliki seorang adik tetapi itu tidak akan mungkin, karena ibunya sudah tidak ada.
"Sepertinya kau sangat senang ya" Ucap Sean, ia membelai kepala sang adik itu gemas.
"Tentu hehe"
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembaran Yang Terpisah (Drop)
JugendliteraturBercerita tentang dua anak kembar yang terpisah dan bertemu secara tidak sengaja. Kembar tapi nasibnya berbeda? Yang satu seorang tuan muda kaya raya, yang semua kebutuhannya terpenuhi. Sedangkan Yang satunya lagi berasal dari panti asuhan, yang...
