Kabar kehamilan Nafisya beredar begitu cepat di seluruh fakultas, termasuk fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Sastra. Banyak yang memberi suka cita, banyak juga yang mendatangkan prasangka. Seluruh penghuni kampus kecuali pada petinggi tak percaya mendengar kabar yang memang mengejutkan ini.
Kebanyakan dari mereka menatap tak suka dan menyayangkan kejadian ini mengingat mereka masih sangat muda.
Sejujurnya, ketika daftar kuliah, Nafisya dan Samudra tidak menyembunyikan status pernikahan mereka kepada para petinggi kampus, jadi mereka tidak perlu khawatir sebenarnya.
Namun, memang namanya manusia, selalu menilai sesuatu dari satu sisi, dan menyimpulkan dengan cepat tanpa tahu kebenarannya.
Akun menfess Universitas Satria kembali ramai menghighlight nama Nafisya dan Samudra.
Tatapan-tatapan tak suka banyak sekali menyorot ke arah Nafisya ketika ia sedang berjalan menuju kelasnya. Melihat perut Nafisya semakin membuncit, mengingat kini sudah menginjak bulan keempat kehamilannya.
Waktu memang begitu cepat berlalu, baru kali ini Nafisya merasa kehamilannya terganggu.
"Pantesan nikah, ternyata hamidun ya? Murahan banget."
"Tampang aja sok alim, nyatanya busuk."
"Sok sok-an berlindung di kata 'nikah muda' buat menutupi kehamilan diluar nikah, munafik."
"Seharusnya malu gak sih? Kalo gue jadi dia malu banget, najis."
Sorak sorai para mahasiswa dan mahasiswi terdengar di telinga Nafisya. Wanita itu menulikan telinga, mempercepat langkah
"Mentang-mentang cowoknya ganteng, mau mau aja di ajak tidur sampe hamil, murahan banget. Sehat-sehat deh ya bayinya, semoga ga cacat."
Plakkkk
Satu tamparan berhasil dilayangkan Nafisya ke salah satu mahasiswi yang ikut mencemoohnya. Nafisya mungkin tidak masalah jika semua orang mencemoohnya, merendahkan, dan menghina dirinya, tapi dia tidak menerima orang lain yang ikut menghina suami bahkan anak dalam kandungannya.
"Denger ya, aku gak masalah kamu mau hina aku seburuk apapun. Tapi inget! Jangan sekali-kali hina suami aku sama calon bayi yang ada di dalam kandungan aku. Dimana hati nurani kamu sebagai sesama perempuan, hah?! Jaga mulut sama hati kamu ya, jangan sampai ucapan kamu itu berbalik ke diri kamu sendiri!" pekik Nafisya panjang lebar.
Gadis yang tadi menghina Nafisya itu mengeraskan rahang menahan emosi, tangannya ikut melayang bersiap mendaratkan tamparan ke pipi Nafisya
"Lo-"
Grepp
Tangan gadis itu seketika dicekal kuat oleh tangan lelaki yang baru saja datang menghampiri kegaduhan yang terjadi di lorong kelas. Dengan tenaga khas lelaki, pria itu menghempaskannya cukup kuat, membuat tubuh gadis itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Berani kamu sentuh istri saya, jangan harap kamu bisa hidup dengan tenang."
Nafisya yang melihat itu seketika terkejut, semakin terkejut ketika Samudra meraih tangannya lalu menarik dirinya cukup kuat keluar dari lorong kelas menuju lapangan.
Nafisya belum pernah melihat suaminya sekasar ini, bagaimana cara Samudra menghempaskan tangan gadis tadi dan menarik tangannya seperti ini membuat Nafisya sedikit ketakutan. Wanita itu merasakan amarah yang membara dari Samudra.
Lagi-lagi, Nafisya terkejut ketika melihat banyak sekali orang yang berada di lapangan, berkumpul seperti sedang berupacara. Samudra membawa Nafisya ke panggung yang berada di depan semua orang yang berada di lapangan itu, menempatkan diri dan istrinya di tengah-tengah rasa penasaran orang-orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESAMSYA [SLOW UPDATE]
Novela Juvenil#3 GEZELLIGHEID SERIES Nafisya Nayyara Almahyra, gadis belia yang terpaksa harus menikah dengan Samudra Shazad Zaigham, sahabat sekaligus sepupu dari orang yang dia cintai, Dewangga Adelard Nadhif. Pernikahan yang tidak diimpikan itu, berlandaskan...
![DESAMSYA [SLOW UPDATE]](https://img.wattpad.com/cover/279693313-64-k671370.jpg)