Chapter 2

157 13 0
                                        

Selamat membaca~

.
.
.

Saat ini, Nafisya dan Dewa sedang berada di rumah sakit. Samudra kembali tumbang. Entahlah akhir-akhir ini dia sering migrain, Nafisya sendiri tidak mengetahui pasti apa penyakit Samudra.

Gadis itu merenung di salah satu kamar mandi yang berada di rumah sakit ini. Permintaan Dewa terngiang di telinganya, permintaan konyol yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh Nafisya sebelumnya.

"Kamu, menikahlah dengan Samudra."

"Samudra lebih membutuhkan kamu. Dia sakit Sya, dia butuh seseorang di sisa hidupnya. Aku ingat sekali dia pernah bilang bahwa dia ingin menikah sekali seumur hidupnya. Aku takut Syaa, Dokter bilang usia dia gak lama lagi. Aku takut permintaan itu bakal jadi permintaan terakhir dia."

"Sam butuh kamu Syaa,"

"Jadi aku mohon. Aku titip Samudra sama kamu."

"Arrghh..." teriak Nafisya tertahan.

"Kenapa Wa? hiks..." lirihnya sambil terisak.

"...kenapa harus aku?"

Lama menangis, Nafisya kini mulai menenangkan diri. Mengusap sisa air mata lalu keluar dari kamar mandi.

Niat untuk menjenguk Samudra lagi sebelum pulang ke rumah, dia urungkan. Lebih baik dia pulang dan memikirkan semuanya nanti.

Sepulang kerja tadi, Nafisya memang diberitahu Dewa bahwa Samudra kembali masuk ke rumah sakit. Jadi dia memutuskan untuk menjenguk Samudra.

Sesampainya di rumah sakit, Nafisya langsung bertemu dengan Dewa. Mereka berdua memasuki ruang rawat Samudra. Pemandangan pertama yang Nafisya lihat adalah tubuh Samudra yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

Wajah damai Samudra yang sedang tertidur membuat hati Nafisya sedikit berdesir. Hatinya juga sedikit teriris melihat tidak berdayanya sahabat lelakinya itu.

Tangannya terulur mengusap lembut bahu Samudra. Entah hati Nafisya yang sangat lembut atau apapun itu, yang jelas saat ini dia sangat-sangat tidak tega melihat Samudra seperti ini.

Dewa yang juga berada disana hanya bisa menatap sendu keduanya. Mendekati Nafisya, lalu menggiring gadis itu untuk keluar dari ruangan Samudra.

"Biarin Sam istirahat, ada yang mau aku omongin sama kamu Sya."

Dewa kemudian membawa Nafisya ke rooftop rumah sakit. Menjelaskan dan memberi tahu permintaannya pada gadis kecilnya itu.

***

Heningnya malam di tengah hujan rintik-rintik dihangatkan oleh obrolan cukup serius satu keluarga. Berbeda dari keluarga lain yang membicarakan suatu perihal di dalam rumah, obrolan mereka saat ini dilangsungkan di ruang inap salah satu rumah sakit.

"Jadi, Dewa ingin menjodohkan Samudra dengan Nafisya?" tanya Abi Firza, Abinya Dewa.

Dewa mengangguk mantap.

"Kenapa tiba-tiba nak? Apa alasan kamu menjodohkan mereka?" tambah Ayahnya Samudra.

"Dewa ingin mewujudkan impian Samudra."

"Tapi Wa, kalian masih terlalu kecil, Umi tau ini semua demi kebahagian Sam, tapi kita gak boleh egois, sayang," ujar Uminya Dewa.

"Iya Wa, Samudra masih punya kita, kita bakal selalu ada buat Sam," tambah Bundanya Samudra.

"Dewa udah terlanjur bicara sama Fisya, dan Dewa yakin Fisya pasti menyanggupinya."

"Apa?!" Samudra yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit sedikit terkejut mendengar penuturan Dewa.

DESAMSYA [SLOW UPDATE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang