"Kalau kamu, Aulia? Sukanya cowok yang kayak gimana?"
Sontak, aku terdiam. Sial. Bisa-bisanya orang inilah yang menanyakan hal itu kepadaku.
Percakapan ini bermula ketika aku, yang merasa bosan di Himpi, menanyakan sesuatu kepada Iqbal dan Fadil, "Kalian suka cewek yang kayak gimana?"
Fadil menjawab, "Hmm... kalau gue sih pengennya yang sevisi sama gue." Fadil juga bercerita tentang perempuan yang dulu hampir ia sukai.
"Kalo lu, Bal?" tanyaku kepada Iqbal.
Iqbal tersenyum malu. "Ah, lu mah ntar ngeledekin gue," tuduhnya.
Aku tertawa—memahami apa yang ia maksud. "Ya... gapapa, ngomong aja. Gak bakal gue ledekin, kok!" balasku.
Iqbal sempat terdiam sejenak. "Kalo gue sih pengennya yang bisa menerima gue apa adanya."
"Lah! Ya itu mah semua orang pasti pengen!" timpalku.
"Bukan kaya gitu maksudnya! Maksud gue tuh yang bisa memahami dan menerima gue kalo gue cerita tentang sesuatu yang gak bisa gue ceritain ke semua orang," ucap Iqbal.
Fadil mengangguk setuju. Begitu juga dengan laki-laki yang entah sejak kapan turut mendengarkan cerita kami.
Kak Mahesa.
"Setuju, setuju," ucapnya.
Aku menoleh ke arah kakak tingkat kami yang baru saja mengambil minuman dingin dari kulkas.
"Lah, ikut-ikut aja," balasku. "Ya udah... Karena Kak Mahesa ikut dengerin, Kakak juga harus jawab."
Sebenarnya, itu hanyalah dalihku untuk mengetahui perempuan seperti apa yang Kak Mahesa sukai. Meskipun kehadiran Kak Mahesa di tengah percakapan ini tidak berada dalam prediksiku.
"Apa pertanyaannya?"
"Kakak kalo nyari cewek, maunya yang kayak gimana?" tanyaku.
Kak Mahesa menaikkan sebelah alisnya pertanda bingung. "Ya tergantung ketemunya yang kayak gimana aja sih."
Aku mendecak. "Idealnya aja. Kakak maunya yang kayak gimana."
Kak Mahesa yang semula berdiri di depan kulkas, kini duduk di antara aku dan Fadil. Berpikir sejenak sambil memainkan botol yang ia pegang.
Aku memperhatikan Kak Mahesa dengan hati yang tak karuan. Aku tidak tahu jawaban seperti apa yang kuharapkan terucap dari mulutnya. Yang kutahu, hanyalah perasaan gundah dalam diriku ketika menunggu laki-laki itu memikirkan perempuan yang 'ideal' untuknya.
"Yang pintar sih," ucapnya.
"Pinter?" tanyaku secara spontan. "Pinter dalam akademik gitu, atau..."
Aku sedikit menyesali reaksiku saat itu. Aku merasa diriku terlalu berharap akan jawaban yang diberikan Kak Mahesa sehingga aku memintanya menjelaskan kriteria tersebut.
Mungkin, aku masih termasuk dalam kriterianya?
Atau mungkin, aku sama sekali tidak menyentuh kriteria itu?
Ah, sudahlah.
"Pintar tuh yang penting kalau diajak ngobrol bisa nyambung—enggak lemot lah," jawab Kak Mahesa dengan logat Padang-nya yang khas itu. Ia sedikit tertawa.
Aku mengangguk pelan. "Trus? Udah?"
Sial. Apa tidak bisa, aku memberikan respon lebih normal daripada ini?
Aku tak tahu apakah Iqbal dan Fadil melihatku seperti seseorang yang desperate untuk mengetahui kriteria Kak Mahesa.
Meskipun memanglah benar.
"Ya... yang cantiklah," ucap Kak Mahesa.
Runtuh.
Aku bisa membayangkan diriku seperti tokoh-tokoh kartun yang sontak berdiri di atas kedua lututnya karena kehilangan harapan. Dengan kedua tangan menopang tubuh di atas tanah, sembari menggelengkan kepala dengan lemas.
Aku hanya bisa terdiam mendengar jawaban Kak Mahesa. Aku mengalihkan pandangan agar raut kekecewaan dalam diriku tidak terbaca siapapun di ruangan ini.
Bagaimanapun, aku tahu kriteria "cantik" yang ia harapkan. Sementara itu, aku sangat jauh dari kata "cantik" tersebut.
Sial! Harusnya gue gak—
"Kalau kamu, Aulia?"
Aku sontak menatap matanya.
"Sukanya cowok yang kayak gimana?" tanya Kak Mahesa.
Aku terdiam membeku.
Tidak menyangka Kak Mahesa akan bertanya hal yang sama.
Aku? Ya suka Kakak lah!
Khawatir perasaan ini terungkap, aku memikirkan cara untuk menolak menjawab pertanyaan tersebut. "Kok jadi nanya aku? Kan tadi ngomonginnya cowok suka cewek yang kaya gimana. Bukan sebaliknya."
"Ya... sekarang gantian aja," balas Kak Mahesa.
Aku melirik Iqbal dan Fadil yang juga terlihat antusias menunggu jawabanku.
"Hmm... aku suka cowok yang lucu," jawabku dengan sedikit nada ragu di akhir kalimat.
"Oh, lucu. Suryo lucu tuh," komentar Kak Mahesa dengan asal.
"YA BUKAN DIA DONG!" Aku sontak berteriak, dengan gimik ingin memukul Kak Mahesa.
Semua orang tahu betapa menyebalkannya Suryo di angkatan kami. Bahkan, kakak dan adik tingkat kami mengetahui fakta tersebut.
Iqbal turut berkomentar, "Lu suka Zaki, berarti! Zaki kan lucu."
Ketiga laki-laki di hadapanku tertawa. Mereka juga tahu; aku suka naik darah jika bertemu dengan Zaki.
"Hadeh! Yang gak suka debat deh, pokoknya!" tambahku.
Setidaknya, kriteria tersebut akan mengeliminasi kedua nama itu dari bahan ledekan untukku.
Kak Mahesa hanya tertawa sambil mengangguk.
"Mahesa!" panggil seseorang, bersamaan dengan suara pintu Himpi yang terbuka.
Kami berempat menoleh ke arah suara, mendapati Kak Aji yang baru saja tiba.
"Widih, lagi seru ngobrol ya?" tanya Kak Aji. "Yuk, Sa, udah ditungguin Bu Marsel."
Kak Mahesa bangun dari duduknya. "Duluan ya!" pamitnya kepadaku, Iqbal, dan Fadil—dan dengan itulah percakapan hari ini dengannya berakhir.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita di Kala Senja
Teen FictionNamaku Aulia, mahasiswi tingkat 3. Buku ini berisi potongan kisahku yang mengaguminya dalam diam. Jadi, kuharap kalian dapat menjaga rahasianya di dalamnya.