Hey Guys...!!! Welcome back to my story...,!!!
Gimana kabarnya???
Hari ini author bawa kelanjutan kisah Kenan dan kawan-kawan nih. Jangan lupa di VOTE dan kasih komen yg menarik ya. Tambahin ke perpustakaan kalian biar gak hilang😉
Oke langsung aja kita simak ceritanya, hope you guys enjoy it, let's check this out.
Enjoy and happy reading.
*
*
*
"Kalah menang itu biasa dalam pertandingan, kamu ini mau jadi preman di sekolah! Kamu pikir hebat mukul guru kamu sendiri!" bentak guru olahraga Calvin.
"Saya nggak mandang mau itu guru apa bukan, kalo salah ya salah Pak. Jelas-jelas itu nggak adil!" jawab Calvin tegas.
"Berani kamu ngelawan saya! Jangan mentang-mentang kamu yang sudah membawa tim kita menjuarai banyak pertandingan jadi bisa seenaknya ya, meskipun kamu tulang punggung tim basket SMA Pancasila, tapi etika tetap harus dinomorsatukan!" bentak guru olahraga tadi.
Calvin tidak melawan kali ini. Dia hanya diam dengan sorot mata yang begitu tajam dan kedua tangan yang mengepal. Begitu banyak emosi yang terpendam dalam dirinya saat ini.
"Mulai sekarang, kamu dikeluarkan dari tim basket SMA Pancasila!" tegas guru tadi final membuat kedua mata Calvin melebar.
"Bapak nggak bisa seenaknya ngeluarin saya dong Pak! Saya yang udah gendong tim sampe ke kejuaraan nasional!" bantah Calvin tidak terima.
"Tidak ada penolakan! Bukan sekali dua kali kamu mengacau di sekolahan, sudah berapa kali pelatihmu kamu hajar! Kali ini tidak bisa ditolerir lagi! Sekarang keluar!" tegas guru tadi.
Calvin benar-benar mengepalkan kedua tangan dengan gigi bergemelatuk. Dengan cepat dia keluar dari ruangan gurunya sebelum emosi menguasai dan ia berakhir menghajar guru sialan itu. Calvin membanting pintu ruangan guru dengan kuat. Ia berjalan dengan pandangan lurus sambil memendam emosi besar di dalam jiwanya.
Melihat deretan piala yang terpajang penuh di rak ruangan olahraga membuat dirinya muak. Calvin segera membanting rak itu sehingga semua pialanya jatuh. Ia sudah tidak perduli lagi. Sudah berapa banyak piala yang ia sumbangkan untuk sekolah? Tapi lihat balasan sekolah kepadanya! Padahal ia hanya memprotes ketidakadilan yang didapatnya. Pasalnya bukan sekali dua kali pelatih itu selalu meremehkannya, seakan iri padanya. Persetan dengan piala dan basket! Ia membencinya.
***
Sementara itu, Arion saat ini tengah meletakkan buku tugas di toilet sambil tetap mengunyah permen karetnya. Tangannya di bawah menengadah untuk mendapatkan uang dari satu siswa yang sudah berada di sana sambil mencuci tangan sedari tadi, atau hanya kedoknya saja. Siswa itu langsung pergi setelah mengambil buku tugas yang diletakkan Arion. Arion sendiri sudah menghitung uang yang didapatnya dengan cengiran lebar.
"Menuju deposit tim abis ini, hehe," kekeh Arion setelah puas menghitung jumlahnya.
Cowok yang terkesan rapi itu langsung keluar dari Toilet dengan wajah bahagianya, sebelum perlahan sirna seiring langkahnya yang juga terhenti. Seorang guru yang juga musuh bebuyutannya sudah ada di sana sambil menatapnya tajam.
"Pagi Pak," sapa Arion dengan wajah tanpa dosa.
"Masih bisa tenang setelah melakukan hal illegal ya?" sindir guru yang berbadan besar itu. Arion juga heran, jika biasanya kepala sekolah akan selalu berada di ruangannya sok sibuk, kenapa kepala sekolahnya satu ini suka sekali berkeliaran seperti tidak punya pekerjaan lain?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Golden Age
Teen FictionKatanya anak nakal nggak punya masa depan. Lalu apa semua orang sukses di dunia ini nggak pernah nakal? Padahal anak nakal hanya anak yang tidak cukup mendapat perhatian dan kasih sayang. Butuh pengakuan dan keadilan dari lingkungan sosial. Anak nak...
