⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Bagaimana ketika kamu Menikah dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya?
"Kamu sudah Abi jodohkan dengan anak sahabat Abi"
Sejak saat itu, Aku mengakui bahwa aku kalah, Aku sudah tidak bisa mengela...
Kalau sudah hebat untuk Menyakiti orang lain, berarti Sudah cukup kuat Menerima balasannya
(Q.s Al-Isra : 7)
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Iqbal, dimana Kaatiya?”
Iqbal langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Azzam datang dengan wajah cemas nya serta keringat yang membasahi pelipisnya
“Masih ditangani dokter”
“Kedua orang tua nya gimana?”
“Om Burhan sama Tante Maya aman, karena mereka saat kejadian ada di ruang tamu, otomatis bisa langsung keluar. Kalo Kaatiya pada saat kejadian ada di kamarnya, tapi Alhamdulillah nya gak kenapa-kenapa kok, cuma shock aja”
Mendengar itu, Azzam mengusap wajahnya kasar “Astaghfirullah, kenapa bisa jadi begini?”
“Terakhir ngobrol sama gue katanya dia mau ketemu lo. Dia ada ngehubungi lo nggak?” Tanya Iqbal.
Azzam mengangguk “sempat chat saya”
“Penyebab sementara karena Korsleting listrik. Dan mobil damkar sampai pada rumah mereka saat apinya sudah melahap semuanya.”
“Kaatiya ada luka-luka nggak? Kebakaran sebesar itu dan dia dalam keadaan sedang di kamarnya. Sumber konslet nya dari arah mana?”
“Dari ruang tamu.”
Azzam menghela napasnya kasar. “Keluar dari kamar itu pasti melewati ruang tamunya dulu kan Iqbal? Dia keluar dari sana sendirian? Om Burhan sama Tante Maya hanya menyelamatkan diri mereka sendiri?”
Iqbal menelan ludah cukup kesulitan. “Lo tenang dulu, Zam. Mereka juga pasti panik, jadi langsung keluar minta pertolongan. Serius deh, Kaatiya nggak apa-apa. Ya.. cuma beberapa ada luka sedikit sama dia tuh kebanyakan menghirup asap jadi sesak napas.”
Tiba-tiba Azzam merosot ke bawah, seakan-akan kakinya tidak mampu berdiri dengan benar. Tumpuan pada kakinya seakan-akan melemah.
“Lo duduk dulu sini” Iqbal membawa tangan Azzam untuk duduk di kursi panjang dekat pintu ruangan “lo keliatan capek gitu mukanya, lagi kurang sehat?”
Azzam menggeleng “Saya nggak apa-apa.”
Sekarang Azzam sedikit menyesal, kenapa dia tidak membalas chat Kaatiya tadi, dan menemui perempuan itu. Kata iqbal, Kaatiya tadi menunggunya, kan?
Iqbal memandang Azzam dengan tatapan prihatin, pria itu sedikit mengerti bagaimana menyesalnya Azzam saat ini. Namun tak ada yang bisa Iqbal lakukan, semuanya sudah terjadi. Mereka tidak dapat memutar waktu tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu tim dokter yang sedang menangani Kaatiya di dalam sana.