⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dua hari setelah menginap di pondok atas permintaan Umi, Azzam dan Meera akhirnya kembali ke rumah. Siang itu, baru lima belas menit sejak Azzam berangkat ke kantor, Meera meminta izin untuk pulang ke rumah orang tuanya karena Ibun sedang sakit.
"Meera..?"
Meera menoleh saat mendengar sebuah suara lembut memanggil namanya dari arah belakang. Meera menoleh, kemudian menemukan sosok Ibun yang tengah duduk di sofa sambil menggenggam beberapa lembar kertas di tangan kanan. Perempuan itu tersenyum tipis. Riasan sederhana menghiasi wajahnya, meski pucat yang tersisa masih tampak jelas.
"Ini," ucapnya. Sembari menyerahkan lembaran kertas yang tadi digenggamnya. "Ayah kemarin bawa pulang beberapa laporan pasien buat dikerjain di rumah tapi pagi ini dia buru-buru berangkat ke rumah sakit karena ada operasi dadakan. Dan ternyata, Laporan yang kemarin dia bawa ketinggalan di ruang kerjanya. Tadi ayah menelpon ibun dan minta tolong buat anterin laporannya ke rumah sakit, maaf ya, Ibun jadi nyuruh kamu"
"Nggak apa-apa, bun, lagipula aku lagi nggak sibuk, kok." Meera langsung mengambil alih lembaran kertas di tangan Ibun dan menyempatkan diri untuk meneliti beberapa goresan tulisan tangan milik Ayah di sana. Tapi Meera mengernyitkan keningnya sejenak karena gagal memahami tulisan yang bentuknya lebih mirip coretan-coretan abstrak itu, dan berakhir memilih untuk mengabaikannya
"Ibun hari ini full di rumah, kan?"
Ibun mengangguk mantap.
"Good, jangan kemana-mana, istirahat di rumah. Atau nanti setelah aku nganterin berkas ini ke ayah, aku balik lagi ke sini."
"Iya, udah sana berangkat, udah siang ini"
Meera kemudian pamitan sama Ibun lalu berjalan menghampiri mobil yang terparkir di halaman rumah. Setelah berpamitan dan Melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan, mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Setelah memarkirkan mobil sejenak, Meera langsung bergegas menuju ruangan milik Ayah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari gedung utama. Ayah ada di sana, tengah berbincang dengan seorang pasien. Meera mengetuk pintu sebanyak dua kali sebelum memasuki ruangan
"Meera, kok disini, Nak?" Tanya Ayah. Matanya langsung menangkap ke arah lembaran yang berada di tangan Meera "Eh itu berkas ayah? Kok bisa di kamu?"
Meera tersenyum sekilas pada pasien yang waktu berbincangnya terpotong sebelum kemudian mengangguk ke arah ayah "Iya, kata Ibun tadi ayah nitip buat dibawain ke sini. Soalnya sopir Ibun lagi di bengkel jadi yaudah deh aku yang anterin."