Pukul 7 malam, Aurora tengah berkirim pesan dengan kawan lamanya saat SMP. Mereka berteman sudah cukup lama, tetapi berpisah untuk melanjutkan pendidikan masing-masing. Meskipun terpisah jarak yang cukup jauh, kedekatan mereka tetap terjaga, masing-masing meluangkan waktu hanya untuk bercengkrama atau sekedar menolong jika salah satu membutuhkan bantuan meskipun bantuan yang sepele, misal membelikan pulsa.
Asyik membahas hal tidak penting tentang keseharian mereka, kawan Aurora tiba-tiba mengirim pesan di luar pembahasan mereka, "tetangga kos ku ada yang meninggal," pesannya. Dengan segenap rasa keingintauannya, Aurora bertanya penyebab kematiannya.
"Nggak tau, padahal tadi masih baik-baik aja, aku juga disapa tadi pas pulang kuliah."
"Ada kejanggalan yang elo temuin nggak?"
"Nggak ada sih. Eh tapi, perasaan tadi temennya masih main ke sini. Pas si tuan rumah ditemuin mati, dia juga masih ada di sini. Aneh nggak sih, Ra? Apa jangan-jangan dia yang bunuh? Eh tapi nggak ada tanda kekerasan kayak dipukul atau di apa gitu." Balasan dari temannya ini membuat Aurora berpikir lebih keras. Kendala tidak bisa melihat jasatnya langsung membuat kasus ini terasa sulit baginya. Tidak mungkin juga dia meminta temannya itu untuk mengambil foto. Oh ayolah... bukankah menyeramkan jika menyimpan foto orang yang sudah mati?
"Gue mau suudzon juga nggak bisa anjir, liat mayatnya aja enggak. Ini lagi kalo dibunuh temannya mana mungkin dilakuin di kosan orangnya sendiri? lebih masuk kalo matinya di kosan temennya, baru tuh bisa dibilang kalo temennya yang bunuh. Lah ini?! matinya di kos orangnya sendiri, posisi mayatnya... Lah iya anjir kok nggak kepikiran nanya posisi mayatnya?"
"Kalo dari yang gue denger, posisinya tiduran, Ra, dikasur temennya di bawah main laptop, pas manggil nggak disaut, terus di cek udah nggak ada."
"Berarti ini temennya yang lapor?"
"Iya, dia gedor pintu kamar Bu kos terus bilang kalo temennya meninggal."
"Udah manggil polisi?"
"Nggak manggil polisi, tadi nelfon keluarganya nggak dibolehin."
"Kok gitu sih, yaudahlah ya kabarin kalo dapat tambahan info."
"Sip, gue main game dulu, Ra, udah ditunggu ayang."
Aurora kembali termenung, kasus ini sepertinya akan rumit. Ia tidak bisa mengandalkan info tambahan lain selain dari temannya itu, ia juga tidak bisa mencari tau secara langsung. Mau menyerah, tapi ia sudah kadung tertarik. Duh ribet, yasudahlah pikirkan nanti saja, mending belajar, besok dia presentasi soalnya.
ØØØ
Besoknya seusai kelas, Aurora berkumpul bersama Nadin, Sarah, dan Kusuma di kantin fakultas. Memesan semangkok soto panas, Aurora masih memikirkan tentang cerita temannya semalam. "Au.. jangan ngelamun, itu sendok bukannya masuk mulut malah masuk hidung loh," ujar Nadin yang duduk di depan Aurora.
"Gue bingung deh."
"Kenapa lagi? Kan presentasi tadi sukses, udah pasti dapat A."
"Gue nggak lagi mikirin nilai, udah nggak mau peduli juga, trauma gue gara-gara semester kemarin udah put effort gede malah dapat B- gara-gara temen kelompok nggak mau kerja kan anjing."
"Iya sih, lagian kenapa sih tuh dosen nilainya berdasarkan kelompok, kan nggak adil banget."
"Bapak lo, Sar."
"Iya lagi bapak gue." Ketiga temannya kemudian tertawa bersama. Ayahnya Sarah merupakan dosen di kampus bahkan di prodi mereka. Tapi meskipun begitu, beliau tidak pernah meloloskan anak-anaknya dengan mudah. Terbukti kakak pertama Sarah dulu sampai harus mengulang mata kuliah yang diampuh ayahnya sendiri karena terlalu menggampangkan bahwa ia akan lolos mata kuliah itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Odyseus
Mistério / SuspenseRangkaian kematian yang menyisakan tanda tanya. Menarik perhatian seorang gadis dengan obsesi aneh, mendirikan Neo nazi katanya. Segala jenis kisah ia jalani mulai dari kematian seorang dosen akibat penghianatan hingga pertemuan dengan seseorang yan...