Senyum Malu di Antara Rak Buku

15 4 0
                                    


.

.

.

"Kegembiraan yang tak terbendung ketika kita menemukan harta karun kata-kata yang tak ternilai."

.

.

.

Pertemuan Adit dan Lina di perpustakaan menjadi semakin sering. Lina, dengan keceriaan dan keingintahuannya yang tak pernah habis tentang sastra, sering datang untuk mencari bahan referensi skripsinya. Adit, meskipun masih sering merasa gugup di hadapan Lina, mulai merasa lebih nyaman. Dia bahkan mulai menantikan kedatangan Lina setiap hari, sebuah perubahan yang membuatnya bertanya-tanya tentang perasaannya sendiri.

"Hai, Adit! Kamu tahu buku apa yang membahas tentang simbolisme dalam sastra romantisme?" Lina bertanya dengan semangat, segera setelah dia masuk ke perpustakaan.

"Aku punya beberapa referensi yang mungkin kamu suka," Adit menjawab, sudah menyiapkan beberapa buku di meja.


Suatu sore yang tenang, saat sinar matahari menyelinap lembut melalui jendela perpustakaan, Lina datang dengan pertanyaan tentang sastra romantisme. Adit, yang telah membaca hampir semua buku di perpustakaan, bersemangat menjelaskan konsep-konsep tersebut dengan detail. Dalam antusiasmenya, Adit tak sengaja mengetuk kacamata tebalnya yang kemudian terjatuh ke lantai.

"Biarkan aku yang menjelaskan," Adit berkata, sambil mencoba menemukan buku tertentu di rak.

Lina, yang mengikuti dengan antusias, tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Aku selalu terkesan dengan pengetahuanmu," dia berkata, mengagumi.


Ketika Adit membungkuk untuk mengambil kacamata tersebut, Lina juga membungkuk, dan kepala mereka bertabrakan. Itu adalah momen yang seperti diambil langsung dari adegan komedi romantis klise, namun bagi mereka, itu terasa istimewa. Saat mereka berdua menatap satu sama lain, tertawa atas kekikukan baru yang mereka ciptakan bersama, ada momen keheningan yang indah, di mana keduanya merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekedar pertemanan.

"Maafkan aku, aku tidak sengaja," kata Adit, seraya meraih kacamata tersebut.

"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Ini lucu, sebenarnya," Lina menjawab, mencoba meredakan ketegangan.

Mereka berdua tertawa, mencairkan suasana canggung yang sempat tercipta. "Ini harus menjadi adegan terklise dalam buku sastra," canda Lina, membuat Adit tersenyum malu.

Adit, masih dengan wajah yang merah, berkata, "Yah, setiap cerita cinta yang baik memiliki momen-momen klisenya."

Lina mengangguk, "Benar, dan ini adalah salah satu momen kita."


Perbincangan mereka berlanjut, kali ini tidak hanya tentang sastra, tapi juga tentang hal-hal kecil dalam hidup mereka. Adit, yang biasanya terbuka hanya kepada buku, menemukan bahwa berbicara dengan Lina memberinya rasa kelegaan. Lina, di sisi lain, menemukan bahwa di balik kikuk dan diamnya Adit, terdapat kedalaman pemikiran dan kehangatan hati yang belum pernah dia temui sebelumnya.

"Terima kasih telah mendengarkan ceritaku, Lina," Adit berkata, bersyukur.

"Sama-sama, Adit. Aku menikmati setiap percakapan kita," Lina membalas dengan senyum yang hangat.


Hari demi hari, mereka berdua menemukan kenyamanan dalam kebersamaan. Mereka berbagi cerita, tawa, dan terkadang, diam yang nyaman. Perpustakaan, yang dulunya merupakan tempat pelarian Adit dari dunia, kini menjadi saksi bisu tumbuhnya benih-benih cinta di antara rak-rak buku yang berdebu.

"Aku tidak pernah menyangka akan menemukan seseorang yang bisa membuatku merasa seperti ini," kata Adit suatu hari, sambil menatap Lina.

Lina tertawa dengan memegang tangan Adit, "Hahha, Aku juga. Aku merasa sangat beruntung."

Mereka menatap satu sama lain, menikmati kehangatan yang mereka bagikan, sebuah kehangatan yang hanya bisa mereka temukan di antara rak-rak buku dan halaman-halaman sastra.


Lina mulai membawa Adit ke dunia di luar buku, mengajaknya ke kafe buku, pemutaran film sastra, dan berbagai acara yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran Adit. Adit, dengan cara yang tenang namun penuh perhatian, memberikan Lina perspektif baru tentang buku-buku yang mereka baca bersama, mengajaknya menyelami kedalaman cerita yang lebih dalam lagi.

"Aku tidak pernah menikmati sastra sebanyak ini sebelumnya," kata Adit pada suatu kesempatan.

"Dan aku tidak pernah menemukan seseorang yang bisa membahasnya dengan begitu dalam," Lina membalas, mata mereka bertemu dalam pengertian bersama.

Dan di antara halaman-halaman buku, mereka menulis cerita merekasendiri, sebuah kisah tentang buku, cinta, dan kacamata yang terjatuh.

.

.

.

.

.

.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kisah Cinta Sang Pustakawan KikukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang