27

14.8K 188 0
                                        

.
.
.
     Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Allan Memijit pelipisnya pusing, ia sejak tadi berdiri diam di depan pintu kamar Violet. Mendengar teriakan jelas dari dalam sana tentu membuat Allan khawatir,

    "Ada apa Nak? Apa kalian bertengkar Lagi? Apa Nak Violet marah lagi?"

Tanya Bi dera Menghampiri Allan dengan suara lembutnya. Yang ia lihat sejak tadi berdiri gelisah di depan pintu.

     "Bi katakan Aku harus apa sekarang? Aku melakukan kesalahan tapi Aku juga tak bisa menahan Diri. Bi Aku Membuat nya trauma jadi Aku harus berbuat apa?"

    "Bibi tahu itu Nak. Nak Violet hanya butuh Kau yakinkan bahwa semua yang terjadi sekarang adalah tindakan dari hati Bukan karena kasihan"
Ujar Bi dera membuat Allan yakin bahwa Bi dera jauh lebih memahami Violet.

     "Tapi Bik, Semua yang ku lakukan memang dari hati ku, Baik kemaren ataupun hari ini, baik saat dia Hilang ingatan atau sekarang setelah kejadian"

Bi dera Terdiam menghela nafas panjang sejujurnya Ia senang mendengar hal itu, Ternyata selama ini Allan tidak pernah ikut pura-pura ketika merawat violet yang sedang sakit.

    "Non Violet trauma mengingat Mu dengan Tyara itu jadi sekarang lakukan apapun untuk nya yang membuatnya yakin akan semua"

Allan tertunduk ia mengerti sekarang bahwa memang benar Semua kejadian atas kesalahannya. 

     "Viooo.... Buka pintunya Nak. Bibi ingin masuk, Ada telpon dari Nyonya Erina"

Allan sedikit mundur menjauh, Ia menunggu sampai Violet membuka pintu, dan benar saja gadis itu membuka pintunya.

Allan Menghela nafas panjang begitu sesak, Ia mencoba untuk mendengarkan apa yang Bik Dera bicarakan.

    "Tenang lah, Nak. Semua orang di Sini lagian Nak Allan itu suami mu, Milik mu, anggap saja dia gila kemaren. Anggap saja Dia hanya menguji Mu. Lihat lah dia Sekarang, Dia sudah berubah, Nak. Bibi mengenal nya dan mengasuhnya Sejak bayi jadi bibi paham Dengan Semua Sikap nya"

Ujar Bi dera pelan dan penuh hati-hati takut kata-kata nya menyinggung Violet.

    "Tidak Bi, Aku bersalah padanya Juga, Aku membohongi nya Hanya agar pernikahan ini bertahan tapi Bik, Entah kenapa Aku tidak bisa untuk melanjutkan semua. Aku terlalu egois untuk Nya, Aku Terjebak dalam Hubungan ini bik, Aku Benci semua ini"

    "Itu yang namanya CINTA Nak."

Sejenak hening tak bersuara. Allan merapat kan Telinga nya takut jika ada yang Tak ia dengar.

    "Cinta? Apa Maksudnya Aku sudah mencintai Nya?"

   "Hmm..... Kalau bukan cinta lalu apa lagi? Kau cemburu pada Tyara, Tapi kau juga harus tahu Nak. Hanya dengan mu Dia Melakukan 'itu'"

Bi dera yang di kamar mengusap air mata Violet yang kini justru terdiam, Violet mengerti maksud Bi dera.

    "Tapi aku terlalu sering melihat mereka bercumbu Bik"

    "Hanya bercumbu..... Tak bisa sejauh itu, Bibi yakin kan pada mu bahwa semua memang benar, Nak Allan Tidak pernah Melakukan hal itu pada Orang yang tidak ia cintai"

    "Tapi malam itu ia Tak lebih dari seorang Pemerkosa. Dia Memaksa ku Bi"

Allan Terduduk lemah mendengar itu, Ia memegangi dada nya untuk tidak menghambur masuk dan Memeluk violet, jelas sekali dari suara Violet kalau sekarang ia Tengah begitu Sakit hati.

    "Bertahun-tahun ia menjaga diri untuk tidak kebablasan, Bahkan ia menjaga diri tidak melebihi batas Pada Tyara. Bibi tahu bahwa wanita itu memaksa untuk hamil tapi nak Allan menolak, lantas kenapa dia Melakukan itu padamu Nak. Itu karena dia bingung harus bagaimana..... Dia bingung harus mulai dari mana. Bukankah malam Itu juga nak Allan Mabuk?"

     "Jangan lanjutkan bi, semua akan melukai ku"...

   "Kalian berdua memang sudah di takdir kan, Pernikahan ini sudah memang garis tangan Kalian. Sekarang hanya perlu berbaik hati untuk Menerima Nya. Nak Allan juga sudah cukup menderita, Dia hanya sekali cinta seumur hidupnya dan itu Hanya untuk mu, Nak"

Violet menatap wajah penuh keyakinan dari Bi dera, ia menangkap tidak ada Kebohongan di sana mungkin kah memang benar semua karena cinta. Violet menyeka air matanya.

   "Tapi Tyara itu, bukan kah dia kekasihnya...."

    "Sekarang Temui Nak Allan. Tanya semua nya sampai ia menjelaskan, bibi rasaa dia akan mengatakan Semua "

    "Bagaimana jika Dia Bilang sebaliknya bi." Gusar Violet tak yakin.

    "Bibi Akan Menjamin Semua yang ia katakan sama seperti yang bibi bilang, pergilah.... Dan...."

    "Tidak Bi. Aku takut " Violet menjauh memalingkan wajah nya.

    "Ya sudah bibi tidak akan memaksa. Oh yaa setelah hari ini Mungkin bibi akan Cuti, Bibi dan paman mu akan Kembali entah kapan. Telpon bibi jika butuh sesuatu."

Violet terkejut, Itu terdengar seperti keputusan berat, Kenapa tiba-tiba sekali Bi dera cuti itu artinya ia akan Berdua di rumah ini dengan Allan.
Karena Violet tahu bahwa Allan bahkan sudah memindahkan semua pekerja rumah. Mereka hanya akan datang di pagi hari dan pulang siang hari setelah pekerjaan selesai.
.
.
.
     Violet tak bisa membendung air mata Nya, Melihat Bi dera menaiki taxi Dengan koper Nya. Sementara Allan Ia berdiri jauh di belakang, Menatap datar ke arah mobil yang menunggu.
Menarik nafas dalam-dalam Kemudian pergi. Violet melihat hal itu, ia tahu jika Pria itu pasti juga sedang bersedih, Bi dera Sudah begitu dekat dengan keluarga bahkan menjadi orang kepercayaan Keluarga Juan.

      Malam yang gelap, Hening tak bersuara, Violet Merasa perut nya Sangat lapar memutuskan untuk pergi ke dapur apa ada makanan di sana. Dan baru saja membuka pintu, Tiba-tiba pintu di sebelah ikut terbuka di sana Allan juga baru keluar. Sesaat terjadi adu pandang.

     Duaaarrrrrr........
Aaaaaaahhhhhhhhhh

Violet terperanjat ketika suara petir menggelegar di langit, itu tandanya akan turun hujan. Violet jelas menjadi takut , biasanya ia akan Mengajak Lea datang atau bibi dera menemani nya jika Terjadi petir namun tidak kali ini.
Bi dera pergi dan Lea tak mungkin bisa datang karena Sudah sangat larut, terlebih Lea juga bilang kalau tengah menghadiri acara penting.

    Allan sangat mengerti melihat ketakutan Violet karena ia baru saja tahu bahwa Gadis itu Sangat takut petir.

     "Butuh sesuatu?"
Pertanyaan lolos dari mulut Allan membuat Violet gelagapan dan canggung.

    "Tidak"
Jawabnya singkat lalu pergi, Allan hanya mengikuti nya dari belakang. Ternyata tujuan mereka sama yaitu ke meja makan.

Tak ada makanan sedikit pun membuat Violet harus meneguk air putih saja. Ia tak suka makan apapun karena memang tak ada yang sudah di masak, Tidak mungkin juga ia Sendiri masak karena hari sudah sangat larut sementara di luar sana langit seolah bergendang memekakkan telinga.

Violet pergi dengan sebuah apel dan air mineral meninggalkan Allan yang juga berdiri bingung di sana.
.
.
.

HANYA KAMU  Go To [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang