.
.
.
"Mas, cepatlah.... Kau akan telat jika terus di kamar mandi, Arvin akan Marah pada mu nanti" suara Teriakan Violet dari arah Dapur. Tempat yang kecil apartemen Minimalis yang unik kini menjadi Tempat ternyaman dari pasangan muda Violet dan Allandra.
Sudah beberapa bulan mereka tinggal di sana mengajarkan banyak hal. Violet Mengajarkan suaminya itu bagaimana hidup Damai di lingkungan bermasyarakat, Bahkan Allan jadi tahu bagaimana susah nya air ketika Apartemen nya mengalami Pemadaman Air.
Tapi kehidupan keduanya menjadi sangat manis, setiap waktu di habiskan Hanya untuk bermesraan tak lebih dari pengantin baru.
Luka membekas di Perut perlahan sudah menghilang tapi luka di hati keduanya masih begitu tercetak.
Allan dengan kuasa nya membeli satu lantai apartemen hanya untuk Asisten Pribadi nya serta beberapa unit kamar untuk semua pekerjaan rumah. Tentu saja tak tinggal Lea dan Arvin yang harus ikut juga di dalam nya.
Violet tak bisa berkutik ketika mengetahui hal itu, Bahkan sebelum nya suaminya itu menyembunyikan semua dari nya namun akhirnya ketahuan juga. Sebenarnya tak masalah mengingat Allan juga tak bisa meninggalkan pekerjaan nya.
"Sayang bagaimana bisa Arvin Marah, Sekarang aku tanya dia yang Bos atau Suami mu ini hmmm" tangan besar Allan. Melingkar di pinggang Violet, wajah nya menyusup basah ke leher dan memberi kecupan di sana.
"Aku sudah menyiapkan kemeja di Ranjang, Bersiaplah untuk sarapan" ujar Violet menahan senyuman nya.
"Kalau sarapan nya Kamu bagaimana Sayang?" Tanya Allan membuat pipi Violet bersemu merah.
"Tidak ada, Jangan aneh-aneh ini masih pagi hmm"
"Memangnya kenapa kalau masih pagi, Lagian seminggu ini Datang bulan nya belum usai jadi Mas harus mati-matian di kamar mandi" ujar Allan Manja membuat Violet berbalik mencubit hidung Allan.
"Dokter bilang itu tidak baik, Lagian Kenapa tak tanya kalau Datang bulan nya apa sudah usai" ujar Violet membuat Allan berbinar.
"Itu artinya....." Violet melepaskan diri, ia Bergegas ke meja makan.
"Tidak ada artinya, hari ini harus ke kantor karena Arvin bilang Bos nya ini hanya terus bermalas-malasan di rumah "
Allan mendengus, Menggerutu mengutuk Sekretaris nya itu kenapa harus mengadukan semua pada istrinya.
"Mau sarapan ini boleh yaa" mata Violet Membelalak saat Allan menunjuk ke arah Payudara Nya.
Sesaat terjadi keheningan Violet ingat dengan jelas nasehat Bi dera bahwa kunci Suami bertekuk lutut adalah Menuruti kemauan nya.
"Hanya lima menit, tapi kan kenapa Mas suka itu, Ini kan belum ada susu Nya " Allan terkekeh langsung menggendong istrinya tersebut masuk ke kamar. Menutup rapat kamar yang begitu nyaman.
"Tapi Mas menyukai nya karena manis"
"Dasar mesum " sungut Violet namun Allan terkekeh langsung mengecup bibir istrinya itu kemudian membuka salah satu kancing baju Nya dan yaaaa....
.
.
.
"Hallo Lea ada apa?"
"Non Vio, apa terjadi sesuatu? Kenapa Bel tidak di jawab apa Non vio di dalam? Arvin menelpon bos Allan dari Setengah jam lalu tapi Bos tak juga menjawab katakan kalian di mana?" Mata Violet Membelalak lebar, ia mendorong Kepala Allan yang langsung mendengus kecewa.
"Mas, katanya lima menit ini sudah.... Ahhhh" violet menggerutu Namun Allan Tertawa. Menarik tubuh mungil istrinya tersebut menutup benda kesukaan nya itu ke dalam tempat nya lalu memberi kecupan sekilas.
"Maaf sayang rasanya aku ingin memakan' mu, Tapi Mas akan pergi, oh yaaa jangan lupa untuk memberi kabar apapun. Muahhhhhh Mas mencintai MU"
Satu kecupan lagi mendarat di bibir. Violet Mengangguk.
Allan membuka pintu mulai menjalankan drama nya dengan pura-pura baru bangun tidur. Agar Allan tak memarahi Nya, memang dia pemilik perusahaan tapi Arvin adalah Orang yang Sangat teliti, ia tak segan memarahi Bos nya itu jika Melakukan hal konyol dan semacamnya, terlebih hubungan mereka memang sudah terjadi lama sudah seperti keluarga.
"Bos boleh aku masuk?" Tanya lea yang juga sudah rapi
"Hmm... Dengar, Aku sudah mengirim pengawalan khusus buat kalian pergi, jangan lupa memberi kabar apapun"
Ujar Allan Memperingatkan. Violet yang datang Mendengus.
"Sudah pergi saja, Lagian Kami hanya Mengunjungi Toko Kue coklat dan belanja Bahan makanan kenapa sangat berlebihan"
"Tidak ada yang berlebihan kalau itu untuk kebagian Istriku"
"Mas. Berangkat lah hmm....."
Allan mengalah dan mengangguk, kemudian kembali ke mode si Allan berwajah Dingin.
.
.
.
"Lea apa ini cukup? Oh ya Bibi dera kenapa tidak bersama Kita?" Ujar Violet seraya mengambil Barang belanjaan untuk melengkapi stok makanan.
"Bibi dan Paman bilang cuti, Mereka kembali ke kampung mereka kemaren, Tuan Allan Yang mengizinkan mereka tapi Non vio sudah Tidur"
"Tumben sekali Mas Allan tidak mengatakan langsung"
"Bi dera sebenarnya ke rumah Nyonya Besar karena Tuan Retno masuk rumah sakit" mata Violet Membelalak, Ia menatap wajah Lea yang tertunduk.
"Kenapa kalian tak memberitahu ku?" Ujar Violet cemas.
"Tuan Allan melarang hal ini, Dia bilang Tak mau membuat mu sedih" ujar Lea hati-hati.
"Justru dengan tahu begini aku akan sangat sedih Lea., aku akan menghubungi mas Allan"
Lea mencegah namun Violet Marah mencari handphone nya.
Bagaimana bisa ia Mengabaikan mertua yang sangat ia Sayangi Itu pantas saja ia sering mendengar Allan bicara serius di telpon saat malam itu karena menelpon Ibu nya.
.
.
.
Violet Bergegas Memasuki mansion Mertua Nya. Di sana ia dengan wajah cemas mencari keberadaan mereka. Hingga Erina datang memeluk Nya mengatakan Bahwa semua baik-baik saja.
"Maaf karena Ibu yang meminta Allan menyembunyikan semua ini, Kami tak mau Jika harus membuat Mu sedih lagi Nak."
"Ibu, aku sangat sedih jika kalian melakukan hal ini"
"Ayah mu mengalami Drop setelah Di rumah sakit hati itu dimana Kami mengetahui semua Kejahatan yang Ameera lakukan"
Mata Violet Membelalak lebar, ia menoleh ke arah Ibu mertuanya tersebut karena Memastikan Apa Telinganya tak salah tangkap. Apa hubungan semua dengan Ameera.
"Ayah mu menantikan kehadiran cucu nya puluhan tahun hingga ia sangat bahagia saat tahu istri putranya Hamil. Kejadian itu merupakan sebuah kejutan Buruk bagi Nya. Ia menghukum Ameera tapi Karena Ameera Adalah kakak mu kami melepaskan nya terlebih Tuan loes dan Nilam Begitu menyayangi nya"
"Ayah mu sedang tidur, dia sudah Baik tapi hanya Sedikit selalu harus istirahat" Erina menutup pintu kamar.
"Apa lagi yang kalian tutupi dari ku Bu?" Tanya Violet dengan bibir bergetar, Mendengar hal itu Erina Baru sadar bahwa ia sudah bercerita akan hal yang tentu saja harus di tutup rapat.
"Jadi Penembakan itu di lakukan oleh Kakak ku?" Tanya Violet langsung membuat Erina memeluk Nya.
.
.
.
![HANYA KAMU Go To [END]](https://img.wattpad.com/cover/366126885-64-k301872.jpg)