Karya ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta no. 28 tahun 2014. Segala bentuk pelanggaran akan diselesaikan menurut hukum yang berlaku di Indonesia.
Pencipta Wulan Benitobonita / Luna S. Winterheart
Lima lokasi. Lima alamat.
Fonda menatap Cindaku yang duduk dengan gelisah di balik jeruji, tidak nyaman dengan kehadirannya yang ikut menempati ruangan itu.
Harimau adalah hewan teritorial dan kehadiran sosok lain memang akan menyebalkan bagi mereka.
Fonda menyeringai kala tidak ada suara geraman dari Cindaku. Mereka telah saling berkontak selama empat hari dan makhluk itu mulai lelah untuk terus menerus mengusirnya.
"Salahmu sendiri merusak tempat berlatih." Fonda mendengkus. "Kini, kita berdua hampir mati bosan akibat tidak ada kegiatan."
Mata biru Cindaku sontak berkilat. Pandangan mereka beradu sejenak sebelum makhluk itu membuang muka.
Fonda bersandar santai pada kursi putarnya. Dia mengamati uap yang mengepul dari pengharum ruangan. Cindaku tidak terpengaruh akan bau mawar dan lotus, sedikit menyukai bau jahe, dan agak kalem dengan bau teh hijau. Sepertinya dia menyukai bau rempah-rempah.
Fonda teringat saat dia mencukur janggut Cindaku. Bau samar krim yang dipakai makhluk itu memang menyerupai wangi vanilla. Mungkin besok waktunya mencoba aroma itu.
Dinding buatan mendadak terbuka dan Fonda segera menegakkan punggung, memperbaiki posisi duduk. Wanita itu menoleh ke arah Bastian yang melangkah masuk lalu bertanya, "Ada apa?"
"Ada informasi dari ruang latihan bahwa kubah transparan telah selesai diperbaiki."
Fonda menoleh ke arah jam dinding. Baru pukul sepuluh pagi.
"Baiklah!" Fonda mendadak bangkit dan membuat Cindaku tersentak. Dia mengamati Fonda dengan penasaran.
Keagresifan berkurang.
Fonda tersenyum kecil ke arah Cindaku yang mengawasinya dengan tatapan tajam. Wanita itu pun berkata dengan ramah. "Mari kita bermain di ruang latihan. Saya mengharapkan kamu bisa mengalahkan saya."
*****
"Waktu latihan Cindaku .... Waktu latihan Cindaku."
Fonda bersiap di belakang mesin. Wanita itu menekan tombol untuk membuka kapsul lift dari kandang Cindaku.
"D-Dokter Fonda, Anda harus mengaktifkan gambar visualnya dulu," ucap Ruben tergagap. Ruangan dalam kubah masih dilapisi lantai marmer putih dan kubah itu sendiri masih berwujud transparan, membuat makhluk di dalam dapat melihat langsung ke area luar.
Fonda mendengkus. "Cindaku sudah mengetahui bahwa kita berada di sini. Saya rasa sama saja mengaktifkan proyektor sekarang atau nanti."
"Y-ya, t-tapi b-binatang itu bisa langsung menyerang."
"Saya bersedia menanggung risikonya," balas Fonda sambil menyeringai. "Anda bisa berdiri lebih jauh untuk mengurangi risiko, meski saya tidak menyarankan Anda untuk keluar ruangan karena saya membutuhkan sandi untuk mengoperasikan mesin ini."
Cindaku tampak melangkah masuk, terlihat dari layar yang memantau isi kapsul. Makhluk itu dengan patuh memasang gelang rantai pada kedua tangan dan menguncinya.
Ruben mundur perlahan ketika lift kapsul mulai bergerak naik dari ruangan khusus di dalam kandang menuju lantai mereka. "D-Dokter Fonda, s-saya menyarankan agar Anda Mengaktifkan p-pemandangan. I-ini di luar kebiasaan."
Akan tetapi, Fonda hanya mendengkus meremehkan. Wanita itu menekan tombol hingga lift kapsul terbuka, membiarkan Cindaku berjalan keluar.
Mata biru itu langsung mengamati sekeliling sebelum gerakannya berhenti saat dia melihat para penontonnya. Cindaku kini menelisik para manusia yang berada di luar kubah transparan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengendalikan Cindaku [ Genma Series #2 ]
Fantasy"He died. She died. They died. We died." Fonda, seorang dokter hewan yang bekerja di Genma, organisasi terlarang yang telah melakukan eksprerimen ilegal untuk mengubah manusia menjadi makhluk mitologi, harus berjuang seorang diri dalam menghadapi pr...
![Mengendalikan Cindaku [ Genma Series #2 ]](https://img.wattpad.com/cover/364690651-64-k51700.jpg)