Anton menatap asa jug dengan garis melengkung yang sangat ceria. "Terimakasih juga, aku akan menyimpan hadiahnya dengan sebaik mungkin!".
Lalu mereka berdua kembali menghabiskan waktu bersama sambil menunggu terbenamnya matahari di lantai lamiron.
"Tunggu disini sebentar ya" Tiba-tiba anton beranjak dari posisi duduknya dan berlari menjauh entah kemana. Belum sempat asa bertanya, tapi larinya sangat cepat. Mau tidak mau gadis itu hanya menunggu apa yang akan anton lakukan saat kembali. Tak memakan banyak waktu, anton kembali dengan membawa 2 buah ice cream cup di tangannya.
Mereka menikmati sunset sembari memakan ice cream yang dibawa oleh anton tadi.
"Sebelumnya, apa kau sudah pernah ke pantai lamiron?" Tanya anton. Asa menggelengkan kepalanya.
"Menurut omongan orang-orang sekitar sini, lamiron itu adalah pantai paling romantis di bagian selatan ini. Dimana banyak sepasang kekasih yang datang untuk menghabiskan waktu bersama sambil memandangi indahnya matahari yang akan terbenam, pantai ini juga sangat terkenal akan kebersihannya yang luar biasa. Dan memang benar, menurutku pantai lamiron adalah tempat yang cukup romantis" Saat mendengar kalimat akhir itu, asa langsung beralih menatap anton, anton menyadari suatu hal dan bergegas menjelaskan.
"Maksudku untuk mereka sepasang kekasih yang sedang mencari tempat romantis, pantai lamironlah jawabannya".
Asa terkekeh.
"Aku pun setuju dengan pendapatmu. Ya, lamiron sangat indah, senang sekali bisa bertemu tempat yang indah ini. Dan ditakdirkan bertemu denganmu" Namun anehnya kalimat terakhir asa membuat anton melebarkan matanya, hatinya tiba-tiba berdegup sangat cepat dan kupingnya merah seperti tomat.
" Apa? Tunggu, maksud dia apa? Dia bahagia karena ditakdirkan bertemu denganku??!! " Isi pikiran anton sekaligus senyuman yang tidak kuasa dia tahan.
Sambil mengunyah ice cream, asa menoleh ke arah anton di sebelahnya. Dia menyadari kuping lelaki itu merah sekali.
"Eo, anton. Kupingmu merah".
"A-apa? Merah?" Anton meraba kupingnya berusaha menutupinya, dia merasa malu karena asa menyadari kupingnya yang merah seperti tomat itu. Anton jelas tahu betul mengapa hal itu bisa terjadi, sebab dia pernah di beritahu oleh shinyu apabila kuping seseorang merah artinya jantungnya sedang berdegup sangat cepat atau dia sedang tersipu malu.
Kedunya bercanda, tertawa, bercerita bersama hingga matahari tenggelam. Dan saat itulah tanda menunjukkan mereka harus kembali berpisah, seperti sebentar bagi mereka namun mau bagaimana lagi. Anton juga takut akan ketahuan oleh orang tuanya, dan asa juga khawatir dengan keluarganya.
"Rasanya seperti sebentar sekali, aku senang bisa mengobrol denganmu. Um, besok?" Tanya anton.
Asa mengangguk. "Ya, kapanpun kau mau. Aku akan selalu ada disini" Keduanya sama-sama memberikan senyuman hangat sebelum mereka berpisah. Anton berjalan berlawanan dengan asa sembari mengenggam hadiah pemberian asa tersebut, disini lain asa yang berjalan berlawanan juga dengan anton dilimputi senyuman yang tak kunjung berakhir. Dia tersipu malu, bahkan wajahnya pun juga merah merona.
Semakin seringnya keduanya bertemu membuat hubungan mereka juga semakin erat, anton sering menceritakan hal-hal seru dan lucu kepada asa yang membuatnya ikut merasakan sensasi tersebut. Dan anton juga lebih sering mencatat pelajaran di sekolah dan mengajarkannya kepada asa agar gadis itu setidaknya mengetahui pendidikan dari sekolah.
Lamanya pertemanan mereka sampai 2 bulan kemudian, anton dan asa jadi sangat-sangat dekat. Setiap harinya mereka bertenu di pantai lamiron. Mereka bahkan tidak ragu lagi menceritakan latar belakang masing-masing, selama ini asa takut untuk menceritakan keluarganya pada siapapun. Dia takut orang lain akan benci kepadanya dan akan menjauhinya. Dan asa sebagai anak sulung sangat butuh pendengar.
"Kau tahu, sebenarnya aku sangat senang karena sering disini bersamamu. Dirumahku sangat berisik, ayahku sering mabuk dan memukul bundaku. D-dia juga sering mengambil uang hasil lukisk, jadi aku sering diam-diam membeli makanan untuk kuberikan pada bunda dan 2 adik-adikku" Ucap asa. Anton sangat merasa kasihan pada latar kehidupan asa, dia tidak menyangka gadis seceria asa memiliki kisah hidup yang cukup menyedihkan.
"Tapi kau adalah anak sekaligus kakak yang baik bagi keluargamu, walau ada 1 orang yang tidak menghargaimu. Tapi masih ada 3 orang lagi yang percaya dan bangga kepadamu, 3 lebih baik bukan daripada 1?" Walau menurut anton ucapannya sangat tidak menghibur asa, tapi siapa sangka asa tertawa dengan ucapannya tersebut. Asa malah setuju.
Masih di pantai lamiron dan duduk di tepian pantai dengan ombak yang berdesiran, obrolan mereka masih terus berlanjut hingga menunggu sunset.
"Benar! Aku baru ingat, di lain waktu aku akan membawa cello dan akan memainkannya untukmu. Aku juga memiliki sebuah lagu baru spesial untukmu".
"Benarkah?!" Anton mengangguk dengan senyuman bangga. Dari ekspresi asa dia sangat menantinya.
"Baiklah, jangan lupa tunjukkan padaku ya!" Senyumnya.
.
.
.
Di kamar, anton terbaring di kasur empuknya sambil mendengarkan musik bernuansa anak remaja yang sedikit romantis. Dilirik itu berkata.
' Ada yang sedang jatuh hati tapi tidak menyadarinya '
' Dia sering berjumpa dengannya, berbicara dengannya, bercanda dengannya dan merasakan detak jantung yang berdegup cepat hingga kuping pipi merah merona '
' Tapi mengapa dia tidak juga mengatakan bahwa dia jatuh cinta kepadanya? '
Setiba saja saat mendengarkan lirik tersebut, anton merasa tersindir. Seolah-olah lagu itu sedang menyindirnya dan lirik itu cukup relate dengan apa yang sedang dia rasakan. Tapi anton masih tidak yakin bahwa dia jatuh cinta?.
Di pagi harinya tepatnya di sekolah, anton menghampiri shinyu.
"Shinyu, aku ingin bertanya".
Shinyu mengangguk tapi tatapannya masih fokus ke ponselnya.
"Jika ada seseorang yang terkadang jantungnya sering berdegup cepat dan kuping serta pipinya merah merona, apa itu yang di sebut jatuh cinta?" Tanyanya dengan hati-hati takut shinyu akan menyadari bahwa pertanyaan itu untuk anton sendiri.
Seketika shinyu menghentikan aktivitas bermain ponselnya dan beralih menatap anton dengan tatapan curiga.
"Yak! Kenapa kau menatapku seperti itu??!!".
"Menurut pengalamanku, kau tahu sendiri kan kalau aku-".
"Ya ya, aku sudah tahu kau pernah berkencan. Jawab saja pertanyaanku" Kesalnya.
Shinyu tersenyum malu-malu.
"Baiklah, menurutku jika dia seperti itu sudah sangat jelas sangat-sangat jelas sekali bahwa dia sedang jatuh cinta. Tunggu, tapi bodohnya sudah di beri pertanda mengapa dia tidak menyadarinya juga?" Kekeh shinyu.
"Begitu ya?".
Shinyu mengangguk.
Tidak pikir panjang anton bergegas lari keluar kelas secepat mungkin, shinyu hanya menggelengkan kepalanya tersenyum dan mengatakan.
"Anton, semoga kau berhasil dalam percintaanmu".
KAMU SEDANG MEMBACA
LAMIRON [pending]
Fiksi RemajaPantai lamiron, sebuah nama tempat dimana asa dan anton bertemu. Asa tidak menduga akan ada lelaki yang sangat begitu menyukai lukisannya, begitu juga dengan anton tidak menduga akan bertemu dengan seseorang yang sangat pandai dalam melukis. Anton m...
![LAMIRON [pending]](https://img.wattpad.com/cover/362637484-64-k726072.jpg)