.
Bagaimana rasanya terjebak di sekolah dengan berbagai peraturan aneh yang selalu berubah-ubah di setiap tahun ajaran baru? Itu yang dirasakan oleh semua siswa SMA Bakti Bangsa. Selain terjebak di sekolah tersebut, sialnya sebuah Circle bernama "Th...
"Dopamin, Norepinefrin, dan Serotonin menciptakan ketertarikan. Seperti aku yang tertarik padamu." _GENIUS CIRCLE
. .
"Kita bikin romantis bikin paling romantis sambil bermain mata turun ke hati hatinya jatuh."
"Kita bikin romantis yang paling romantis sambil gandengan tangan hati pelukan di angan syahdu."
Niat hati ingin diam tak ingin bicara dengan Akara, malah ia dibuat baper oleh cowok itu. Dengan menyalakan lagu berjudul Kita Bikin Romantis di dalam mobil itu, Akara memberikan sebuah buket bunga kepada Ayra.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tapi saya suka kamu, gimana dong?" Melihat ekspresi wajah Ayra yang tampak kesal, Akara terkekeh.
"Abanggg!!"
"Iya, sayang."
Tunggu, sepertinya jantung Ayra sepertinya sedang tidak normal. Melihat Akara yang tersenyum ke arahnya dengan mengusap puncak kepala cewek itu. Ma, jantung Ayra jedagjedug nggak karuan. Help me. Batin nya.
"Makasih ya, Bang."
"Sama-sama sayang. Dan ini...." Akara menggantung ucapannya. Cowok itu membuka kotak cincin yang sedari tadi digenggamnya.
"Bang, ini...." Ayra terkejut. Memang Akara sering kali memberi kejutan kepadanya. Tapi kali ini, Ayra tidak menyangka kalau Akara akan memberi hadiah berupa cincin.
Tangan cowok itu terulur untuk mengambil tangan kiri Ayra dan menyematkan cincin itu di jari manis Ayra. "Cantik. Kamu suka nggak?"
Dengan senyum yang masih belum luntur dari bibir cewek itu, Ayra menganggukkan kepalanya, bahkan pandangannya tak lepas dari cincin yang dipasangkan Akara tadi. "Suka, pas juga di jari aku. Makasih, Bang."
"Yang ini tetap pakai di tangan kiri aja ya, Ay? Biar yang di kanan cincin lamaran kita aja." Ayra menganggukkan kepalanya setuju.
"Ay, boleh saya minta satu hal?"
Ayra jadi berfikir, apa Akara meminta imbalan atas apa yang sudah cowok itu berikan kepada Ayra? Jangan sampai cowok itu meminta hal yang aneh-aneh. Meski sedikit ragu, Ayra tetap menganggukkan kepalanya. "Apa itu, Bang?"
"Bisa kamu ubah panggilan untuk saya?"
Ayra menghela nafas lega. Ia pikir Akara akan meminta hal yang aneh-aneh. Kalau hanya merubah nama panggilan untuk Akara saja sebenarnya Ayra tidak terlalu masalah. Tapi ia harus memanggil dengan sebutan apa? Mengingat perbedaan usia diantara mereka, tidak mungkin juga Ayra memanggil dengan sebutan "om." Yang ada bisa kena amuk.