Bismillahirrahmanirrahim
Chapter Dua nih, semoga kalian suka dan makin penasaran. Jangan lupa tinggalkan jejakmu, cantik, ganteng, salih, salihah.
"Allah akan mengabulkan doa orang yang berikhtiar."
Pukul 08.00 WIB.
Seorang gadis berabaya plum dengan pashmina hitam duduk termenung, asyik membaca buku di bandara sambil menunggu sahabatnya datang.
Tiba-tiba, dari kejauhan seseorang berlari kecil menghampiri—mengenakan dress selutut bermotif bunga dengan pita di rambutnya, menambah kesan cantik dan lucu.
“Qelaaa!” serunya dengan suara cepreng khasnya.
Aku spontan menoleh, lalu berdiri dan menyambut Lia dengan pelukan hangat.
“Liaaa! Aku kangen banget looo!”
“Samaa ihhh!” balasnya sambil tertawa kecil.
"Kamu mau cerita apa?" tanya Qeela, serius.
"Aku ketemu seseorang di bandara... tapi sepertinya dia nggak bisa kugapai, Qel. Dia ganteng, cool, dan kayaknya tipe aku," ucap Lia dengan nada sendu. Qeela terdiam sejenak, karena merasakan hal yang sama, tapi dia memilih diam tanpa bercerita.
Flashback on
Seorang laki-laki tinggi, sekitar 185 cm, berpakaian rapi, berjalan sambil membawa koper. Dia membenahi tatanan rambutnya yang tertiup angin. Namanya, Angkasa Ken Oscar Victor.
Bruk!
"Astagfirullah," ucap Ken.
"Maaf bang, saya tidak sengaja menabrak. Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Lia sambil mendongak, memastikan lelaki yang ditabraknya baik-baik saja. Namun, deg!
"Apakah dia jelmaan bidadara? Masya Allah, nyaris sempurna sekali ciptaan-Mu, ya Allah," batin Lia hingga tak mampu mengakihkan pandangnya pada lelaki itu yang terus menunduk . Dia merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya, tapi tak ingat di mana. Setelah lama mengamati wajah lelaki di depannya, lamunan Lia terhenti karena deheman pria tersebut.
"Ehem, saya baik-baik saja. Permisi. Assalamualaikum," ucap Ken tanpa melirik Lia. Tanpa dia sadari, gelang kayu yang biasa digunakannya untuk berzikir jatuh dari tangannya.
"Waalaikumsalam," jawab Lia sambil melihat Ken yang perlahan menghilang dari pandangannya. Lia tak bergerak hingga sosok itu benar-benar tak terlihat.
"Eh, ini punya laki-laki tadi kah? Aku simpan dulu. Nanti kalau ketemu, aku kembalikan," gumam Lia sambil mengambil gelang kayu yang jatuh. Pikirannya masih melayang pada kejadian barusan, membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Flashback off
"Oalaa, sepertinya sahabatku sedang mengagumi seseorang," canda Qela sambil menggoda Lia.
"Qela, jangan gitu!" Lia memegang pipinya yang sudah memerah.
"Tapi dia tuh cool banget, irit ngomong pula. Mungkin nggak ya, aku bisa ketemu lagi? Aku bahkan nggak tahu namanya," ucap Lia dengan nada putus asa.
"Lia, di dunia ini, kalau Allah berkehendak, nggak ada yang nggak mungkin. Jadi, jangan menyerah untuk mengejar cinta Sang Pencipta-Nya."
"Iya, Qel, insyaAllah aku akan memperbaiki diri."
"Tapi ingat, jangan berubah karena manusia. Berubahlah karena Allah. Kamu harus belajar dari kisah Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha. Allah menjauhkan Nabi Yusuf ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, tapi ketika Zulaikha mengejar cinta Sang Pencipta, Allah mendekatkan Yusuf kepadanya. Jadi, kejar dulu penciptanya, baru ciptanya. Jangan menyerah, oke?" Qeela tersenyum, meski sebenarnya dia juga sedang memotivasi dirinya sendiri.
"Iya, aye aye kapten! Makasih ya, Qel, kamu selalu ingetin aku walaupun aku kadang ga mundeng kalo kamu ingetin. Jangan berhenti saling mengingatkan, ya," ucap Lia sambil memeluk sahabatnya.
"InsyaAllah, Lia."
Dan terjadilah adegan Teletubbies berpelukan.
"Eh, Qel, tapi pemuda itu sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana ya? Wajahnya familiar banget," ucap Lia sambil berpikir keras.
"Mungkin kamu pernah bertemu sebelumnya."Ucapan itu membuat Lia berpikir keras mengingat apa pernah bertemu dengan pujaan hatinya sebelum pada pandangan pertama itu terjadi
Dua sahabat itu benar-benar menikmati waktu bersama. Sejak siang, mereka sudah menonton drakor, K-pop, membaca novel, maskeran, dan banyak lagi, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, waktunya tidur. Namun, sebelum itu, mereka tak lupa melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, yaitu shalat.
"Yuk tidur, nanti tahajudnya telat," ucap Lia berani mengingatkan. ♡♡♡
Di lain tempat, waktu menunjukkan pukul 22.00. Namun, beberapa pemuda ini masih berkumpul. Mereka bukanlah geng atau anak motor yang suka bikin onar. Mereka adalah kelompok Bridh, yang sedang mengadakan pertemuan.
"Nanti kita ada acara di Bandung, teman-teman. Tanggal 30 April, hari Ahad, jam 08.00 acaranya mulai. Zidan, lu yang ngisi ceramah, tema terserah, Ken, lu bawain shalawat bareng grup lu," ucap Kenzo, sekretaris geng Bridh.
"Oke, masih lama," jawab Zidan dan Ken santai.
Yang lain hanya ikut sebagai tamu undangan. Setelah pertemuan selesai, sebagian dari mereka pulang, yang lain bercanda, dan beberapa memilih tidur. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Di pojok kanan ruang tunggu, dua pemuda tampak melamun. Tatapan mereka kosong, seolah terjebak dalam pikirannya masing-masing. Sesekali salah satu dari mereka menarik napas panjang, sementara yang lain ,sibuk dengan kegiatan nya masing masing.
Keduanya diam cukup lama, tapi isi kepala mereka sama ,penuh tanda tanya tentang kejadian yang mereka alami.
Siapa sebenarnya wanita itu? batin mereka hampir bersamaan, tanpa saling tahu bahwa pikiran mereka tengah berjalan di jalur yang sama.
"Siapa wanita itu ya?" batin mereka serentak.
Suasana tiba-tiba riuh. Suara sorakan terdengar dari luar ruangan. Rico Palarendra, ketua geng The Month, menyerang markas Bridh dengan amarah membara.
"Zidan, keluar lo semua! Berani-beraninya lo bonyokin anggota gue!" teriak Rico dengan nafas terengah-engah.
"Ken, siapa di luar?" tanya Zidan, bingung. Ken hanya menggeleng, tanda tidak tahu. Zidan pun keluar bersama Ken, diikuti anggota lainnya yang ikut heboh.
"Ada apa ini?" tanya Zidan dengan tenang.
"Lo bonyokin anggota gue! Masukin rumah sakit!" ucap Rico dengan marah.
"Sejak kapan Bridh nyerang tanpa diserang?" Zidan menimpali dengan tenang, membuat Rico makin gusar.
"Gue tantang lo balapan besok malam di arena deket gedung tua. Kalo lo menang, masalah ini selesai," tantang Rico.
"Menarik, gue terima tantangan lo," jawab Zidan datar.
"UDAH PULANG LU SEMUA! JANGAN LUPA PAKE SALAM",ucap bobi dengan suara cemprengnya
"ASSALAMUALAIKUM",uacap mereka serentak lalu pergi meninggalkan markas Bridh
"Walaikumsalam "ucap geng Bridh serentak
Setelah itu, geng The Month pergi. Zidan dan Ken kembali ke markas.
♤♤♤
Pukul 03.00, alarm berbunyi. Qeela dan Lia terbangun.
"Lia, tahajud," ucap Qeela sambil mematikan alarm dan berdoa. Mereka melaksanakan tahajud berjamaah, Qeela sebagai imam.
Setelah shalat, keduanya berdoa dalam hati.
Ya Allah, hamba tahu rasa ini adalah anugerah-Mu. Jadikanlah aku hamba yang kuat untuk memelihara rasa ini, agar tidak melenceng dari jalan-Mu. Jika rasa ini adalah ujian bagi hamba, biarkan hamba melewati ujiannya. Aamiin.
Bagaimana, guys? Seru nggak ceritanya? Kalau ada kesalahan, mohon dimaafkan ya. Aku masih belajar menulis, nih. Jangan lupa vote dan follow!
Ig seylanania
KAMU SEDANG MEMBACA
Cool Boy
Teen FictionFolow gays bantu suport ! Tidak ada deskripsi ,kalo penasaran silahkan baca
