Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

04

361 21 3
                                        

Di ruang tamu keluarga Adhitama, suasana ramai oleh obrolan dan tawa teman-teman Damio. Mereka berkumpul untuk tugas kelompok, tapi suasananya lebih mirip tongkrongan malam minggu.

Bara yang baru pulang dari supermarket pun nyelonong masuk melewati mereka. Namun ada salah satu teman abangnya yang mencengahnya, dia adalah Jayn.

"Abis beli apa dek" Tanya nya basa-basi.

Bara menoleh dan menjawabnya dengan enggan, "Cuma snack, lu mau bang?" tawarnya kepada damio yang sedari tadi memperhatikan keduanya.

"Kaga, udah banyak noh" bara pun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dilantai atas, namun atensinya tak sengaja bertemu dengan sosok yang sangat amat dia kenal, dia tengah fokus dengan beberapa buku tebal di depannya. Apakah abangnya akrab dengan orang itu?

Bara hanya tersenyum miring sembari melanjutkan langkahnya, entah apa yang dia pikirkan selanjutnya.





__-

Malam sudah cukup larut. Teman-teman Damio masih di ruang tamu, sebagian besar sudah tertidur di karpet dan sofa. Hanya Nata yang masih terjaga, duduk di pojok ruangan dengan buku-buku terbuka di hadapannya. Tangan kanannya sibuk mencorat-coret, sedangkan mata kirinya sudah mulai sepet.

Langkah ringan terdengar dari arah tangga. Nata menoleh sekilas, cukup kaget saat melihat Bara—adik Damio—mendekat sambil membawa secangkir kopi.


Bara tanpa banyak bicara duduk di sampingnya. Diam. Hanya suara detak jam dinding dan napas pelan keduanya yang mengisi ruang.

“Ini buat lo. Masih lama?” tanya Bara sembari menyodorkan kopi panas.

“Hmm, iya. Makasih,” balas Nata cepat, suaranya agak serak. “Masih ada beberapa yang harus dirapihin.”

Bara mengangguk pelan. “Gue baru nyadar lo sekelas sama abang gue.”

Nata menghentikan tulisannya sejenak, menoleh ke samping. Bara sedang menatapnya—santai tapi tajam. Ia mengenakan piyama kelinci yang kebesaran, kontras dengan image-nya di sekolah yang brutal dan galak. Bahkan piyamanya dikancing asal, hingga bagian leher dan pundaknya sedikit terbuka, memperlihatkan kulit pucat yang memantul di bawah cahaya lampu temaram.

Nata buru-buru kembali menunduk, pura-pura fokus. Tapi pipinya panas.

Bara menyadari perubahan kecil itu. Sebuah senyum miring muncul di sudut bibirnya.

Perlahan, ia membuka satu lagi kancing piyamanya, lalu bersandar lebih dekat. Bahunya hampir bersentuhan dengan milik Nata. Aroma sabun dari tubuh Bara menusuk hidung Nata—lembut, tapi mengganggu konsentrasi.

Nata bisa merasakan panas tubuh Bara, bisa merasakan tatapan yang tak berpaling darinya. Dan Bara pun tahu, kehadirannya berhasil mengganggu.

Tak tahan dengan keheningan yang menegangkan ini, Bara tiba-tiba menyandarkan dagunya di pundak Nata—santai, seolah itu hal biasa. Nata langsung menegang.

“Apa lo selalu seserius ini kalo ngerjain tugas?” bisik Bara dengan nada rendah.

“Lo selalu seganggu ini?” balas Nata pelan, tanpa menatap.

Bara tertawa pelan, kemudian bergeser lebih dekat—terlalu dekat—hingga tiba-tiba ia duduk di pangkuan Nata. Gerakan kecil tubuhnya menimbulkan gesekan yang memancing reaksi naluriah dari keduanya. Nata mematung, tubuhnya kaku tapi tidak bergerak menjauh.

Nata tahu betul apa yang sedang terjadi dan siapa yang memulai, tapi yang mengejutkannya adalah respons tubuhnya sendiri. Ia seharusnya menolak, tapi justru... diam dan membiarkan.



“Lo...” Nata membuka mulut, tapi tak tahu kalimat apa yang bisa keluar.

Bara hanya mendekatkan wajahnya. “Apa?” bisiknya pelan, menggoda.

Nata hanya menatap mata Bara—yang penuh tantangan, tapi juga... rasa ingin tahu.

Untuk beberapa detik, waktu berhenti. Tidak ada yang bergerak, tidak ada suara. Hanya detak jantung yang memukul keras di dada masing-masing.


Nata hanya diam menggigit bibirnya, sungguh dia tau ini salah tapi tubuhnya tidak bisa di kondisikan, dia diam saja ikut menikmati permainan bara. Dasar lemah

Begitupun dengan bara, dia hanya mendesah tanpa mengeluarkan suaranya menikmati sesuatu yang mengeras di bawah sana. Inilah yang bara impikan selama ini, akhirnya fantasi sex nya perlahan terpenuhi.

"HOAAAMM .. emm mmm" dengan gelagapan bara menyingkir dari tubuh nata saat jayn meregangkan tubuhnya dan mengucek mata. Nata panik membetulkan posisinya, begitupun dengan bara yang dengan asal mengancing kembali piyama nya.

"udah jam berapa sih, belum kelar ya " Tanya jayn saat menyadari semuanya tertidur kecuali nata.

Nata menjawab dengan sedikit gugup, "cukup banyak, gak akan bisa selesai malam ini"

"Yaudah besok lagi aja deh" putus jayn pada akhirnya

Nata mengangguk setuju dan membereskan buku-buku nya, sementara jayn baru menyadari kehadiran bara di dekatnya.

"Eh dek lu juga disini?" Tanya jayn, bara bergerak mendekat ke arah abangnya yang tidur.

"iya, mau bangunin abang" jawabnya sekenanya.

Melihat hal itu nata dibuat heran, bara terlihat biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa tadi. Ternyata adek kelasnya ini cukup pandai mengendalikan diri dan situasi, tidak seperti dirinya.













BERSAMBUNG

HOPELESS || TaBarcode🔞Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang